APBD Rp1,6 Triliun Cuma Buat Gaji Pegawai: Polewali Mandar di Ambang Lumpuh

- Penulis

Rabu, 8 Oktober 2025 - 09:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, POLEWALI MANDAR — Kabupaten Polewali Mandar dihadapkan pada ancaman stagnasi jangka panjang setelah data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menunjukkan dominasi masif pada belanja pegawai, mencapai angka fantastis Rp1,6 triliun.

Alokasi yang jomplang ini menyisakan dana yang minim untuk investasi di infrastruktur vital, memicu kritik tajam dari pengamat kebijakan yang menyebutnya sebagai “bom waktu pembangunan.”

Residen Ressist Community, Wahyu Gunadi El Bara, menyebut pengalokasian dana mayoritas APBD untuk gaji dan tunjangan pegawai menandakan pergeseran fungsi daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Polewali Mandar kini dinilai lebih menjalankan ‘negara kesejahteraan’ bagi birokrasinya sendiri alih-alih bertindak sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.

“Ketika Rp1,6 triliun APBD hanya diserap untuk menggaji birokrasi, yang tersisa untuk membangun jalan, sekolah, dan fasilitas publik sangat kecil. Ini adalah ketidakseimbangan struktural yang fatal,” ujar El Bara.

Dampak Ganda: Ekonomi Lesu dan Krisis Infrastruktur

Dominasi belanja pegawai menciptakan efek buruk ganda pada perekonomian dan pelayanan publik daerah:

1.Pengganda Ekonomi Rendah: Belanja pegawai, yang didominasi oleh konsumsi rutin, memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang jauh lebih rendah dibandingkan investasi infrastruktur.

Baca Juga :  Tagar #BoikotTrans7 Meledak, Gara-Gara Tayangan XPOSE Soal Santri

Uang hanya berputar di sektor konsumtif, gagal menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja non-PNS yang berkelanjutan.

2.Aset Daerah Stagnan: Dengan sisa anggaran yang minim, infrastruktur strategis seperti jalan, irigasi, dan fasilitas kesehatan hanya akan menerima dana tambal sulam atau pemeliharaan minimal.

Kualitas infrastruktur yang buruk ini segera menjelma menjadi ‘bottleneck’ (hambatan) utama bagi masuknya investasi swasta dan kelancaran logistik.

Kondisi ini mengakibatkan Kesenjangan Pelayanan Publik melebar. Pengembangan fasilitas baru, seperti sekolah, puskesmas, serta jaringan air bersih dan sanitasi, sulit diwujudkan.

Minimnya alokasi infrastruktur ini memperburuk ketidaksetaraan geografis, karena wilayah pelosok akan tertinggal dan terisolasi.

Terjebak Lingkaran Setan Fiskal dan Narasi Negatif

Secara jangka panjang, alokasi gaji dan pensiun pegawai adalah beban permanen yang terus meningkat. Hal ini menjebak Pemkab Polman dalam lingkaran setan fiskal dan menciptakan Tekanan APBD Masa Depan.

•Ketergantungan Transfer Pusat: Daerah akan semakin bergantung pada transfer pusat (DAU/DBH) karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) sulit didongkrak tanpa infrastruktur dan ekonomi yang kuat.

Baca Juga :  Analisis Pakar: Awal Pemerintahan Prabowo-Gibran Disambut Tantangan Ketegangan Geopolitik Global

•APBD ‘Terkunci’: Belanja pegawai secara efektif mengunci fleksibilitas APBD, menghilangkan ruang gerak finansial Pemkab untuk merespons krisis, bencana, atau memanfaatkan peluang investasi mendadak.

Narasi yang kini menguat adalah: Polewali Mandar adalah Daerah Birokratis, Bukan Daerah Produktif.

Sinyal negatif ini secara langsung memengaruhi daya tarik daerah. Investor melihat kombinasi antara birokrasi yang gemuk dan infrastruktur yang rapuh sebagai risiko ganda yang harus dihindari.

Sementara itu, Masyarakat Sipil semakin kritis, merasa bahwa pajak dan retribusi yang mereka bayarkan hanya kembali dalam bentuk gaji pegawai, bukan dalam peningkatan kualitas pelayanan dan pembangunan yang nyata.

Untuk memutus narasi stagnan ini, Pemkab Polewali Mandar didesak melakukan reformasi struktural berani, termasuk rasionalisasi atau efisiensi birokrasi, dan secara drastis membalikkan proporsi alokasi.

Prioritas harus beralih pada belanja modal produktif sebagai mesin pertumbuhan. Tanpa langkah korektif yang tajam, masa depan pembangunan Polman terancam menjadi sebuah kisah suram tentang potensi ekonomi yang terbuang sia-sia. (Red)

Penulis: Wahyu Gunadi El Bara

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura
Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”
Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah
Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama
Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 10:03 WIB

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Senin, 28 September 2026 - 09:29 WIB

Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”

Minggu, 27 September 2026 - 11:44 WIB

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 September 2026 - 09:31 WIB

Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Berita Terbaru

Ilustrasi: suaramuda.net

Sino Insight

China Pimpin BRICS 2027, Dedolarisasi Kembali Jadi Sorotan

Rabu, 30 Sep 2026 - 13:42 WIB

KILAS GLOBAL

Mengapa Greenland Penting bagi AS, Eropa, dan Masa Depan Arktik

Rabu, 30 Sep 2026 - 12:28 WIB

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB