PMII RBA Universitas At-Taqwa Bondowoso Gelar Aksi Damai, Soroti Kepastian Kebijakan PBB bagi Warga Miskin Ekstrem

"Mahasiswa PMII RBA Universitas At-Taqwa Bondowoso mendesak pemerintah daerah memberikan kejelasan realisasi program pembebasan PBB bagi warga miskin ekstrem melalui aksi damai yang berlangsung tertib dan berbasis kajian"

- Penulis

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, BONDOWOSO — Pengurus Komisariat PMII Raden Bagoes Asra (RBA) Universitas At-Taqwa Bondowoso menggelar aksi damai di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Jumat (12/6/2026).

Aksi tersebut menjadi wadah penyampaian aspirasi mahasiswa terkait kepastian pelaksanaan kebijakan pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi masyarakat miskin ekstrem yang pernah menjadi bagian dari komitmen politik daerah.

Puluhan kader PMII turun ke jalan dengan membawa spanduk dan poster tuntutan. Mereka menilai publik berhak mengetahui perkembangan program yang menyangkut kebutuhan kelompok masyarakat paling rentan secara ekonomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbeda dari aksi demonstrasi yang bersifat konfrontatif, kegiatan tersebut berlangsung tertib dan diisi dengan penyampaian argumentasi berbasis kajian akademik.

Mahasiswa menegaskan bahwa gerakan yang dilakukan merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.

Koordinator aksi, Rifky Gimnastiar, yang juga Ketua Bidang II Advokasi dan Gerakan PK PMII RBA Universitas At-Taqwa Bondowoso, menjadi salah satu orator utama yang menyampaikan tuntutan organisasi di hadapan peserta aksi dan masyarakat.

Dalam orasinya, Rifky menyebut bahwa demokrasi tidak hanya berhenti pada proses pemilihan umum, melainkan harus diikuti dengan keterbukaan pemerintah dalam menjelaskan pelaksanaan program-program yang telah disampaikan kepada masyarakat.

Baca Juga :  Aduh! Ternyata Muktamar Belum Kelar, PPP Terbelah Lagi?

Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat ruang pertanyaan di tengah masyarakat mengenai bentuk kebijakan yang akan ditempuh pemerintah daerah terkait pembebasan atau subsidi PBB bagi kelompok miskin ekstrem.

PMII menilai kejelasan informasi menjadi penting agar tidak muncul berbagai spekulasi maupun perbedaan pemahaman mengenai arah kebijakan tersebut. Karena itu, mahasiswa meminta pemerintah memberikan penjelasan yang utuh dan dapat diakses publik.

Berdasarkan kajian yang dilakukan organisasi mahasiswa tersebut, terdapat berbagai pandangan mengenai status realisasi program pembebasan PBB. Kondisi itu dinilai memerlukan klarifikasi resmi dari pemerintah daerah agar masyarakat memperoleh kepastian.

Dalam aksi tersebut, massa juga menyoroti data masyarakat miskin ekstrem yang jumlahnya mencapai puluhan ribu keluarga di Kabupaten Bondowoso.

Mereka menilai kelompok tersebut merupakan pihak yang paling membutuhkan keberpihakan kebijakan pemerintah.

Lima poin tuntutan kemudian dibacakan secara terbuka. Salah satunya meminta pemerintah menyampaikan perkembangan realisasi program pembebasan PBB serta menjelaskan mekanisme yang akan digunakan dalam pelaksanaannya.

Baca Juga :  Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Tolak Penjualan Miras, Ketua MUP: Islam Tegas Haramkan Miras

Selain itu, PMII juga mendorong adanya penyusunan regulasi yang jelas, peta jalan pelaksanaan program, serta proses verifikasi penerima manfaat yang dilakukan secara transparan dan tepat sasaran.

Aspirasi mahasiswa akhirnya mendapat respons dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Meski Bupati Bondowoso atau Wakil Bupati Bondowoso tidak menemui, massa aksi ditemui langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso bersama Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) di depan gerbang kantor pemerintah daerah.

Dialog singkat antara mahasiswa dan perwakilan pemerintah berlangsung dalam suasana kondusif. Kedua belah pihak terlihat saling bertukar pandangan mengenai persoalan yang menjadi perhatian publik tersebut.

Dalam kesempatan itu, dokumen tuntutan yang telah disusun PMII diserahkan kepada perwakilan pemerintah untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.

Rifky menyampaikan bahwa pihaknya mengapresiasi keterbukaan pemerintah yang bersedia menerima aspirasi mahasiswa secara langsung. Namun, ia berharap tindak lanjut konkret dapat segera diberikan agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai arah kebijakan yang dinantikan. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 37 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB