SUARAMUDA, YOGYAKARTA – Ternyata tidak hanya manusia saja yang butuh pijat refleksi. Bahkan hewan ternak sekalipun, juga butuh pijatan layaknya di tempat therapy.
Tujuannya pun sama seperti pijat manusia, unutuk merelaksasi otot–otot dan juga mengurangi stress.
Di Jogja, tepatnya di daerah Pleret, Bantul terdapat seseorang yang berprofesi sebagai pemijat hewan ternak profesional bahkan namanya dikenal dipenjuru Jogja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adalah Abdul Rohman Siswomiarto atau sering disapa “Mbah Dul” atau “Dul Aman”—yang mewarisi teknik pijat hewan ternak dari sang ayah.
Mbah Dul sendiri sudah menggeluti bidang pijat ternak ini sejak tahun 1983. Jadi, tak bisa diragukan lagi kemahiran jari-jemari Mbah Dul dalam memijat hewan ternak.
Diketahui Mbah Dul tidak hanya memijat sapi saja, namun bisa kambing, kerbau, kuda, anjing, serta hewan lainnya.
Sebelum memulai pemijatan, biasanya Mbah Dul terlebih dahulu mengajak hewan ternak pasiennya untuk berjalan–jalan. Dari proses jalan-jalan tersebut ia mampu mendiagnosa apa saja sakit yang diderita hewan pasiennya.
Semisal ada reaksi tidak enak dari hewan saat diajak berjalan seperti pincang, malas bergerak, dan lainnya, maka dapat diketahui bagian fisik mana yang sakit.
Siapkan Ramuan
Mbah Dul juga menyiapkan ramuan atau jamu untuk hewan ternak setiap akan memulai pemijatan. Jamu tersebut berisikan cabe rawit dan beberapa rempah–rempah sebagai resep rahasia Mbah Dul.
Lalu, jamu tersebut kemudian diminumkanlah ke hewan ternak pasien sebagai obat dalam sekaligus untuk menghangatkan badan hewan tersebut.
Dalam proses memijat, Mbah Dul selalu memulai pemijatan dari area leher ternak. Hal itu, karena berdasarkan ilmu warisan dari ayahanda diketahui bahwa otot besar dan otot kecil lokasinya berada di area leher.
Keahlian Mbah Dul dari Warisan Leluhur
Keahlian Mbah Dul ini bukan diperoleh secara instan, melainkan hasil dari proses belajar panjang yang diwarisi dari leluhurnya.

Kisah Dul Aman dimulai sejak kecil dari tahun 1957. Ia tumbuh di tengah keluarga peternak sapi, menghabiskan masa kanak-kanaknya di antara suara sapi dan aroma jerami.
Ia selalu mengamati setiap gerakan, setiap tekanan, setiap teknik yang digunakan ayahnya. Lambat laun, Mbah Dul pun mulai meniru, menirukan dengan penuh ketekunan dan kesabaran.
Bukan sekadar meniru, ia juga terus belajar dan bereksperimen. Mbah Dul mempelajari anatomi sapi, titik-titik penting yang perlu dipijat, dan jenis pijatan yang sesuai untuk berbagai kondisi.
Mbah Dul juga tak segan bertanya kepada para peternak senior, menyerap ilmu dan pengalaman mereka. Dedikasi dan ketekunannya pun akhirnya membuahkan hasil.
Raih Penghargaan dari Sultan Hamengkubuwono X
Kini, keahliannya dalam memijat sapi pun semakin terasah, bahkan melebihi ayahnya. Begitu terkenalnya, keahlian Mbah Dul ini bahkan diakui juga oleh pihak Keraton Ngayogyakarta.
“Ini saya dimasukan anugrah kebudayaan dari Departemen Kebudayaan Bantul. Saya dimasukin ke anugrah ini, lantas ada panggilan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ini banyaknya ada 19 orang, “kata Mbah Dul dalam wawancara (12/11/2024) usai menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kebudayaan Bantul.
Sultan Hamengkubuwono X memberikan penghargaan kepada Mbah Dul atas jasanya dalam upaya pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam piagam tersebut Mbah Dul tidak hanya dihargai sebagai pemijat hewan saja namun juga sebagai pemijat sangkal putungputung, yakni profesi pemijat alternatif untuk kasus patah tulang.
Mbah Dul juga menambahkan bahwa dia sering menemui kasus patah tulang yang sampai remuk parah, dan dokter mendiagnosis bahwa akan sulit diobati. Namun dengan keahilannya Mbah Dul mampu mengobati patah dan remuk tulang tersebut.
Pijat ternak ini bisa terbilang cukup digemari di Indonesia. Apalagi menjelang Idul Adha, dimana para pemilik hewan ternak meninginginkan ternaknya selalu dalam kondisi sehat, bugar dan tidak stres saat mau disembelih, dijadikan hewan kurban.
Lantas, apakah teknik Mbah Dul ini efektif secara ilmiah?
Seorang dosen Fakultas Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Ir. Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt., IPP., menjelaskan bahwa terkait dengan pijat sapi ini sebetulnya ada manfaatnya.
Bahkan yang paling pertama menerapkan ini adalah negara Jepang, dimana wilayahnya yang tidak hanya memiliki musim panas dan kemarau, melainkan juga ada musim salju.
Apabila hewan ternak sapinya terus disimpan di kandang, dikhawatirkan akan terjadi kaku-kaku pada otot sapi tersebut. Maka, para peternak di Jepang melakukan pemijatan pada sapi piaraannya, supaya saluran darahnya tetap lancar dan sapi masih tetap sehat.
Oleh karenanya, mengapa daging Wagyu di Jepang terkenal sangat berkualitas tinggi, akibat dampak pemijatan berskala pada hewan sapi.
Lalu bagaimana dengan pemijatan melalui alat modern? Apakah pemijatan tradisional lebih baik?
Ir. Ajat Sudrajat menyebut, pemijatan hewan ternak (sapi) secara tradisional maupun menggunakan alat modern pada dasarnya sama.
“Keduanya itu sama, sebetulnya. Karena mempunyai fungsi untuk memijat, tapi apabila dilihat dari sisi manfaatnya tentu akan jauh lebih besar manfaat dari interaksi dengan tukang pijat secara langsung. Tapi jika dibandingkan secara ekonomis, tentu pijat menggunakan mesin ini jauh lebih hemat. Karena mungkin operatornya hanya satu tapi bisa meng-handling untuk ribuan ekor, “paparnya.
Ia menambahkan bahwa selain untuk menjaga kesehatan ternak, pijat sapi ini menumbuhkan interaksi antara si peternak dan juga ternaknya.
Tentu ini juga menjadi salah satu alternatif supaya menciptakan ‘chemistry’ ataupun kedekatan dengan ternak. (Red)
Penulis: Nur Sulistiyo Nugroho













Komentar