Kamu Gak Harus Ikut Standar Mereka, Jadilah Cantik Versi Dirimu Sendiri

- Penulis

Selasa, 17 Juni 2025 - 11:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Farah Nabila, Mahasiswa Sosiologi, UIN Walisongo Semarang

Farah Nabila, Mahasiswa Sosiologi, UIN Walisongo Semarang

SUARAMUDA, SEMARANG — Setiap kali membuka Instagram, TikTok, atau media sosial lainnya, pernah nggak sih kamu merasa wajahmu kurang menarik?

Rasanya semua orang punya kulit yang glowing, wajah tirus, serta senyum memesona. Sementara kamu, hanya bisa menatap kamera depan dengan perasaan ragu, bertanya dalam hati “Kenapa aku beda ya?”

Kalau kamu merasa berbeda itu wajar kok. Jangan cepat merasa minder, karena setiap orang punya keunikan sendiri yang tidak bisa dibandingkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik layar ponsel yang penuh dengan konten sempurna itu, kita sedang disuguhkan sebuah standar kecantikan yang sebenarnya tidak realistis.

Standar yang dibangun dari algoritma, dan tuntutan estetika yang terus berubah. Tapi kenyataannya, standar itu dibuat bukan untuk merayakan keberagaman, melainkan untuk menuntut kita menjadi baik menurut versi tertentu versi yang sering kali jauh dari kenyataan.

“Cantik itu harus putih, harus langsing, hidung harus mancung, muka glowing, rambut lurus.”

Kalimat-kalimat seperti ini sudah terlalu sering terdengar bahkan dari orang-orang terdekat kita. Seolah-olah kecantikan mempunyai standar yang harus diikuti, padahal kenyataannya sama sekali tidak demikian.

Tidak ada satu pun manusia yang lahir dengan kendali penuh atas wajah dan tubuhnya.

Namun anehnya, kita diajarkan bahwa jika ingin diterima, kita harus berubah sesuai dengan standar estetik anjuran mereka.

Rasa tidak percaya diri kini menjadi teman akrab banyak remaja dan perempuan muda.

Media sosial yang seharusnya menjadi tempat untuk berekspresi dan menunjukkan keunikan diri justru memperparah hal ini.

Setiap hari kita dihadapkan pada wajah-wajah sempurna hasil kamera profesional, pengaturan pencahayaan yang pas, OOTD (outfit of the day) yang estetik dan instagramable.

Semua itu membuat kita merasa tidak sebanding bahkan sebelum kita mengenal potensi diri sendiri.

Kita sering kali merasa bahwa kita tidak cukup baik, tidak cukup cantik, atau tidak cukup menarik dibandingkan dengan apa yang kita lihat di layar.

Baca Juga :  Ratusan Warga Padati Rumah PoHan: Pertunjukan “Gambang Semarang” Berlangsung Meriah dan Penuh Antusiasme

Padahal, itu hanya ilusi yang diciptakan untuk menarik perhatian dan mempengaruhi persepsi diri kita.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah menjadi seperti mereka, tapi menyadari bahwa setiap orang punya keindahan dan keunikan masing-masing yang tidak bisa dibandingkan dengan orang lain.

Lagi pula, kita juga perlu sadar bahwa standar kecantikan itu sebenarnya adalah sesuatu yang dibuat-buat dan selalu berubah mengikuti zaman serta budaya.

Di masa lalu, misalnya perempuan berisi dianggap tanda kemakmuran dan kecantikan di banyak budaya. Di tempat lain, kulit gelap justru dijadikan simbol eksotisme dan daya tarik tersendiri.

Lalu kenapa kita harus selalu mengikuti standar yang bahkan tidak universal?

Kecantikan bukan hanya soal penampilan fisik saja, tapi juga tentang bagaimana kita merasa nyaman dengan diri sendiri dan bagaimana kita membawa diri, bagaimana kita menunjukkan kepercayaan diri, dan bagaimana kita bisa mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya.

Saatnya kita mulai bilang ke diri sendiri cukup. Cukup ikut-ikutan standar yang bikin kita lelah dan tidak nyaman.

Kita harus berani menolak standar palsu yang mengekang dan mulai menerima keberagaman yang ada dengan penuh kasih.

Kita juga butuh ruang aman, tempat di mana kita bisa jadi diri sendiri tanpa harus merasa ditekan untuk berubah. Komunitas, teman, dan keluarga punya peran besar dalam hal ini.

Lebih seringlah bilang, “Kamu sudah cukup,” daripada menyuruh orang lain untuk “ubah ini, itu supaya cantik”.

Merawat diri memang penting, tentu saja. Tapi merawat diri bukan berarti jadi versi lain dari diri kita yang sebenarnya.

Merawat diri harus bikin kita makin sayang sama diri sendiri, bukan makin insecure dan penuh tekanan.

Baca Juga :  Membangun Kesadaran Sosial dan Demokrasi

Pakaian, skincare, make-up semua boleh digunakan, asal dilakukan karena kita senang dan nyaman, bukan karena tekanan standar orang lain.

Pilihan ini harus datang dari hati, bukan karena keharusan dan paksaan.

Dan sebagai generasi muda, kita punya kekuatan besar untuk mengubah budaya ini. Mulailah dari hal-hal sederhana misalnya dengan berhenti menyebarkan komentar negatif tentang fisik orang lain.

Stop bilang “Kamu gendutan” atau “Kok sekarang iteman?” karena ucapan sepele seperti itu bisa meninggalkan luka yang dalam dan tak terlihat oleh orang lain.

Mungkin terdengar biasa, tapi kata-kata bisa jadi senjata untuk menjatuhkan seseorang.

Kita tidak pernah tahu seberapa keras seseorang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Jadi, kenapa tidak mulai menjadi bagian dari lingkungan yang menguatkan satu sama lain, bukan yang menjatuhkan?

Ubah cara pandang kita bahwa cantik itu relatif, dan tidak bisa diseragamkan. Semua orang dengan keunikannya masing-masing punya versi terbaik dari dirinya.

Dan versi terbaik itu bukan yang meniru orang lain, tapi yang jujur, tulus, dan berani mencintai dirinya sendiri.

Jadi, kalau kamu masih merasa tidak cukup cantik hari ini, ingatlah jika kamu tidak harus cantik versi mereka.

Cukup dengan menjadi versi terbaik dari diri kamu sendiri, itu sudah lebih dari cukup dan luar biasa.

Karena pada akhirnya, dunia gak butuh lebih banyak wajah sempurna, tapi butuh lebih banyak orang yang percaya diri dengan dirinya apa adanya.

Dengan begitu, kita bisa menciptakan dunia yang lebih lebih ramah, dan lebih penuh cinta untuk semua orang.

Mari kita bersama-sama merayakan keunikan dan keberagaman, serta menciptakan lingkungan yang positif, dan suportif bagi diri kita dan orang lain. (Red)

Penulis: Farah Nabila, Mahasiswa Sosiologi, UIN Walisongo Semarang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB