RI Pilih “Nggak Ikut Milih” Soal Ukraina di PBB, Rusia: Kami Hargai!

- Penulis

Sabtu, 28 Februari 2026 - 10:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memimpin delegasi negaranya dalam Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-80 di New York. (Reuters)

Foto: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memimpin delegasi negaranya dalam Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-80 di New York. (Reuters)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Indonesia resmi ambil posisi abstain dalam voting resolusi soal Ukraina di Majelis Umum PBB (UNGA). Alias? RI nggak pilih “setuju” atau “tidak setuju”.

Pemerintah menegaskan, sikap ini bukan asal ambil aman, tapi disebut konsisten dengan politik luar negeri Indonesia yang mengedepankan dialog terbuka dan negosiasi konstruktif.

Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, bilang sejak awal Indonesia mendorong proses pembahasan resolusi yang lebih inklusif. Menurutnya, semua pihak harus punya ruang bicara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Indonesia berada pada posisi untuk memastikan adanya dialog yang inklusif dalam proses pembahasan resolusi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).

Bukan cuma Indonesia. Sekitar 50 negara lain juga memilih abstain. Artinya, ada pesan kolektif: negosiasi harus lebih terbuka dan nggak sepihak.

Juru Bicara Kemlu lainnya, Yvonne Mewengkang, menambahkan negara-negara berkembang dan emerging countries seperti India, Pakistan, Afrika Selatan, China, dan Arab Saudi juga ambil sikap serupa.

Baca Juga :  Catatan Penting 75 Tahun Hubungan Diplomasi Indonesia-Rusia

Menurut Yvonne, kegelisahan mereka sama: perdamaian harus dicapai lewat diplomasi, bukan sekadar voting formalitas.

Ia menilai rancangan resolusi yang diajukan belum benar-benar membuka ruang perundingan yang konstruktif. Karena itu, Indonesia memilih untuk tidak ikut dalam blok “setuju” maupun “tidak setuju”.

Rusia: Kami Menghargai Sikap Indonesia

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyampaikan apresiasi atas keputusan Indonesia.

Dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026), Tolchenov menyebut abstain mencerminkan kebijakan Indonesia yang seimbang dalam menyikapi krisis Ukraina.

“Kami sangat menghargai keputusan Indonesia untuk abstain,” katanya.

Ia bahkan mengaku, secara pribadi lebih berharap Indonesia menolak resolusi tersebut. Namun ia memahami bahwa sikap abstain menunjukkan adanya pemahaman terhadap akar konflik.

Baca Juga :  Monumen Leo Tolstoy Diresmikan di Universitas Indonesia, Perkuat Hubungan Budaya RI-Rusia

Tolchenov juga mengkritik resolusi-resolusi tahunan di UNGA yang menurutnya tak pernah benar-benar didukung mayoritas penuh negara anggota.

“Sebagian menolak, sebagian abstain, dan sebagian tidak hadir. Faktanya, mayoritas tidak mendukung,” ujarnya.

Ia turut menuding negara-negara Eropa memperuncing konflik lewat bantuan senjata dan sanksi tambahan terhadap Rusia.

Bahkan, ia menyinggung adanya upaya memasukkan salah satu pelabuhan Indonesia dalam paket sanksi—yang diklaimnya sementara diblokir oleh Hungaria.

Hasil Votingnya Gimana?

Majelis Umum PBB akhirnya mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera, penuh, dan tanpa syarat.

Resolusi yang diajukan Ukraina dan didukung 46 negara itu lolos dengan: 107 suara setuju, 12 suara menentang dan 51 abstain. Sementara, Rusia menolak. Amerika Serikat abstain.

Perang Ukraina kini memasuki tahun keempat. Dan di tengah panasnya konflik, Indonesia tetap memilih jalur diplomasi: duduk bareng, ngobrol, dan cari jalan tengah. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 18 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB