Budaya Nepotisme yang Mengakar: Siapa Untung?

- Penulis

Kamis, 20 Maret 2025 - 21:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, SEMARANG – Nepotisme menjadi praktik dengan memberikan keuntungan atau posisi kepada keluarga atau kerabat dekat.

Hal tersebut telah menjadi budaya yang mengakar di Indonesia.

Praktik ini sering dibenarkan dengan alasan menjaga keharmonisan atau loyalitas. Namun kenyataannya justru menciptakan ketidakadilan sosial dan merusak meritokrasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tingkat keluarga, nepotisme dimulai dengan pola pikir yang mengutamakan “darah daging”, seperti menyerahkan posisi strategis kepada anak atau saudara meski ada yang lebih kompeten.

Di lingkup politik, nepotisme terlihat jelas ketika anak atau kerabat pejabat menduduki posisi penting tanpa kompetensi yang memadai.

Baca Juga :  Mobil Hemat Listrik Mahasiswa Muhammadiyah Sukses Juarai Shell Eco Marathon (SEMA) 2024 Tingkat Asia, Subhanallah!

Praktik ini bahkan menjadi warisan turun-temurun, di mana anak-anak diajarkan untuk mengutamakan keluarga, bahkan jika harus mengorbankan prinsip keadilan.

Misalnya dalam pendidikan, orang tua menggunakan pengaruh untuk memastikan anaknya diterima di sekolah favorit walaupun nilainya tidak memenuhi syarat.

Dampaknya, nepotisme menciptakan ketimpangan sosial, merusak kepercayaan publik, dan menghambat kemajuan bangsa.

Bertentangan dengan Nilai Pancasila

Nepotisme secara prinsip bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Praktik ini merusak prinsip keadilan, kesetaraan, persatuan, partisipasi, dan keadilan sosial yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera, kita perlu memerangi budaya nepotisme dan kembali pada nilai-nilai luhur Pancasila.

Baca Juga :  Shakira Amirah, Mahasiswa Kedokteran UI Juarai Clash of Champions: Selamat!

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan perubahan pola pikir dan sistemik.

Kesadaran akan keadilan dan meritokrasi harus ditanamkan sejak dini, regulasi ketat dalam rekrutmen perlu diterapkan, dan masyarakat harus lebih kritis menolak praktik nepotisme.

Nepotisme mungkin menguntungkan untuk sebagian orang, tetapi dalam jangka panjang, budaya ini dapat merugikan kita semua.

Sudah saatnya membangun sistem yang adil dan inklusif, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. (Red)

Penulis: Moetia Putri Fadillah, Mahasiswa Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Yogyakarta

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB