Sok-sokan Jadi Pahlawan! Usai Serang Iran, Kini AS Jadi Mediator Gencatan Senjata Israel-Iran, Padahal Jerih Payah Qatar

- Penulis

Rabu, 25 Juni 2025 - 13:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, SEMARANG — Praktis selama 12 hari hidup dalam ketegangan akibat perang yang memicu kekhawatiran Perang Dunia III pecah usai Amerika Serikat ikut-ikutan gempur Teheran, Iran dan Israel akhirnya bersepakat melakukan gencatan senjata pada Selasa (24/6/2025).

Sebelum sepakat gencatan, Iran meluncurkan serangan balik ke pangkalan Amerika Serikat terbesar di Timur Tengah, Al Udeid, di Qatar.

Qatar murka dan mengecam Iran. Mereka menyebut punya hak untuk membalas tapi di saat yang menyerukan deeskalasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Iran mengambil tindakan tersebut sebagai respons usai Amerika Serikat campur tangan dalam perang untuk membantu Israel menghancurkan situs nuklir mereka.

Tak lama setelah itu, Presiden Donald Trump sesumbar kepada dunia bahwa Iran-Israel akan gencatan senjata dan mengakhiri pertempuran.

Seakan-akan AS Berperan Penting

Pernyataan Trump seolah ingin menunjukkan peran AS dalam perang sekaligus sebagai mediator. Namun, pencapaian gencatan Iran-Israel juga ada campur tangan Qatar.

Baca Juga :  Bara Timur Tengah, Paus Fransiskus: Konflik Berdarah di Timur Tengah Jangan Meluas

Qatar membantu menengahi gencatan senjata, terlibat diam-diam dengan sekutu Israel di Amerika dan dengan pemerintah Iran di belakang layar.

Tiga diplomat yang mengetahui masalah itu mengatakan Qatar melakukan intervensi ke pemerintahan Iran atas nama AS, demikian dikutip New York Times.

Mereka juga mengatakan Trump memberi tahu emir Qatar bahwa Israel sepakat gencatan senjata yang diusulkan AS.

Ketiga diplomat itu lantas mengatakan politikus Republik itu meminta Doha mengajak Iran bergabung dengan proposal tersebut.

Salah satu pejabat Gedung Putih bahkan mengatakan emir Qatar punya peran penting dalam gencatan senjata.

Beberapa pengamat menyadari sikap Qatar dari mulai mengecam, menyerukan deeskalasi, hingga memanggil duta besar.

Mantan duta besar Inggris untuk Qatar, Nicholas Hopton menilai sikap Qatar dari membela hak ke mediator menunjukkan sikap koreografi.

Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House punya sebutan sendiri untuk menggambarkan karakter Qatar.

Baca Juga :  Hubungan Bisnis Rusia dan China Makin Kuat Melalui Expo Harbin ke 10

“Apa yang terjadi menunjukkan Qatar dapat menerima pukulan namun tetap bersikap pragmatis,”

Qatar menyadari pangkalan AS di negaranya akan jadi sasaran Iran. Wakil Kepala Staf untuk Operasi Gabungan Mayjen Shayek Misfer Al Hajri menyebut serangan ke Al Udeid sudah direncanakan dan mayoritas rudal berhasil dicegat.

Qatar telah menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Iran dibanding sebagian besar negara Teluk Persia lain.

Qatar juga telah memainkan peran utama dalam memediasi Israel dan Hamas sejak agresi pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Jik menyerang negara Teluk Persia lain, Iran mungkin akan memasuki wilayah yang lebih rumit.

Markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain dan instalasi minyak Arab Saudi juga bisa menjadi sasaran.

Namun, hubungan diplomatik Iran dengan dua negara Teluk Persia lainnya masih baru dan relatif goyah. (Red)

Sumber: CNN Indonesia

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB