Papua Bukan Arena Drama SARA: Saatnya ‘Move On’ ke Damai

- Penulis

Jumat, 12 September 2025 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kehidupan toleran di tanah Papua. (dok istimewa)

Ilustrasi kehidupan toleran di tanah Papua. (dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pilkada Papua baru aja selesai. Pasangan nomor urut 2, Matius Fakhiri, S.I.K., dan Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, S.P., M.Eng., keluar jadi pemenang.

Buat sebagian orang, ini kabar gembira—tanda kalau demokrasi masih hidup di Bumi Cenderawasih. Tapi, kayak biasa, ada aja yang nggak bisa terima hasilnya.

Yang bikin ribut bukan soal program atau visi-misi, tapi soal agama. Ada oknum pendeta yang ‘nyinyir’ karena calon yang menang kebetulan Muslim, sedangkan yang kalah non-Muslim. Padahal, kalau kita jujur, politik itu soal siapa yang dipercaya rakyat, bukan soal label agama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengamat politik dan intelijen intuitif, Paijo Parikesit turut angkat bicara. “Pendeta nggak boleh jadi provokator yang bawa-bawa isu SARA. Papua ini tanah damai, bukan tempat mengulang drama politik berbumbu agama kayak di Pilkada DKI 2017, “terangnya.

Papua, Rumah Bersama

Bayangin Papua kayak rumah besar. Di dalamnya ada banyak keluarga: ada Nasrani, Muslim, Hindu, Buddha, sampai kepercayaan lokal. Semua punya hak yang sama buat tinggal, berkembang, dan merasa nyaman. Kalau ada yang mulai main api pakai isu agama, itu sama aja kayak ngerusak rumah sendiri.

Baca Juga :  Serba-serbi Kuliah Umum "10 tahun Diplomasi Indonesia" di FISIP Unwahas: Mulai Sambutan Menlu Retno Marsudi Hingga Peserta Membludak!

Buat anak muda Papua, ini penting banget dipahami. Masa depan Papua nggak bisa disandera sama narasi sempit yang cuma mikirin golongan tertentu. Papua harus tetap jadi tanah perdamaian di mana semua orang bisa berdiri sejajar.

Kita udah punya contoh buruk: Pilkada Jakarta 2017. Isu agama dipakai buat kepentingan politik, hasilnya? Masyarakat terbelah, sampai sekarang masih terasa bekasnya. Jangan sampai Papua jatuh ke lubang yang sama.

Demokrasi itu ajang adu ide, bukan adu identitas. Kalau agama terus dijadikan senjata, yang rugi ya masyarakat sendiri.

Duet Fakhiri–Rumaropen: Simbol Toleransi

Sebenernya kemenangan Matius Fakhiri (Muslim) dan Aryoko Rumaropen (Nasrani) justru keren banget. Mereka duet lintas iman yang jadi simbol kalau Papua bisa bersatu di atas perbedaan.

Buat generasi muda, ini bukti nyata kalau kerjasama lintas agama itu bukan hal mustahil. Justru ini modal kuat buat bangun Papua yang lebih maju dan inklusif.

Baca Juga :  Evaluasi Pemilu, Ketua AIPI Semarang Tegaskan Pilkada Lewat DPRD Sebagai Langkah Mundur Demokrasi

Sekarang bukan waktunya baper sama hasil pilkada. Yang kalah tetap warga Papua, yang menang juga tetap warga Papua. Politik itu cuma lima tahunan, tapi persaudaraan kita? Seumur hidup, bro!

“Isu SARA cuma bikin kita jalan di tempat. Anak muda Papua butuh lapangan kerja, akses pendidikan, dan keamanan. Itu yang harus kita perjuangkan bareng-bareng, bukan ribut soal siapa agamanya apa, ” tambahnya.

Papua Tanah Damai

Papua udah terkenal karena alamnya yang indah, budaya yang kaya, dan musiknya yang keren. Jangan biarkan image Papua rusak cuma gara-gara segelintir orang yang main isu agama.

Paijo menambahkan, Papua terlalu indah buat dirusak sama provokasi SARA. Pemuka agama harusnya jadi pendingin suasana, bukan malah ngegas bikin panas.

“Jadi, buat kita semua, terutama anak muda: mari rawat Papua sebagai tanah damai, tanah kedaulatan, dan rumah kita bersama. Karena cuma dengan toleransi, Papua bisa benar-benar jadi tanah yang membanggakan, bukan tanah yang penuh konflik, “tandasnya. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB