SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) makin terdengar seperti proyek Avengers versi dapur umum.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, melaporkan langsung ke Presiden Prabowo Subianto soal kebutuhan logistik pangan yang … ya ampun, nggak main-main.
Bayangin ini: satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) butuh satu ekor sapi per hari. Targetnya? 19.000 dapur aktif akhir Desember 2025. Artinya? 19.000 sapi dipotong serentak dalam sehari.
Bukan konser K-Pop. Ini konser sapi nasional. “Sekali masak menu lele saja, dibutuhkan 3.000 ekor lele di setiap dapur,” kata Dadan. Menu daging? Satu sapi per titik dapur.
Kalau dihitung cepat, ini bukan lagi program makan gratis. Ini program “Gerakan Nasional Potong Massal”.
Presiden bahkan sempat tertawa dalam sidang kabinet. Mungkin karena sadar, angka-angkanya terdengar seperti skrip film distopia peternakan.
Susu Mengalir Deras… di Atas Kertas
Belum selesai. Untuk susu, kebutuhannya lebih fantastis lagi. Setiap dapur butuh sekitar 450 liter susu per hari. Jika dihitung skala nasional maka diperlukan sekitar 1,55 juta sapi perah.
Produksi itu setara 45–50 sapi perah per dapur, tiap hari. Namun pertanyaannya sederhana: apakah peternaknya sudah siap? Rantai dinginnya aman? Distribusinya realistis? Atau ini cuma angka PowerPoint yang terlihat keren saat dipresentasikan?
465 Ribu Pengusaha Baru? Serius?
Dadan optimistis MBG bakal melahirkan 465 ribu pengusaha baru. Logikanya, setiap dapur akan bekerja sama dengan minimal 15 pemasok bahan pangan.
Konsepnya memang manis: Program gizi + pengentasan stunting + pemberdayaan UMKM + ketahanan pangan.
Lengkap. Multitafsir. Multimanfaat. Multiklaim.
Masalahnya, di lapangan cerita sering beda. Lele utuh? Jarang. Susu segar? Sulit. Daging sapi? Faktanya ada, tapi kadang “api jauh dari panggang”.
Narasi nasionalnya gemuk. Tapi realitasnya nyatanya kurus.
Antara Mimpi Besar dan Logika Waras
Program MBG memang terdengar revolusioner. Skala nasional, ambisi besar, jargon kemandirian pangan.
Tapi publik bukan lagi generasi yang menelan angka mentah-mentah. Orang sekarang bisa hitung. Bisa bandingkan data. Bisa cek fakta.
Kalau 19 ribu sapi harus tersedia tiap hari, berarti dalam sebulan lebih dari setengah juta sapi. Dalam setahun? Coba kita hitung apakah populasi ternak nasional sanggup?
Kalau jawabannya belum, ya bilang belum.
Kalau masih proses, ya jujur proses. Yang bikin publik kesal bukan mimpinya. Tapi ketika mimpi dijual seolah-olah sudah jadi kenyataan.
Jadi, Ini Program Gizi atau Program Ilusi?
MBG bisa jadi solusi besar. Tapi solusi nggak lahir dari angka bombastis saja. Ia butuh transparansi, kesiapan hulu-hilir, dan kejujuran komunikasi.
Kalau tidak, yang kenyang cuma narasi.
Rakyat tetap lapar informasi yang jujur. Dan pertanyaan paling sederhana tetap menggantung: Sampai kapan publik disuguhi angka spektakuler tanpa realita yang sebanding?
Karena di era sekarang, yang paling cepat viral bukan janji. Tapi ketidaksesuaian! Zonk! (Red)