SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dalam lima tahun terakhir, fenomena konten kreator Facebook kian ramai dan menjelma menjadi ladang baru bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri.
Tak sekadar ruang berekspresi, media ini juga dimanfaatkan sebagai sarana membangun relasi, menonjolkan potensi diri, bahkan menjadi jalan untuk mengumpulkan pundi-pundi penghasilan.
Dalam konteks masyarakat Manggarai, sejumlah konten kreator berhasil bertahan dan konsisten di tengah ketatnya persaingan dunia hiburan lokal. Sebut saja Mbiang Ende Bibi, Jejen, dan rekan-rekan lainnya.
Mereka mengangkat realitas kehidupan sosial yang dibungkus dengan komedi dan lawakan khas daerah. Dialek lokal yang kental menjadi ciri tersendiri, menghadirkan hiburan yang terus dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat Manggarai dan sekitarnya.
Jejak para konten kreator senior ini kemudian menginspirasi lahirnya kreator-kreator baru di Manggarai. Di Manggarai Timur, tepatnya di Kecamatan Kota Komba Utara, Desa Golo Tolang, Kampung Kedeng, seorang pemuda mencoba merangkai jejaknya sendiri di dunia media sosial. Ia dikenal dengan nama dunia maya “Mama Lamber”.
Perjalanan ini tidak dibangun dalam semalam. Pada tahun 2023, Jeki mulai membuat konten Facebook secara sederhana dan acak. Aktivitas kerja sehari-hari, memasak, hingga joget khasnya pernah menghiasi laman Facebook pribadinya.
Namun, upaya itu belum berhasil memancing perhatian algoritma maupun sesama pengguna Facebook. Konten-konten tersebut berlalu tanpa gaung, seolah tenggelam di tengah derasnya arus media sosial.
Kenyataan itu sempat membuatnya vakum untuk beberapa waktu. Namun, vakum bukanlah tanda menyerah. Pada September 2025, Jeki kembali dengan ide dan gaya baru yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Ia menghadirkan konten realitas sosial yang dibalut komedi, dengan logat khas Kota Komba Utara dan cerita yang lebih terkonsep. Kemunculannya kembali sontak mengundang perhatian dan mengejutkan banyak orang.
Pada awalnya, tak sedikit pula yang menertawakan gaya dan konsep kontennya. Komentar-komentar pedas dari warganet kerap menusuk batin.
Namun, bukan Mama Lamber namanya jika mudah menyerah dan tunduk pada cibiran. Justru dari komentar-komentar itulah ia belajar bertahan, menguatkan diri, dan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh serta tahan banting.
Konten Mama Lamber kemudian dikenal luas melalui kisah seorang ibu dan anak bernama Lamber. Sang ayah pergi merantau ke Kalimantan, meninggalkan Mama Lamber dan Lamber menjalani kehidupan sehari-hari.
Lamber digambarkan sebagai anak tunggal yang nakal, keras kepala, dan kerap membangkang nasihat ibunya. Jawaban-jawabannya yang khas sering memancing emosi, namun justru menghadirkan kelucuan yang membuat penonton tertawa dan ketagihan.
Lebih dari sekadar hiburan, kisah Mama Lamber adalah cerminan perjuangan Jeki sebagai seorang pemuda kampung yang berani keluar dari zona nyaman.
Ia melawan rasa malu untuk tampil di depan layar, mencoba hal baru, dan bertahan dalam proses yang tidak selalu ramah. Bermodalkan tekad kuat dan keinginan untuk berubah, ia perlahan membuktikan bahwa konsistensi dan keberanian mampu mengubah keadaan.
Kini, Jeki bukan hanya menjadi kebanggaan keluarganya, tetapi juga kebanggaan masyarakat Kampung Kedeng.
Ia hadir sebagai simbol kebangkitan anak muda Kampung Kedeng—bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, dan bahwa jatuh bangun adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju perubahan yang positif dan bermakna. (Red)
Penulis: Zello Bertholomeus