Oleh: Didik T. Atmaja, peneliti pada Sino-Nusantara Institute
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Politik selalu punya cara untuk membuat publik penasaran. Belum ada keputusan, belum ada deklarasi, tetapi rumor sudah berlari lebih cepat daripada fakta.
Begitu pula ketika nama Hendrar Prihadi atau Hendi dikaitkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Seketika ruang-ruang diskusi dipenuhi berbagai spekulasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada yang menganggap isu itu mustahil karena Hendi adalah kader yang tumbuh dan besar bersama PDI Perjuangan. Namun, tidak sedikit pula yang menilai perpindahan tersebut justru masuk akal jika membaca arah perkembangan politik nasional.
Sampai hari ini, tentu saja semua itu masih sebatas dugaan. Hendi telah menegaskan dirinya masih menjadi kader PDIP dan menyebut isu kepindahannya sebagai kabar yang tidak benar.
Dalam konteks jurnalistik, bantahan tersebut harus dihormati sebagai fakta yang berlaku saat ini. Namun, sebuah opini tidak berhenti pada fakta permukaan. Tugas opini adalah membaca gejala, memahami kecenderungan, lalu menawarkan cara pandang yang lebih luas terhadap sebuah peristiwa.
Dalam politik, perpindahan elite bukanlah fenomena baru. Angelo Panebianco (1988) menjelaskan bahwa partai politik modern tidak hanya dibangun atas dasar ideologi, tetapi juga merupakan organisasi yang berorientasi pada distribusi dan perebutan kekuasaan.
Ketika konfigurasi politik berubah, mobilitas elite menjadi konsekuensi yang hampir tidak terhindarkan. Jika menggunakan perspektif tersebut, munculnya nama Hendi dalam berbagai spekulasi sesungguhnya bukan sesuatu yang mengejutkan.
PSI saat ini sedang berada pada fase ekspansi. Partai yang selama ini dikenal dekat dengan Presiden Joko Widodo itu membutuhkan lebih banyak figur yang memiliki pengalaman pemerintahan, rekam jejak elektoral, sekaligus jaringan politik yang kuat.
Di Jawa Tengah, stok tokoh dengan kombinasi modal seperti itu tidak banyak. Hendrar Prihadi termasuk salah satu di antaranya. Sebaliknya, dari sudut pandang seorang politisi, pilihan kendaraan politik sering kali tidak hanya ditentukan oleh loyalitas, tetapi juga oleh peluang.
Schlesinger (1966) melalui teori Political Ambition menjelaskan bahwa setiap politisi pada dasarnya memiliki dorongan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan karier politiknya.
Ketika ruang berkembang di organisasi lama mulai terbatas, muncul kecenderungan untuk mencari jalur alternatif yang dianggap lebih menjanjikan.
Apakah kondisi itu sedang dialami Hendi? Tidak ada bukti yang dapat memastikan demikian. Akan tetapi, teori tersebut membantu menjelaskan mengapa isu perpindahan elite selalu tampak masuk akal dalam politik modern.
Di sisi lain, keputusan berpindah partai tidak pernah semudah mengganti kartu anggota. Ada modal politik yang dipertaruhkan. Pierre Bourdieu (1986) menyebutnya sebagai symbolic capital, yaitu reputasi, legitimasi, dan kepercayaan yang dibangun melalui proses panjang.
Hendi dikenal publik sebagai salah satu wajah PDIP di Jawa Tengah. Identitas itu melekat bukan hanya pada dirinya, tetapi juga dalam ingatan kolektif para pemilihnya.
Artinya, apabila suatu hari benar-benar terjadi perpindahan, tantangan terbesar bukan sekadar mengenakan seragam partai baru, melainkan memastikan bahwa modal simbolik yang selama ini dimiliki tetap ikut berpindah.
Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua politisi berhasil melakukan transisi tersebut. Yang menarik, rumor mengenai Hendi justru memperlihatkan perubahan karakter demokrasi Indonesia.
Jika dahulu loyalitas kepada partai dianggap sebagai ukuran utama seorang kader, kini publik semakin terbiasa melihat perpindahan elite sebagai bagian dari strategi politik.
Katz dan Mair (1995) bahkan menjelaskan bahwa perkembangan partai modern mendorong organisasi politik menjadi semakin pragmatis dalam merekrut figur yang memiliki daya tarik elektoral. Popularitas sering kali lebih cepat menghasilkan suara dibanding proses kaderisasi yang panjang.
Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi apakah Hendrar Prihadi akan bergabung dengan PSI. Jawaban atas pertanyaan itu hanya diketahui oleh Hendi sendiri dan waktu yang akan membuktikannya.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: mengapa masyarakat begitu mudah mempercayai rumor tersebut?
Barangkali jawabannya sederhana. Politik Indonesia sedang berubah. Batas antara ideologi, loyalitas, dan kepentingan politik semakin cair.
Dalam situasi seperti itu, setiap perpindahan elite selalu terasa mungkin, bahkan ketika belum ada satu pun keputusan yang benar-benar diambil.
Mungkin, arah mata angin politik Hendrar Prihadi masih tetap mengarah ke rumah lamanya. Namun, rumor yang berembus hari ini mengingatkan kita bahwa dalam politik, yang paling cepat berubah bukanlah peta kekuasaan, melainkan persepsi publik terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. (Red)













Komentar