Feodalisme di Pesantren: Pandangan Pesantren di Mata Masyarakat Umum dan Analisis Berdasarkan Teori Konseling Multibudaya

- Penulis

Minggu, 22 Juni 2025 - 17:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi soal anggapan feodalisme di pesantren. (dok istimewa)

Ilustrasi soal anggapan feodalisme di pesantren. (dok istimewa)

Oleh: Ayunda Apriliana Hartini*)

SUARAMUDA, SEMARANG – Feodalisme adalah sistem sosial yang berkembang di masa lalu, di mana orang-orang biasa tunduk pada para pemimpin atau bangsawan yang memiliki kekuasaan.

Saat ini, istilah “feodalisme” sering digunakan untuk menggambarkan hubungan sosial yang kaku, tidak setara, dan menutup ruang bagi kritik atau diskusi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks pesantren, sebagian masyarakat yang belum pernah menempuh pendidikan pesantren, melihat budaya hormat dan patuh santri kepada kyai sebagai bentuk feodalisme.

Pandangan Feodal Pesantren

Pandangan bahwa pesantren bersifat feodal muncul dari beberapa faktor.

Pertama, struktur tradisional pesantren memang menunjukkan hierarki yang jelas, namun kyai yang dihormati secara luar biasa, baik dalam ucapan maupun tindakan.

Hal ini membuat masyarakat umum melihatnya sebagai feodalisme. Kedua, budaya ta’dzim atau penghormatan kepada guru sangat dijunjung tinggi.

Santri dilarang membantah, harus berbicara dengan sopan, menundukkan badan ketika bertemu, dan patuh terhadap perintah kyai.

Bagi masyarakat umum yang terbiasa dengan sistem pendidikan terbuka, hal ini tampak seperti bentuk ketaatan yang berlebihan.

Ketiga, sistem khidmah, yaitu santri melayani kebutuhan kyai sebagai bagian dari proses pendidikan juga memicu anggapan bahwa santri diperlakukan seperti pelayan.

Hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang belum memahami nilai spiritual dan pendidikan di balik tradisi tersebut.

Ilustrasi anggapan feodalisme dalam pesantren. (dok istimewa)

Pandangan dari dalam pesantren sendiri, hubungan antara kyai dan santri tidak dipandang sebagai bentuk penindasan ataupun penyalahgunaan kekuasaan.

Baca Juga :  Muchdi PR, Gerindra, dan Nasionalisme Kerakyatan dalam Pemerintahan Prabowo

Sebaliknya, hal ini dianggap sebagai bagian dari adab dan akhlak dalam menuntut ilmu. Dalam tradisi Islam, guru sangat dihormati karena menjadi perantara dalam menyampaikan ilmu.

Penghormatan kepada guru dianggap mendatangkan keberkahan. Budaya seperti ta’dzim dan khidmah tidak dimaksudkan untuk merendahkan santri, melainkan untuk melatih akhlak, kesabaran, dan kerendahan hati.

Analisis berdasarkan teori konseling multibudaya

1. Teori Integrasi Budaya: Teori ini melihat pentingnya interaksi antarbudaya untuk membangun pemahaman baru.

Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial dan budaya terjadi ketika ada interaksi antara kelompok masyarakat dengan kebudayaan berbeda, yang kemudian membentuk pola baru sebagai hasil integrasi (Soemardjan & Soemardi, 1964).

Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan dialogis dalam menjembatani pemahaman budaya.

2. Teori Kesadaran Budaya: Teori ini menekankan pentingnya mengenali prasangka terhadap budaya lain. Masyarakat perlu menyadari bahwa penilaian mereka terhadap pesantren bisa dipengaruhi oleh standar budaya mereka sendiri.

Kesadaran ini penting agar tidak mudah memberi label negatif terhadap hal yang berbeda.

Soelaeman Soemardi menekankan bahwa kesadaran budaya menjadi dasar dalam menilai praktik sosial secara objektif, agar seseorang tidak terjebak dalam etnosentrisme atau memaksakan nilai sendiri pada budaya lain (Soemardjan & Soemardi, 1964).

3. Teori Konseling Berbasis Keragaman: Pendekatan ini mengajarkan bahwa tidak semua budaya harus mengikuti standar yang sama. Pesantren adalah bagian dari keragaman sistem pendidikan yang harus dihargai.

Baca Juga :  Skenario Teheran dalam Konflik Israel-Iran

Menurut Soerjono Soekanto, masyarakat terdiri dari berbagai sistem nilai yang saling berdampingan, dan setiap sistem sosial perlu dilihat dalam konteks norma-norma internalnya sendiri (Soekanto, 1982).

Dalam hal ini, pendekatan konseling berbasis keragaman memungkinkan munculnya pemahaman yang lebih adil terhadap sistem budaya pesantren.

Solusi praktis yang mungkin bisa diterapkan

1. Meningkatkan Kesadaran Budaya: Melalui konseling individu atau kelompok, konselor bisa membantu masyarakat merefleksikan bias budaya mereka dan memahami makna adab di pesantren.

2. Promosi Toleransi dalam Layanan Konseling: Konselor bisa menyisipkan nilai-nilai toleransi dan empati budaya dalam program bimbingan di sekolah atau masyarakat.

3. Transparansi Budaya dari Pihak Pesantren: Pesantren juga dapat lebih terbuka menjelaskan nilai-nilainya kepada publik, misalnya melalui media sosial, kunjungan terbuka, atau penulisan artikel.

Perbedaan budaya sering kali menciptakan pemahaman yang keliru. Pandangan bahwa pesantren bersifat feodal bisa diselaraskan jika semua pihak bersedia memahami dari berbagai sisi.

Dengan pendekatan konseling multibudaya, masyarakat diajak untuk melihat pesantren bukan dari kaca mata prasangka, tetapi sebagai salah satu bentuk pendidikan luhur yang memiliki kekayaan nilai dan tradisi. (Red)

*) Ayunda Apriliana Hartini, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sebelas Maret, asal Kendal, Jawa Tengah

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 32 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB