RI Pilih “Nggak Ikut Milih” Soal Ukraina di PBB, Rusia: Kami Hargai!

Foto: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memimpin delegasi negaranya dalam Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-80 di New York. (Reuters)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Indonesia resmi ambil posisi abstain dalam voting resolusi soal Ukraina di Majelis Umum PBB (UNGA). Alias? RI nggak pilih “setuju” atau “tidak setuju”.

Pemerintah menegaskan, sikap ini bukan asal ambil aman, tapi disebut konsisten dengan politik luar negeri Indonesia yang mengedepankan dialog terbuka dan negosiasi konstruktif.

Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, bilang sejak awal Indonesia mendorong proses pembahasan resolusi yang lebih inklusif. Menurutnya, semua pihak harus punya ruang bicara.

“Indonesia berada pada posisi untuk memastikan adanya dialog yang inklusif dalam proses pembahasan resolusi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).

Bukan cuma Indonesia. Sekitar 50 negara lain juga memilih abstain. Artinya, ada pesan kolektif: negosiasi harus lebih terbuka dan nggak sepihak.

Juru Bicara Kemlu lainnya, Yvonne Mewengkang, menambahkan negara-negara berkembang dan emerging countries seperti India, Pakistan, Afrika Selatan, China, dan Arab Saudi juga ambil sikap serupa.

Menurut Yvonne, kegelisahan mereka sama: perdamaian harus dicapai lewat diplomasi, bukan sekadar voting formalitas.

Ia menilai rancangan resolusi yang diajukan belum benar-benar membuka ruang perundingan yang konstruktif. Karena itu, Indonesia memilih untuk tidak ikut dalam blok “setuju” maupun “tidak setuju”.

Rusia: Kami Menghargai Sikap Indonesia

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyampaikan apresiasi atas keputusan Indonesia.

Dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026), Tolchenov menyebut abstain mencerminkan kebijakan Indonesia yang seimbang dalam menyikapi krisis Ukraina.

“Kami sangat menghargai keputusan Indonesia untuk abstain,” katanya.

Ia bahkan mengaku, secara pribadi lebih berharap Indonesia menolak resolusi tersebut. Namun ia memahami bahwa sikap abstain menunjukkan adanya pemahaman terhadap akar konflik.

Tolchenov juga mengkritik resolusi-resolusi tahunan di UNGA yang menurutnya tak pernah benar-benar didukung mayoritas penuh negara anggota.

“Sebagian menolak, sebagian abstain, dan sebagian tidak hadir. Faktanya, mayoritas tidak mendukung,” ujarnya.

Ia turut menuding negara-negara Eropa memperuncing konflik lewat bantuan senjata dan sanksi tambahan terhadap Rusia.

Bahkan, ia menyinggung adanya upaya memasukkan salah satu pelabuhan Indonesia dalam paket sanksi—yang diklaimnya sementara diblokir oleh Hungaria.

Hasil Votingnya Gimana?

Majelis Umum PBB akhirnya mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera, penuh, dan tanpa syarat.

Resolusi yang diajukan Ukraina dan didukung 46 negara itu lolos dengan: 107 suara setuju, 12 suara menentang dan 51 abstain. Sementara, Rusia menolak. Amerika Serikat abstain.

Perang Ukraina kini memasuki tahun keempat. Dan di tengah panasnya konflik, Indonesia tetap memilih jalur diplomasi: duduk bareng, ngobrol, dan cari jalan tengah. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like