Atasi Limbah Non Organik yang Menumpuk, Warga Pulosari Bersama KKN UIN Walisongo Mendaur Ulang Sampah Plastik Jadi Ecobrik

Warga Pulosari diajak mengolah sampah plastik menjadi ecobrick yang dapat dimanfaatkan sebagai kursi dan meja sekaligus berpotensi bernilai ekonomi

- Penulis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, DEMAK — Persoalan sampah plastik menjadi perhatian warga Desa Pulosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak.

Selama ini, sampah rumah tangga yang sebagian besar berupa plastik hanya dikumpulkan untuk kemudian diangkut petugas sampah.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang bersama warga Pulosari menggelar kegiatan pembuatan ecobrick, Sabtu (22/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan ini menjadi upaya mengubah sampah plastik menjadi barang yang dapat dimanfaatkan kembali.

Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai bahaya sampah plastik yang sulit terurai. Mahasiswa KKN kemudian mengajak warga mempraktikkan pembuatan ecobrick secara bersama-sama.

Anggota KKN UIN Walisongo, Siti Vitia, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari persoalan pengelolaan sampah plastik di Desa Pulosari.

“Desa Pulosari memang terlihat bersih, tetapi pengelolaan sampah plastik selama ini dirasa masih kurang efektif karena sampah hanya diambil oleh petugas lalu ditumpuk di tempat pembuangan. Tentu itu belum cukup untuk mengakhiri permasalahan dari sampah plastik dan bisa saja akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari” Ujar Vitia.

Baca Juga :  Bongkar Gimmick Tokoh Politik, Seminar FISIP Unwahas Kupas Tuntas Fakta di Balik Media Sosial

Anggota KKN lainnya, Nikmatus Sania, mengatakan sampah plastik masih menjadi bagian besar dari sampah rumah tangga yang dihasilkan setiap hari.

“Kami berharap sampah plastik bisa lebih bermanfaat dan tidak terus menumpuk di tempat pembuangan sampah,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, warga tidak hanya mendapat pemahaman mengenai sampah plastik. Mereka juga terlibat langsung dalam proses pembuatan ecobrick.

Hasilnya kemudian dimanfaatkan menjadi kursi dan meja. Namun, proses pengolahan masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Sampah plastik harus dipotong secara manual dengan waktu yang cukup lama karena tidak adanya mesin pencacah.

Nikmatus berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut setelah program KKN selesai. Menurutnya, warga dapat mengembangkan pembuatan ecobrick secara mandiri dengan dukungan fasilitas yang memadai.

“Semoga Pulosari menjadi salah satu desa dengan program pemanfaatan sampah plastik yang berkelanjutan. Ke depan, ecobrick yang dibuat juga diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Salah satu warga Desa Pulosari, Fahry Nurdiansyah, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai ecobrick dapat menjadi alternatif untuk mengurangi sampah plastik di lingkungan desa.

Baca Juga :  Penerimaan Mahasiswa Baru FISIP: Prodi Sosiologi dan Prodi Ilmu Politik Terakreditasi Unggul

“Bagus karena dengan ini sampah-sampah yang ada di Desa Pulosari, terutama sampah plastik, dapat berkurang,” ujar Fahry.

Fahry mengatakan pengelolaan sampah di lingkungannya selama ini belum sampai pada tahap pengolahan. Sampah hanya dikumpulkan dan diambil petugas dua kali dalam seminggu.

Ia pun tertarik melanjutkan pembuatan ecobrick setelah kegiatan tersebut. Menurutnya, ecobrick tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi.

“Harapannya ecobrick yang sudah dipelajari dan dibuat bersama-sama hari ini tidak hanya berhenti di sini dan sekadar mengurangi sampah plastik hari ini, tetapi juga bisa memunculkan nilai ekonomi di kemudian hari,” katanya.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi warga Pulosari untuk mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, ecobrick tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit
Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok
Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha
Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung
Tingkatkan Mutu Produk Olahan, Tim Pengabdian UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Sambal Pecel “Lestari” Blitar
Modernisasi Produksi Telur Asin di Tulungagung, Alat Pencuci Berbasis Riset Bikin UMKM Makin Efisien
Dorong UMKM Naik Kelas, Akademisi UPN Veteran Jawa Timur Kenalkan Oven Multitray dan Kemasan Baru di Bolu “Bu Pur”
Berita ini 36 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 05:53 WIB

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 11:41 WIB

Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit

Rabu, 9 September 2026 - 17:39 WIB

Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok

Selasa, 8 September 2026 - 18:53 WIB

Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha

Senin, 7 September 2026 - 22:34 WIB

Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB