Ngeri! Sekolah di New Delhi Tutup Akibat Kabut Asap yang Lebihi 60 Kali Batas WHO, Bagaimana dengan Jakarta?

- Penulis

Selasa, 19 November 2024 - 07:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seekor merpati bertengger di atas tiang lampu lalu lintas yang diselimuti kabut asap tebal di New Delhi, India, Kamis, 14 November 2024. (Foto: Manish Swarup/AP)

Seekor merpati bertengger di atas tiang lampu lalu lintas yang diselimuti kabut asap tebal di New Delhi, India, Kamis, 14 November 2024. (Foto: Manish Swarup/AP)

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Kabar tak sedap datang dari Ibu Kota India, New Delhi. Akibat kabut asap beracun yang melampaui 60 kali batas harian maksimum sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), New Delhi menutup sekolah.

Pemerintahan New Delhi mengeluarkan kebijakan dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke kelas daring mulai Senin (18/11) hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Di satu sisi, pemerintah India telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah tersebut secara bertahap namun belum menuai hasil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyebab Tingginya Angka Kematian

Selama ini kabut asap disebut sebagai biang keladi atas ribuan kematian dini setiap tahun, yang juga berdampak buruk pada kesehatan, terutama bagi anak-anak dan orang tua.

Baca Juga :  Mengukur Kekuatan Ekonomi BRICS: Kuat Mana Dibanding Negara G7?

Dilansir VOA, tingkat polutan PM2.5, partikel mikro penyebab kanker yang berbahaya dan dapat masuk ke aliran darah melalui paru-paru, mencapai puncaknya pada 907 mikrogram per meter kubik pada Senin (18/11) pagi, menurut pemantau polusi IQAir. WHO mengkategorikan angka yang melebihi 15 dalam 24 jam sebagai kondisi yang tidak sehat.

Sejumlah stasiun pemantau lainnya bahkan mencatat tingkat yang lebih tinggi, satu stasiun mencatat polutan PM2.5 mencapai 980, yang 65 kali lipat dari batas maksimum yang ditetapkan WHO.

Baca Juga :  Timur Tengah Makin Membara! Kini, AS Blak-blakan Serang Iran

Kabut asap pekat berwarna abu-abu dan menyengat menyelimuti kota. IQAir mencantumkan kondisi itu sebagai “berbahaya”.

New Delhi diselimuti kabut asap beracun setiap tahun, terutama disebabkan oleh pembakaran jerami oleh petani di daerah sekitarnya untuk membersihkan ladang mereka, serta polusi dari pabrik dan lalu lintas kendaraan.

Sebuah laporan dari The New York Times bulan ini, yang didasarkan pada sampel yang dikumpulkan selama lima tahun, mengungkapkan bahwa asap berbahaya juga berasal dari pembangkit listrik yang membakar tumpukan sampah di TPA kota. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB