Guru 2025: Antara Hierarki yang Runtuh dan Tanggung Jawab yang Kian Membara

- Penulis

Sabtu, 10 Mei 2025 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nashrul Mu’minin*)

SUARAMUDA, SEMARANG — Di tengah gemuruh revolusi pendidikan Indonesia tahun 2025, posisi guru berada dalam pusaran perubahan paling paradoksal.

Data Kementerian Pendidikan menunjukkan 73% sekolah negeri kini mengadopsi sistem “kelas tanpa hierarki”, di mana meja guru tak lagi berada di podium tinggi, melainkan menyatu dengan lingkaran duduk siswa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun survei Litbang Kompas justru mengungkap 68% guru merasa beban tanggung jawab mereka meningkat tiga kali lipat sejak diterapkannya Kurikulum Merdeka Versi 3.0.

“Kami dituntut menjadi fasilitator, psikolog, sekaligus content creator digital, tapi penghargaan terhadap otoritas keilmuan kami justru menguap,” keluh Siti Rahayu, guru SMP Negeri 15 Yogyakarta yang telah 20 tahun mengabdi.

Fenomena ini mengingatkan kita pada firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Ayat ini seharusnya menjadi pondasi relasi guru-murid, tetapi realitas 2025 justru mempertontonkan ironi: di saat gelar “guru inklusif” digaungkan, 60% kasus kekerasan verbal terhadap guru dilaporkan berasal dari orang tua murid yang menuntut penilaian akademik tanpa memperhatikan proses pembelajaran.

Baca Juga :  The Comeback: Mohammad Yusron dan Keberanian Melawan Waktu di Piala Bupati Malang 2025

“Seorang ibu mengancam melaporkan saya ke Komnas HAM karena memberi tugas proyek kelompok yang dianggap membebani anaknya,” kisar Ahmad Faisal, guru honorer di Kabupaten Sleman yang gajinya masih berkisar Rp1,8 juta per bulan.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

Tahun 2025 juga mencatat eksodus massal guru senior. Sebanyak 12.000 guru PNS mengajukan pensiun dini—angka tertinggi dalam sejarah—sementara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) melaporkan penurunan 40% minat mahasiswa baru pada jurusan kependidikan.

“Generasi Z lebih memilih menjadi YouTuber edukasi daripada guru karena masalah gaji dan citra sosial,” papar Dr. Alamsyah dari UNY. Ini bertolak belakang dengan sabda Nabi:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan kesantunan diperoleh dengan latihan.” (HR. Dailami).

Di tengah krisis ini, gerakan “Guru Menggugat” yang dimotori oleh para pendidik muda justru membawa angin segar.

Mereka mendirikan “Sekolah Bawah Tanah“—ruang belajar alternatif di 15 kota yang mengembalikan guru pada khittahnya sebagai ulul albab (QS. Ali Imran: 190-191).

“Kami mengajar tanpa kurikulum baku, tapi dengan konsep tafakkur alam dan problem-based learning,” jelas Dian Sastrowardoyo, koordinator gerakan yang juga mantan guru tetap di Jakarta.

Baca Juga :  Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Allah berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1).

Ayat pertama yang turun ini mengisyaratkan bahwa pendidikan harus kembali pada tauhid—guru bukan sekadar profesi, melainkan pelaksana misi kenabian.

Tahun 2025 mungkin telah mengaburkan hierarki tradisional, tetapi justru membuka jalan bagi guru sejati yang berani seperti Khidir—mengajar dengan hikmah meski di luar struktur formal (QS. Al-Kahfi: 65-82).

Ketika dunia pendidikan gamang antara tuntutan inklusivitas dan esensi pembelajaran, mungkin kita perlu merenung ulang makna hadis:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وأهل السموات والأرض حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikat, penghuni langit dan bumi—bahkan semut dalam lubangnya—bershalawat untuk mereka yang mengajarkan kebaikan.” (HR. Tirmidzi).

Di ujung tahun 2025, ketika 30% sekolah sudah menggunakan AI sebagai pengganti guru untuk mata pelajaran eksak.

Pertanyaan tersisa adalah: akankah kita memilih efisiensi teknologi atau mempertahankan ruh pendidikan yang diajarkan Al-Qur’an—di mana guru bukan sekadar penyampai informasi, tetapi penjaga peradaban? (Red)

*) Nashrul Mu’minin, penulis, tinggal di Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
Berita ini 26 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB