Kemenko PM dan UNWAHAS Bongkar Tantangan Desa di Jateng: Simposium Berujung Komitmen Kerja Sama

Simposium Nasional Kemenko PM dan UNWAHAS mempertemukan pemerintah, akademisi, dan pemerintah daerah untuk memperkuat strategi pemberdayaan desa. Penandatanganan LoI menjadi langkah awal menuju kerja sama yang lebih konkret

- Penulis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pemberdayaan masyarakat desa tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah. Perguruan tinggi juga dituntut turun tangan, membawa pengetahuan, riset, dan gagasan agar pembangunan desa tidak berhenti pada kebijakan di atas kertas.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Simposium Nasional “Pemberdayaan Masyarakat Desa di Jawa Tengah” yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS), Kamis (20/8).

Digelar di Meeting Room Gedung KH Sholeh Darat, Kampus 1 UNWAHAS, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk membahas sekaligus memperkuat strategi pemberdayaan masyarakat desa di Jawa Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Simposium diikuti unsur Kemenko PM, pimpinan dan sivitas akademika UNWAHAS, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta Pemerintah Kota Semarang.

Tak Sekadar Diskusi, Kemenko PM dan UNWAHAS Teken LoI

Ada satu momen penting yang turut mewarnai simposium tersebut. Di sela-sela rangkaian kegiatan, Kemenko PM dan UNWAHAS melakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) sebagai bentuk komitmen awal untuk memperkuat kolaborasi kedua lembaga.

Penandatanganan LoI ini menjadi penanda bahwa pertemuan pemerintah dan perguruan tinggi tidak berhenti pada pertukaran gagasan di ruang diskusi. Kedua lembaga membuka ruang kerja sama yang lebih konkret dalam mendukung agenda pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai bentuk kerja sama ke depan, khususnya dalam pengembangan pengetahuan, kajian akademik, pendidikan, serta keterlibatan perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa.

Dengan adanya LoI, simposium sekaligus menjadi momentum untuk membangun fondasi kerja sama yang lebih terarah antara unsur pemerintah dan perguruan tinggi.

Kampus Tak Cukup Hanya di Ruang Kelas

Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Daerah Tertentu, Dr. Amin Mudzakkir, yang hadir mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.Sc., menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam agenda pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga :  Open House dan Pesta Santo Pelindung: "Grow in Faith, Excellence in Science"

Menurutnya, kampus memiliki sumber daya pengetahuan dan akademik yang dapat digunakan untuk membantu pemerintah sekaligus masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan desa.

“Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pengembangan pengetahuan, kajian akademik, pendidikan, serta keterlibatan sivitas akademika di tengah masyarakat,” ungkap Amin.

Di sisi lain, pemerintah memiliki posisi strategis dalam memastikan berbagai kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat berjalan secara terarah serta benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat desa.

Dengan kata lain, pemerintah memiliki instrumen kebijakan, sementara perguruan tinggi memiliki kekuatan pengetahuan. Jika keduanya bertemu, ruang kolaborasi untuk menjawab persoalan desa menjadi semakin terbuka.

UNWAHAS Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Akademisi

Wakil Rektor I UNWAHAS, Dr. H. Nur Cholid, M.Ag., M.Pd., mengatakan simposium tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan perspektif pemerintah dan akademisi dalam membangun dialog yang konstruktif mengenai pemberdayaan masyarakat desa di Jawa Tengah.

“Pelibatan unsur pemerintah daerah, dosen, mahasiswa, dan pemangku kepentingan perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas ruang kolaborasi sekaligus memperkuat keterhubungan antara kebijakan, pengetahuan, dan praktik pemberdayaan masyarakat,” kata Cholid dalam sambutan pembukaan.

Menurutnya, kolaborasi tersebut penting karena persoalan masyarakat desa tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan kebijakan. Dibutuhkan pula riset, pendampingan, inovasi, serta keterlibatan langsung berbagai pihak.

Karena itu, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengambil peran lebih aktif dalam mendukung agenda pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa.

“Dengan sinergi tersebut, perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat mengambil peran lebih aktif dalam mendukung agenda pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa,” tambahnya.

Empat Narasumber, Dua Perspektif Besar

Simposium menghadirkan empat narasumber yang mewakili perspektif pemerintah dan perguruan tinggi.

Baca Juga :  Matsama MTs Darul Hasan Polokarto: Bekal Siswa Baru dan Upaya Kuatkan Karakter Pelajar NU

Dari unsur pemerintah, hadir Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Dr. Achmad Maulani, serta Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Daerah Tertentu, Dr. Amin Mudzakkir.

Sementara dari kalangan akademisi UNWAHAS, hadir Zudi Setiawan, S.IP., M.Si., akademisi muda Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim, serta Harun Ni’am, S.IP., M.Si.

Kehadiran empat narasumber tersebut membuat pembahasan tidak berhenti pada perspektif kebijakan. Diskusi juga mempertemukan pendekatan akademik dengan realitas pemberdayaan masyarakat di lapangan.

Perspektif pemerintah diperlukan untuk melihat arah kebijakan dan program pemberdayaan. Sementara perspektif akademisi dapat memperkaya pembahasan melalui riset, teori, kajian kritis, dan pengalaman pendampingan masyarakat.

Kehadiran unsur pemerintah daerah juga menjadi bagian penting dalam simposium. Pemerintah daerah berada pada posisi yang dekat dengan masyarakat sehingga memiliki pemahaman terhadap kebutuhan dan karakter persoalan di masing-masing wilayah.

Pertemuan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi diharapkan mampu memperkecil jarak antara kebijakan dengan kebutuhan masyarakat.

Sebab, pemberdayaan masyarakat desa pada akhirnya bukan sekadar tentang menjalankan program, tetapi bagaimana memastikan masyarakat memiliki kapasitas, akses, kesempatan, dan ruang untuk menentukan arah pembangunan di wilayahnya sendiri.

Dari Simposium Menuju Kolaborasi Nyata

Simposium Nasional “Pemberdayaan Masyarakat Desa di Jawa Tengah” diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi sehari.

Penandatanganan LoI antara Kemenko PM dan UNWAHAS menjadi salah satu langkah awal untuk menerjemahkan gagasan dan diskusi dalam forum tersebut ke dalam agenda kerja sama yang lebih konkret.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan dalam bentuk riset, pendidikan, pendampingan, pertukaran pengetahuan, maupun program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, tantangan pembangunan desa membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah. Dibutuhkan sinergi antara kebijakan, pengetahuan, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kekuatan masyarakat agar desa benar-benar tumbuh berdaya dan berkelanjutan (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit
Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok
Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha
Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung
Tingkatkan Mutu Produk Olahan, Tim Pengabdian UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Sambal Pecel “Lestari” Blitar
Modernisasi Produksi Telur Asin di Tulungagung, Alat Pencuci Berbasis Riset Bikin UMKM Makin Efisien
Dorong UMKM Naik Kelas, Akademisi UPN Veteran Jawa Timur Kenalkan Oven Multitray dan Kemasan Baru di Bolu “Bu Pur”
Berita ini 22 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 05:53 WIB

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 11:41 WIB

Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit

Rabu, 9 September 2026 - 17:39 WIB

Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok

Selasa, 8 September 2026 - 18:53 WIB

Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha

Senin, 7 September 2026 - 22:34 WIB

Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB