Saudi Pimpin Negara-negara Arab Tentukan Masa Depan Gaza: Kontra sama Donald Trump!?

- Penulis

Senin, 17 Februari 2025 - 08:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, SEMARANG – Arab Saudi memimpin negara-negara Arab, menyusun rencana yang bertolak belakang dengan gagasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Upaya itu dilakukan untuk mendesak ‘geng Arab’ menentukan masa depan Gaza pascaperang.

Dilansir CNBC Indonesia (15/2/2025), sebanyak 10 sumber mengungkapkan bahwa Riyadh berupaya menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan dibandingkan rencana Trump, yang dinilai ingin “membersihkan” Gaza dari warga Palestina dan merelokasi mereka ke Yordania dan Mesir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gagasan ini mengejutkan negara-negara Arab, terutama Arab Saudi, Mesir, dan Yordania, yang memandangnya sebagai ancaman serius bagi stabilitas kawasan.

Sebagai tanggapan, negara-negara Arab kini berusaha mengajukan proposal alternatif, termasuk dana rekonstruksi yang dipimpin negara-negara Teluk dan upaya menyingkirkan Hamas dari struktur pemerintahan Gaza.

Seorang pejabat pemerintah Arab mengatakan bahwa setidaknya empat proposal telah disusun, dengan rencana Mesir yang kini menjadi pusat dari inisiatif Arab untuk menghadapi ide Trump.

Proposal Mesir: Pemerintahan Baru Tanpa Hamas

Menurut tiga sumber keamanan Mesir, proposal terbaru dari Kairo mencakup pembentukan komite nasional Palestina untuk memerintah Gaza tanpa kehadiran Hamas, partisipasi internasional dalam rekonstruksi Gaza tanpa perlu memindahkan warga Palestina keluar, dan langkah-langkah menuju solusi dua negara.

Proposal ini akan dibahas dalam pertemuan di Riyadh bulan ini, yang melibatkan Arab Saudi, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, dan perwakilan Palestina. Hasil diskusi ini kemudian akan diajukan dalam KTT Arab pada 27 Februari mendatang.

Menurut seorang pejabat Yordania, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), memainkan peran kunci dalam upaya ini.

Baca Juga :  Delegasi Indonesia Soroti Peluang Besar Koridor Trans-Asia di Era Sanksi pada Forum Logistik Rusia

“Kami mengatakan kepada Amerika bahwa kami memiliki rencana yang lebih realistis. Pertemuan dengan MbS sangat krusial karena dia yang memimpin inisiatif ini,” ujar pejabat Yordania tersebut, dilansir Reuters, Sabtu (15/2/2025).

MbS dikenal memiliki hubungan yang erat dengan Trump selama pemerintahan pertama sang presiden dan kini menjadi tokoh sentral dalam hubungan Arab-AS di era Trump yang baru.

Rekonstruksi dan Zona Penyangga di Gaza

Sumber-sumber regional menyebut bahwa rencana rekonstruksi untuk Gaza sudah dalam tahap lanjutan.

Beberapa poin utama dalam proposal Arab meliputi pembangunan zona penyangga dengan penghalang fisik untuk mencegah terowongan lintas batas Gaza-Mesir, serta pembersihan puing-puing dan pembangunan 20 zona pemukiman sementara.

Ada juga pelibatan 50 perusahaan dari Mesir dan luar negeri untuk mempercepat pembangunan kembali Gaza dan pendanaan dari negara-negara Teluk dan internasional, dengan kemungkinan menamainya sebagai “Trump Fund for Reconstruction” untuk mendapatkan persetujuan Washington.

Namun, menurut seorang pejabat Arab, tantangan terbesar adalah menentukan struktur pemerintahan dan keamanan di Gaza, terutama karena Israel menolak peran Hamas maupun Otoritas Palestina dalam mengelola wilayah tersebut.

“Memastikan Hamas tidak lagi berperan dalam pemerintahan Gaza adalah hal yang sangat krusial,” kata seorang pejabat Arab dan tiga sumber keamanan Mesir.

Hamas sendiri menyatakan siap melepas kendali atas Gaza kepada komite nasional Palestina, tetapi mereka ingin memiliki suara dalam penunjukan anggotanya dan menolak kehadiran pasukan asing di wilayah itu.

Meskipun tidak ada elemen baru dalam proposal ini, para pejabat Arab yakin bahwa rencana ini cukup solid untuk meyakinkan Trump dan dapat diterapkan pada Hamas serta Otoritas Palestina yang dipimpin Mahmoud Abbas.

Baca Juga :  Bara Timur Tengah, Paus Fransiskus: Konflik Berdarah di Timur Tengah Jangan Meluas

Arab Saudi vs AS Terus Meningkat

Ketidaksepakatan Arab Saudi terhadap rencana Trump sebenarnya sudah terjadi sebelum pengumuman resmi Washington.

Arab Saudi berulang kali menegaskan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel hanya bisa terjadi jika ada jalur jelas menuju pembentukan negara Palestina.

Namun, ketika Trump mengindikasikan bahwa kesepakatan normalisasi dapat berlangsung tanpa solusi dua negara, ketegangan pun meningkat.

Sehari sebelum pengumuman Trump, seorang pejabat AS menyatakan, “Arab Saudi akan sangat membantu dalam proses ini.”

Komentar ini bertolak belakang dengan realitas di Riyadh. Seorang sumber yang dekat dengan lingkaran kerajaan mengatakan bahwa Pangeran MbS sangat tidak senang dengan rencana Trump.

“Dia tidak senang,” ujar sumber tersebut.

Ketidakpuasan Arab Saudi segera terlihat dalam liputan media nasional yang mengkritik kebijakan Israel secara tajam.

“Mereka sangat marah,” kata analis Saudi, Aziz Alghashian. “Ini bukan sekadar frustrasi biasa, tapi kemarahan yang berbeda level.”

Beberapa pengamat menduga bahwa Trump menggunakan taktik negosiasi ekstrem, seperti yang pernah ia lakukan dalam kebijakan luar negeri sebelumnya.

Namun, dampaknya tetap memperumit pembicaraan normalisasi antara Saudi dan Israel.

Mantan kepala intelijen Saudi, Pangeran Turki al-Faisal, menyatakan dalam wawancara dengan CNN bahwa jika Trump mengunjungi Riyadh, “Dia akan mendapatkan banyak kritik dari para pemimpin di sini.”

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan pembicaraan normalisasi dengan Israel akan berlanjut, ia menjawab: “Sama sekali tidak.” (Red/ sumber: CNBC Indonesia)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB