Jangan Gagal Paham, Ini Makna di Balik Istilah ‘Kandang Banteng’

- Penulis

Jumat, 29 November 2024 - 07:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng telah usai. Berdasarkan hasil perhitungan cepat, sejumlah lembaga survei menunjukkan Luthfi-Yasin mengoleksi hingga lebih dari 55% suara.

Sedangkan kompetitor yang diusung PDIP, yakni Andika Perkasa-Hendrar Prihadi (Andika-Hendi) meraup kisaran 40-45% suara.

Netizen kemudian mencap “Kandang Banteng” telah roboh, jebol, atau kebobolan. Ada pula yang menyebut, ‘Jawa Tengah ganti kelir’, dan lain sebagainya. Ya, begitulah politik. Seru!

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantas, apa maksud istilah ‘Kandang Banteng’?

Dilansir BBC (11/11/2024), peneliti senior dari BRIN, Prof Lili Romli, mengatakan istilah ‘kandang banteng’ sebenarnya merujuk pada pusat kekuatan pendukung PDIP, seperti di Jawa Tengah, Bali, Sumatra Utara, dan beberapa wilayah lainnya.

Romli mengatakan, dominasi PDIP di kandang banteng itu secara historis tak lepas dari kedekatan personal Sukarno dengan masyarakat di sana.

Contoh, kedekatan antara Sukarno dan Bali salah satunya dipengaruhi oleh Ida Ayu Nyoman Rai, ibu Sukarno yang merupakan bangsawan dari Pulau Dewata.

Sementara di Sumut, tepatnya Berastagi dan Parapat, pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno pada awal kemerdekaan.

Jangan lupa, bahwa faktor penting lain adalah peran Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Sukarno pada 1927.

PNI Alat Perjuangan Kemerdekaan

“PDIP dianggap sebagai kelanjutan dari PNI. Wilayah-wilayah yang dulu menjadi basis kekuatan PNI kini disebut dengan istilah kandang banteng bagi PDIP, “kata Romli.

PNI, partai politik pertama yang beranggotakan etnis Indonesia ini, menjadi alat bagi Sukarno dan kawan-kawannya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :  Siap Menang Mutlak di Kendal, Cagub Nomor 1 Andika Perkasa Gelar Safari Politik Bareng Mbak Tika

M.C. Ricklefs dalam bukunya berjudul “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008”, menyebut PNI yang berideologi nasionalisme ‘sekuler‘ memiliki daya tarik yang sangat besar bagi masyarakat ‘Islam Abangan’ terutama di daerah pedesaan Jawa, seperti Jawa Tengah.

Itu karena PNI dianggap sebagai partai Sukarno, sekaligus pengimbang atas kekuatan politik Islam saat itu.

“Demikian pula, PNI mendapat banyak dukungan di daerah-daerah Kristen di luar Jawa dan di Bali yang menganut agama Hindu, yang juga terdapat sentimen-sentimen anti-Islam,” tulis Ricklefs.

Sejarah Kemenangan ‘Partai Banteng’

PNI memenangkan Pemilu 1955 dengan perolehan 8,4 juta suara (22,3%), di atas Masyumi, NU, PKI, dan partai lainnya.

Saat itu, Masyumi adalah partai terkuat di luar Jawa, sementara di Bali dan daerah-daerah Kristen dikuasai PNI.

Sedangkan, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, posisi PNI unggul 32%, dibanding NU 30% dan PKI 27%, sedangkan Masyumi hanya 12%.

Meski begitu, PNI disebut mengalami masa senja di bawah rezim Orde Baru.

Pada Pemilu 1971, misalnya, PNI hanya memperoleh 6,9% suara nasional, dengan hasil terbaiknya sebesar 19,5% di Jawa Tengah. Sementara Golkar mendominasi dengan 62,8% suara.

Pada 1973 dalam rangka membatasi jumlah parpol, Presiden Soeharto melebur PNI dengan partai-partai non-Islam (seperti Murba, Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia, dan IPKI) menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Baca Juga :  Mengenang Peristiwa Kudatuli: Sabtu Kelabu dalam Sejarah Politik Indonesia

Sejak itu, PDI hanya menjadi pelengkap dalam dominasi politik ‘otoriter’ Soeharto.

Maka, pascakejatuhan Soeharto dan konflik internal yang berkepanjangan menggelayut di tubuh PDI, Megawati Sukarnoputri lalu mengubah nama PDI menjadi PDI Perjuangan (PDIP).

Ciri khas PDIP adalah lambang banteng bermata merah dan bermoncong putih.

PDIP yang lekat dengan corak nasionalis Sukarno menjadi peserta pemilu 1999 dan keluar sebagai juaranya. PDIP memperoleh 35,6 juta suara, atau 33,74% dari 48 partai yang berpartisipasi.

Namun dalam dua pemilu berikutnya, PDIP kalah dari Golkar dan Demokrat. Baru, setelah melewati dua kali pemilu PDIP mencetak ‘hattrick’ kemenangan.

Kemenangan itu terjadi misalnya pada pemilu legislatif 2014, 2019 dan 2024. Khusus pada Pemilu 2024, berdasarkan hasil rekapitulasi nasional Pileg 2024, PDIP meraih suara sebanyak 25.387.279 (16,72%). (detik.com)

Sementara hasil penetapan KPU Provinsi Jawa Tengah menunjukkan perolehan suara PDI-P untuk DPRD juga meraih suara terbanyak.

PDIP mampu mengantungi 5.270.261 suara dari total suara sah 19.823.032. PDIP juga unggul di 12 daerah pemilihan dari 13 dapil untuk DPRD Provinsi.

Partai berlogo banteng moncong putih itu hanya kalah di satu wilayah yakni dapil XIII yang dimenangi PKB. (Kompas).

Khusus dalam kontestasi Pilgub Jateng 2024 ini, calon yang diusung PDIP Andika-Hendi memang harus ‘tunduk’ melawan gempuran koalisi belasan partai, yang disupport secara terbuka oleh mantan Presiden Jokowi dan juga Presiden Prabowo. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB