Santri dan Diplomasi dari Timur: Direktur Sino-Nusantara Institute Bedah Peluang Islam Tiongkok di Kuliah Tamu UB

- Penulis

Jumat, 7 November 2025 - 21:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ahmad Syaifuddin Zuhri, Direktur Sino-Nusantara Institute. (dok istimewa)

Ahmad Syaifuddin Zuhri, Direktur Sino-Nusantara Institute. (dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, MALANG — Dunia diplomasi kini tak lagi sekaku meja perundingan antarnegara. Kadang, peluang diplomasi justru lahir dari ruang-ruang akademik yang hangat, penuh ide segar, dan diwarnai semangat muda.

Seperti yang dilakukan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (UB), Kamis malam (6/11/2025).

Melalui kuliah tamu bertajuk “Rekonfigurasi Identitas Muslim di Tiongkok: Tantangan Globalisasi dan Peluang Diplomasi Santri Indonesia”, para mahasiswa diajak memahami bagaimana Islam hidup di tengah politik, ekonomi, dan budaya Tiongkok—sekaligus melihat peluang baru bagi diplomasi berbasis nilai-nilai santri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Acara ini digelar secara daring lewat Zoom Meeting pukul 19.30–21.30 WIB, menghadirkan Ahmad Syaifuddin Zuhri, Direktur Sino-Nusantara Institute, yang dikenal sebagai pengamat hubungan internasional, khususnya hubungan Indonesia–Tiongkok.

Salah satu point materi dalam Islam di Tiongkok masuk lewat jalur pesisir timur, Guangzhou dan Quanzhou. (dok istimewa)

 

Islam di Negeri Komunis?

Dalam paparannya, Zuhri, yang juga dosen FISIP UIN Walisongo Semarang itu membuka diskusi dengan menggambarkan realitas unik Tiongkok.

“Secara ideologi politik, Tiongkok memang komunis. Tapi praktik ekonominya justru sosialis— atau kapitalisme negara, meskipun pemerintahnya secara resmi menganut paham sosialis, “jelasnya.

“Model ekonomi ini memadukan elemen kapitalisme pasar, seperti kepemilikan swasta dan persaingan internasional, dengan kontrol dan campur tangan negara yang kuat melalui kepemilikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan peran strategis dari Partai Komunis. Atau mereka menyebut secara resmi Sosialisme dengan karakteristik China, “imbuhnya.

Zuhri menambahkan, bahwa semua kebijakan negeri Tirai Bambu berpijak pada ideologi resmi negara, sebagaimana Indonesia punya Pancasila

Maka, baik urusan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri, semuanya dirancang berdasarkan kerangka ideologi tersebut—termasuk dalam mengatur posisi agama-agama, seperti Islam dan Kristen dan lainnya.

Baca Juga :  Refleksi 75 Tahun Hubungan RI-Tiongkok, Direktur Sino-Nusantara Institute Tekankan People-to-People Diplomacy

Jejak Panjang Islam di Tiongkok

Zuhri kemudian mengajak peserta “menyusuri waktu”, menelusuri bagaimana Islam masuk ke Tiongkok sekitar abad ke-7— yang dibuktikan dengan berdirinya masjid pertama di Tiongkok, Masjid Huaisheng Guangzhou di era Dinasti Tang.

Menurutnya, penyebaran Islam di Tiongkok banyak dianut oleh etnis Hui dan Uighur, dua kelompok yang selama ini identik dengan identitas Muslim di negeri itu. Saat ini ada kurang lebih 30-40 juta penganut muslim di Tiongkok.

Meski mereka bukan mayoritas di antara 56 etnis yang ada, kehadiran mereka cukup kuat dalam membangun wajah Islam Tiongkok yang khas.

“Kehidupan warga Muslim Tiongkok sejatinya baik-baik saja. Meski ada kebijakan Sinifikasi Agama di era Xi Jinping, dimana agama harus beradaptasi dan menyerap kearifan lokal,” tutur Zuhri.

Diplomasi Santri: Peluang dari Timur

Bagian paling menarik datang ketika Zuhri menyinggung potensi besar bagi santri Indonesia.

Menurutnya, hampir di setiap kota besar di Tiongkok kini terdapat komunitas Muslim yang cukup adaptif, bahkan membuka ruang interaksi lintas budaya dengan diaspora santri Indonesia di negeri tersebut.

POV: saat pembicara sedang berinteraksi dengan komunitas muslim Tiongkok. (dok istimewa)

 

Diplomasi Santri yang dipelopori oleh diaspora Indonesia dari PCINU Tiongkok dan PCIM Tiongkok yang jumlahnya ratusan. Yang sedang belajar maupun bekerja.

“Komunitas Muslim di Tiongkok hidup berdampingan dan terbuka terhadap interaksi global. Di sinilah santri Indonesia punya peluang emas untuk memainkan peran diplomasi kultural—membawa semangat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, seperti wajah Islam Nusantara,” ujarnya.

Dalam satu dekade terakhir, santri Indonesia cukup banyak berperan dalam hubungan Indonesia-Tiongkok khususnya di level people-to-people connection.

Dalam konteks diplomasi modern, kehadiran santri bukan sekadar simbol religiusitas, tapi juga representasi nilai moderasi dan kebijaksanaan khas Indonesia.

Baca Juga :  TPA Al Huda Ringinanom Wonosegoro Gelar Ziarah Akbar, Ribuan Doa Menggema Sepanjang Perjalanan

Bayangkan saja, di tengah citra Islam global yang sering distigmatisasi keras, santri dengan karakter santun, terbuka, dan intelektual bisa menjadi “duta damai” yang menjembatani dunia Islam dan Tiongkok.

Santri: Diplomat Baru Indonesia?

Kegiatan kuliah tamu ini memberi pandangan segar: diplomasi hari ini tak melulu harus lewat Negara melalui Kementerian Luar Negeri atau duta besar. Ada jalur lain—lebih lembut tapi tak kalah strategis—yakni diplomasi berbasis budaya dan agama.

POV: saat pembicara sedang berinteraksi dengan komunitas muslim Tiongkok. (dok istimewa)

 

Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan tradisi santri yang kuat, punya soft power luar biasa untuk memperkuat hubungan antarbangsa.

Dalam konteks Tiongkok, peluang ini bisa diarahkan pada kerja sama pendidikan, dialog antaragama, hingga pertukaran komunitas Muslim.

Zuhri menutup sesinya dengan nada optimistis. “Globalisasi memang membawa tantangan identitas, tapi juga membuka ruang untuk kolaborasi. Dan santri Indonesia, dengan modal keilmuan dan nilai-nilai universalnya, bisa jadi aktor penting dalam diplomasi di Asia Timur.”

Catatan Akhir

Kuliah tamu Prodi HI UB malam itu bukan sekadar kelas daring dua jam. Ia menjadi jendela baru bagi mahasiswa untuk memahami politik identitas, peran Islam, dan pentingnya membangun diplomasi dengan sentuhan humanisme santri.

Di era globalisasi, ketika batas negara makin cair dan identitas makin dinegosiasikan, justru santri Indonesia punya modal paling otentik: kesantunan, keilmuan, dan keikhlasan untuk berdialog.

Dan dari Malang malam itu, lahir optimisme baru—bahwa masa depan diplomasi Indonesia bisa berangkat dari pesantren, bukan hanya dari istana. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit
Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok
Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha
Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung
Tingkatkan Mutu Produk Olahan, Tim Pengabdian UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Sambal Pecel “Lestari” Blitar
Modernisasi Produksi Telur Asin di Tulungagung, Alat Pencuci Berbasis Riset Bikin UMKM Makin Efisien
Dorong UMKM Naik Kelas, Akademisi UPN Veteran Jawa Timur Kenalkan Oven Multitray dan Kemasan Baru di Bolu “Bu Pur”
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 05:53 WIB

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 11:41 WIB

Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit

Rabu, 9 September 2026 - 17:39 WIB

Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok

Selasa, 8 September 2026 - 18:53 WIB

Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha

Senin, 7 September 2026 - 22:34 WIB

Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB