Kursi Pedal Jepang dan Sindiran untuk Sistem Kita

- Penulis

Selasa, 5 Agustus 2025 - 08:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kursi Pedal Jepang (Foto: dok istimewa)

Kursi Pedal Jepang (Foto: dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ada sebuah kisah ringan namun menohok. Seorang wisatawan Indonesia sedang melancong ke Jepang. Seperti kebanyakan turis, ia terpesona oleh keteraturan dan inovasi di negeri itu.

Di sebuah sudut jalan, ia melihat kursi publik dengan pedal seperti sepeda. Saat pedal itu dikayuh, listrik dihasilkan dan langsung dipakai untuk penerangan jalan.

Sambil duduk, ia berkata dalam hati, “Hebat sekali. Di sini, bahkan saat menunggu, mereka tidak membuang waktu dan tetap produktif.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sampingnya duduk seorang pria Jepang. Percakapan pun dimulai.
“Tak heran Jepang maju,” kata si wisatawan. “Pasti karena orang-orangnya cerdas-cerdas.”
Pria Jepang tersenyum tipis. “Tidak juga,” jawabnya.

“Sebenarnya orang kami sama saja seperti masyarakat Anda. Bedanya, di sini, dari sepuluh orang Jepang, mungkin hanya satu yang benar-benar pintar dan sembilan lainnya biasa-biasa saja, bahkan bodoh.”

Wisatawan itu terdiam, agak heran. Lalu pria Jepang melanjutkan:
“Tetapi kami menempatkan satu orang pintar itu sebagai pemimpin, dan sembilan lainnya cukup mengikuti instruksinya. Di negara Anda,” ia menghela napas, “justru kebalikannya: satu yang bodoh memimpin, dan sembilan yang pintar harus mengikuti instruksinya.”

Baca Juga :  Guru 2025: Antara Hierarki yang Runtuh dan Tanggung Jawab yang Kian Membara

Hening. Angin musim gugur berdesir di antara pepohonan. Kalimat itu mungkin terdengar keras, bahkan menyinggung. Tetapi bukankah kerap kita temui fenomena serupa?

Bukan hanya di politik, tetapi juga di kantor, organisasi, bahkan komunitas kecil. Sering kali, mereka yang memiliki gagasan segar dan wawasan luas justru berada di bangku penonton, sementara kursi kemudi diduduki oleh mereka yang tidak layak—atau setidaknya, tidak cukup mumpuni.

Jepang bukan tanpa masalah. Mereka pun punya birokrat lamban, politisi bermasalah, dan keputusan publik yang keliru. Namun satu hal yang membedakan adalah sistem mereka relatif mampu meminimalisir kerusakan: menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat.

Di kita? Sistemnya justru sering kali menyaring orang berdasarkan kedekatan, loyalitas semu, atau kepentingan kelompok, bukan kompetensi. Atau bahkan kita memilih pemimpin karena pemberian bansos.

Di kita, sistemnya sering kali seperti saringan terbalik. Yang lolos ke atas bukan yang paling mumpuni, melainkan yang paling pandai berbisik di telinga orang berkuasa, atau yang paling rajin hadir di acara foto bersama.

Baca Juga :  Shakira Amirah, Mahasiswa Kedokteran UI Juarai Clash of Champions: Selamat!

Akibatnya, sembilan orang pintar menjadi frustrasi, kreativitas terhambat, dan potensi bangsa terkubur di bawah tumpukan keputusan konyol.

Padahal, dari kursi pedal di pinggir jalan itu, ada pelajaran sederhana: kemajuan bukan soal berapa banyak orang pintar yang kita punya, tapi siapa yang memegang kemudi.

Satu orang pintar yang benar-benar memimpin akan membuat sembilan yang biasa-biasa saja ikut berlari. Tapi satu orang bodoh di pucuk pimpinan bisa membuat sembilan orang pintar ikut tersesat … bahkan terseret mundur.

Mungkin sudah saatnya kita membalik kebiasaan. Menempatkan yang cakap di kursi pengemudi. Membiarkan yang belum mumpuni duduk manis di kursi penumpang—atau kalau mau tetap berkontribusi, silakan duduk di kursi pedal. Kayuhlah kencang-kencang. Setidaknya, jalannya akan tetap terang. (Red)

Ali Achmadi, praktisi pendidikan, pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati, Jawa Tengah

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB