Kembali Berulah, Ratusan Kreak di Semarang Dilibas Polisi! Begini Sejarah Kreak Sebenarnya!

- Penulis

Senin, 24 Maret 2025 - 04:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ratusan kreak yang diamankan setelah konvoi, memblokir jalan, dan menyalakan petasan di Semarang. Foto: Humas Polrestabes Semarang

Ratusan kreak yang diamankan setelah konvoi, memblokir jalan, dan menyalakan petasan di Semarang. Foto: Humas Polrestabes Semarang

SUARAMUDA, SEMARANG — Sedikitnya 278 pemuda yang konvoi kendaraan mengganggu lalu lintas dan ketertiban di wilayah Kota Semarang dilibas polisi, Sabtu malam (22/3) sekitar pukul 23.30 WIB.

Aksi rombongan gangster itu dihentikan oleh kepolisian di Jalan Siliwangi dan Jalan Hanoman, Semarang Barat.

Dikutip dari berbagai sumber, para kreak itu berkonvoi melalui beberapa rute, yakni Boja, Jalan Cangkiran Semarang, BSB Mijen, Jalan Prof. Hamka, dan Jalan Walisongo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sepanjang perjalanan, mereka menyebabkan gangguan lalu lintas dan ketertiban umum seperti pemblokiran jalan, pelanggaran lalu lintas, serta penggunaan kembang apidi Kompleks BSB Mijen, Semarang. Aksi mereka pun viral di media sosial.

Diketahui, ratusan orang dari kelompok pemuda yang dikenal sebagai “kreak” tersebut terdiri 161 orang berasal dari Kota Semarang, sementara 117 lainnya berasal dari berbagai daerah di luar Kota Semarang.

Baca Juga :  Perkuat Gerakan Tabungan Kurban, Masjid At Taqwa Sidorejo Batang Salurkan 934 Paket Daging Kurban

Lantas bagaimana sejarah sejarah kreak di Kota Semarang?

Dilansir detik.com, (6/1/2025) istilah kreak sendiri ternyata sudah mengalami perubahan makna yang signifikan seiring dengan berjalannya waktu. Kini, kreak identik dengan tindak kejahatan padahal sebelumnya tidak menggambarkan hal tersebut.

Pada awalnya, istilah “kreak” ini berasal dari singkatan dua kata, yaitu ‘kere’ yang berarti miskin, dan ‘mayak’ yang berarti berkelakuan norak atau sok-sokan.

Mulanya, kata kreak hanya digunakan untuk menggambarkan gaya berpakaian atau perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan norma atau situasi.

Dalam perkembangannya, makna kreak berkembang menjadi simbol perilaku negatif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok remaja. Perilaku tersebut mencakup tindakan kekerasan seperti tawuran antar kelompok, yang sering kali merugikan orang lain di sekitarnya.

Sumber laman indozone.id (27/9/2024) fenomena kreak ditinjau dari aspek sejarahnya, sudah eksis sejak dekade 1930-an. Fenomena ini bermula ketika Semarang mengalami perkembangan sebagai kota industri yang cukup pesat.

Baca Juga :  "Kreak-kreak" yang Terdiri dari 19 Gangster Bubar, Apakah Kota Semarang Kembali Aman?

Perkembangan industri tersebut memiliki permasalahan sosial masyarakat antara lain kesenjangan sosial yang menyebabkan adanya gelandangan.

Lalu, gelandangan tersebut seringkali dianggap sebagai “sampah” masyarakat sehingga permasalahan ini semakin rumit dan menyebabkan pemberontakan gelandangan.

Pemberontakan gelandangan ini memicu keresahan pada masyarakat Semarang. Pemerintah kota Semarang pada saat itu langsung turun tangan dalam menyelesaikan kasus pemberontakan tersebut.

Salah satunya, yakni dengan memindahkan para gelandangan ke rumah sakit jiwa maupun melalui program transmigrasi ke wilayah Sumatera.

Di era yang lebih modern seperti saat ini, fenomena gelandangan yang memberontak itu kemudian digantikan oleh para remaja pada masa kini.

Mereka menamai gerombolannya bak gangster, seperti yang terlibat dalam beberapa kasus tawuran, pembacokan dan yang terbaru terjaring aksi kepolisian seperti yang viral baru-baru ini. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Berita ini 96 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB