Dari Romantisme Sejarah ke Aksi Nyata: Menakar Kiprah KOHATI di Tengah Krisis Sosial

- Penulis

Jumat, 19 September 2025 - 14:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Siti Nurhamidah*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Enam puluh tahun kurang satu adalah rentang waktu yang panjang bagi sebuah organisasi kader perempuan dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam.

Kohati lahir dari rahim sejarah perjuangan, saat perempuan muslim mahasiswa merasa perlu memiliki wadah khusus untuk menguatkan kapasitasnya, menegaskan identitasnya, dan mengartikulasikan perannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, dalam momentum Milad ke-59 ini, pertanyaan mendasar patut diajukan: apakah Kohati hari ini hanya terjebak pada romantisme sejarah, ataukah benar-benar menjelma menjadi motor aksi nyata di tengah krisis sosial yang melanda bangsa?

Romantisme sejarah memang penting. Kita perlu menengok masa lalu agar tidak kehilangan arah dan identitas. Tetapi sejarah hanya akan menjadi nostalgia kosong jika tidak dihidupkan dalam praksis kekinian.

Kohati sering kali merayakan jejak-jejak perjuangan pendahulu, namun refleksi kritis menuntut kita untuk jujur: sejauh mana kiprah kader Kohati benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat, bangsa, dan perempuan Indonesia?

Baca Juga :  Sudewo, Bupati Pajak dari Bumi Pesantenan (Bupati yang Lupa Kekuasaan Datang dari Rakyat)

Kita hidup di tengah krisis sosial yang multidimensi. Perempuan masih menjadi kelompok rentan dalam kasus kekerasan domestik, diskriminasi kerja, hingga keterbatasan akses pendidikan.

Di level bangsa, korupsi, krisis moral, dan kesenjangan sosial terus menganga. Bahkan di tubuh organisasi sendiri, kader sering terjebak pada rutinitas formalistik tanpa keberanian untuk melahirkan gagasan segar.

Dalam situasi demikian, Kohati tidak boleh puas hanya menjadi simbol keperempuanan dalam HMI, tetapi harus tampil sebagai kekuatan transformasi.

Kohati dituntut untuk melampaui wacana, beranjak dari diskursus menuju gerakan. Ini berarti kader Kohati harus hadir di ruang-ruang nyata: mengadvokasi isu perempuan di kampus dan masyarakat, melawan budaya diam terhadap kekerasan, serta terlibat aktif dalam menyuarakan keadilan sosial.

Identitas keperempuanan dalam perspektif Islam harus diterjemahkan menjadi strategi praksis yang membebaskan, bukan sekadar jargon.

Baca Juga :  Ketika Keringat Buruh Masih Dibayar Murah

Milad ke-59 harus dimaknai sebagai titik balik. Bahwa Kohati tidak boleh sekadar merawat romantisme sejarah, melainkan harus memproduksi aksi nyata yang kontekstual dengan zaman.

Jika generasi awal Kohati mampu merumuskan cita-cita besar di tengah keterbatasan, maka generasi kini justru memiliki modal lebih besar: akses informasi, jejaring global, dan ruang digital yang luas.

Pertanyaannya, apakah kita berani menggunakan modal itu untuk memperkuat peran Kohati sebagai penggerak perubahan?

Refleksi ini pada akhirnya mengingatkan kita bahwa usia tidak otomatis menjamin kedewasaan organisasi. Kedewasaan Kohati hanya akan terlihat ketika kader-kadernya mampu menjawab krisis sosial dengan gagasan segar dan tindakan nyata.

Dari ruang kelas hingga gelanggang masyarakat, dari ranah intelektual hingga pengabdian sosial, Kohati harus terus membuktikan diri sebagai rumah kader perempuan pejuang, bukan sekadar penjaga romantisme sejarah. (Red)

*) Siti Nurhamidah, Bendahara Umum Kohati Cabang Palu

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB