Masjid Putra, Simbol Integrasi tradisi Islam dan Modern di Asia Tenggara

- Penulis

Rabu, 22 Januari 2025 - 08:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pose bersama dengan latarbelakang masjid Putra, Putrajaya Malaysia/ dok istimewa

Pose bersama dengan latarbelakang masjid Putra, Putrajaya Malaysia/ dok istimewa

SUARAMUDA, SEMARANG – Dalam serangkaian kunjungan Internasional Outbond Mobility, salah satu destinasi yang dikunjungi rombongan Universitas Wahid Hasyim Semarang adalah kawasan Putrajaya, Malaysia, 13 Januari 2025.

Ya, Putrajaya dipilih karena wilayah itu merupakan IKN-nya Indonesia. Yakni kawasan kota baru du wilayah Malaysia yang kemudian menjadi pusat administrasi pemerintahan federal, Malaysia.

Di Putrajaya, salah satu spot wisata sekaligus peribadatan ikonik yang kita kunjungi adalah Masjid Putra. Letaknya yang berhadapan dengan Danau Putrajaya, masjid ini dibangun pada 1997-1999.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masjid Putra pun tampak seperti terapung-apung di permukaan Danau Putra. Maka dari itulah, tak sedikit orang menyebut sebagai “Masjid Apung Putrajaya”. Dan saya, bersama rombongan dari Unwahas juga tak ingin melewatkan jadwal shalat di masjid nan megah itu.

Usai shalat, kami berkesempatan menikmati bangunan megah yang ditopang dengan balutan seni arsitektur Persia. Dari jauh terlihat bangunan kubah dengan warna merah muda memberikan kesan menawan.

Sembari duduk di serambi masjid, akhirnya berjumpa dengan seorang marbot. Dari sosoknya terlihat jelas, bahwa sebenarnya ia memiliki dedikasi yang tinggi. Ia juga menguasai berbagai bahasa asing seperti Mandarin, Vietnam, Korea, Jepang, Thailand, Persia, dan Inggris yang ia pelajari secara otodidak.

Baca Juga :  KBRI Protes pada Malaysia Gegara WNI Ditembak: Usut, Tuntas!

Selepas sholat kami berjalan ke serambi masjid sambail menikmati pemandangan sekitar, kami bertemu dengan seorang marbot yang luar biasa. Ia tidak hanya ramah, tetapi juga menguasai berbagai bahasa asing seperti Mandarin, Vietnam, Korea, Jepang, Thailand, Persia, dan Inggris yang ia pelajari secara otodidak.

Tujuanya sederhana; ia hanya ingin menyapa dan menyambut tamu yang datang dengan bahasa yang mereka pahami serta menciptakan suasana yang hangat dan personal.

Dalam bahasa Melayu, akhirnya kami berbincang hangat seputar Masjid Putrajaya. Sosok yang akrab dengan nama “Bang Khairul” itu bercerita detil tentang eksotisme arsitektur, dan lainnya.

Perpaduan tradisi Islam dan Modern

Masjid Putra, Putrajaya ini dibangun sebagai simbol keagungan yang menghubungkan antara tradisi Islam dan kemajuan modern. Sedangkan nama “Putra” di sematkan sebagai wujud penghormatan kepada Perdana Menteri pertama Malaysia yaitu Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj.

“Masjid ini dibangun di atas danau buatan, lalu didesain sedemikian rupa oleh arsitek ternama asal Kuala Lumpur Dr. Nik Mohammad. Sehingga masjid ini nampak seperti mengapung di atas danau Putrajaya, “ungkap bang Khairul.

Baca Juga :  Budaya 10 Muharram: Antara Sejarah, Spiritualitas, dan Tradisi Lokal

Satu hal yang menarik perhatian saat kami berada di pelataran masjid—- ratusan wisatawan dari berbagai negara mengenakan jubah merah; menutup setelah pendek yang dikenakan sebelumnya

Mereka nampak asyik mondar-mandir menikmati keindahan masjid, dan tentunya dengan berswafoto.

“Memang masjid ini tak hanya milik Muslim. Bahkan, wisatawan non-Muslim juga diijinkan masuk. Namun ada peraturan yang harus di taati saat berada di lingkungan masjid, “ujar Marbot, Khairul.

Khaerul mengisahkan, bagi wisatawan yang berpakaian tidak sesuai tata cara Islami di wajibkan memakai jubah yang disediakan pihak masjid. Dikatakan, ada dua jenis jubah yang bisa disediakan untuk pengunjung.

“Jubah merah muda diperuntukan bagi non-Muslim dan jubah biru diperuntukan bagi wisatawan muslim yang menggunakan pakaian minim, “imbuhnya.

Ketentuan lainnya, bagi pewisatawan Muslim di perbolehkan menuaikan ibadah sholat di dalam masjid. Sedang wisatawan non-Muslim hanya diperbolehkan berada di pelataran masjid. Hal ini menjadikan masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol inklusivitas. (Red)

Penulis: M.Said Hidayatulloh

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 19 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB