Kisah Perjalanan Linkin Park di Musik Cadas, dari Hybrid Theory hingga From Zero World Tour

- Penulis

Rabu, 27 November 2024 - 07:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Grup musik rock asal Amerika Serikat, Linkin Park, bakal menggelar konser di Indonesia pada 16 Februari 2025 mendatang.

Konser ini menjadi penantian panjang para penggemar di Tanah Air, setelah 13 tahun lamanya Linkin Park absen dari panggung Indonesia.

Lebih dari sekedar konser, kembalinya Linkin Park menandai kisah perjalanan panjang mereka di blantika musik cadas selama lebih dari 20 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut AllMusic, grup musik yang terbentuk pada 1996 di Agoura Hills, California, ini memulai perjalanannya dengan nama Xero sebelum menjadi nama besar yang dikenal hari ini.

Linkin Park lahir dari kolaborasi Mike Shinoda, Brad Delson, dan Rob Bourdon, yang merupakan teman semasa sekolah.

Dengan tambahan Joe Hahn, Dave “Phoenix” Farrell, dan vokalis Mark Wakefield, mereka mulai mengejar mimpi dalam industri musik.

Akan tetapi, perjalanan awal tidak mudah. Demo mereka yang direkam dengan dana terbatas gagal menarik perhatian label besar.

Segalanya berubah ketika Chester Bennington bergabung pada 1998, menggantikan Wakefield yang hengkang.

Dengan vokal Bennington dan sinerginya dengan Shinoda, Linkin Park menemukan identitas musik mereka.

Nama band pun berganti menjadi Hybrid Theory, sebelum akhirnya menetap dengan nama Linkin Park, sebagai penghormatan terhadap Lincoln Park di Santa Monica.

Perubahan ini memimpin mereka ke penandatanganan kontrak dengan Warner Bros. Lalu menghasilkan debut album mereka, Hybrid Theory (2000), yang kemudian tercatat sebagai album debut yang terjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia.

Baca Juga :  Mengenal Dugderan, Tradisi Warga Semarang yang Tak Lekang Waktu

Hybrid Theory mendapatkan tiga nominasi Grammy dan memenangkan penghargaan di berbagai ajang musik.

Pada 2002, band ini merilis album remix Reanimation, yang menghadirkan versi baru dari lagu-lagu di album pertama mereka.

Mereka juga terus melakukan tur dunia, memperkenalkan musik mereka kepada audiens internasional, yang semakin besar.

Setelah sukses dengan Hybrid Theory, Linkin Park merilis album kedua mereka, Meteora (2003), yang berisikan lagu-lagu hits seperti Numb, Somewhere I Belong, dan “Breaking the Habit.

Meteora tidak hanya berhasil di pasaran, tetapi juga mengukuhkan Linkin Park sebagai salah satu band rock terbesar di awal 2000-an.

Selain menciptakan karya-karya orisinal, mereka juga menjelajahi proyek kolaborasi. Album Collision Course (2004), hasil kerja sama dengan rapper Jay-Z, menggabungkan musik dan lirik kedua pihak menjadi mash-up.

Pada 2007, Linkin Park merilis album ketiga mereka, Minutes to Midnight. Lagu What I’ve Done menjadi salah satu single paling sukses dari album ini.

Linkin Park terus bereksperimen dengan musik mereka, menggabungkan lebih banyak elemen elektronik dan ambient dalam A Thousand Suns (2010).

Pada 2012, mereka merilis Living Things, yang kembali menonjolkan elemen-elemen yang lebih familiar, dengan lagu seperti Burn It Down dan Lost in the Echo yang kembali ke akar rock mereka, namun tetap mengandung sentuhan elektronik.

Baca Juga :  10 Negara dengan Populasi Terbanyak di Dunia Tahun 2024, Ada Indonesia?

Dilansir dari WatchMojo, Linkin Park kembali dengan “Burn It Down” pada 2012, yang merupakan single pertama dari album berikutnya.

Living Things memulai debutnya sekali lagi di puncak tangga lagu AS dan mencapai nomor satu di enam belas negara lainnya. Mereka merilis single kedua, Lost in the Echo, pada tahun yang sama.

Tahun 2017 menjadi momen kelam bagi Linkin Park. Setelah merilis album One More Light, yang menampilkan sisi pop mereka, Chester Bennington meninggal dunia akibat bunuh diri. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi penggemar dan anggota band.

Setelah kehilangan ini, Linkin Park memilih untuk hiatus, merilis proyek-proyek arsip seperti One More Light: Live dan perayaan 20 tahun Hybrid Theory (2020).

Pada 2023, mereka kembali merilis materi langka dari era Meteora, menghidupkan kenangan bagi penggemar lama.

Pada 2024, Linkin Park bangkit dengan formasi baru. Emily Armstrong dari Dead Sara bergabung sebagai vokalis, sementara Colin Brittain menggantikan Rob Bourdon sebagai drummer.

Mereka memperkenalkan album kedelapan mereka, From Zero, yang memadukan elemen klasik dan modern. (Red/ Tempo)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 22 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB