
SUARAMUDA – Tawuran dapat dikategorikan sebagai bentuk kenakalan remajaatau juvenile delinquency. Menurut Mansoer (dalam Solikhah, 1999) tawuran adalah perkelahian massal antar kelompok pelajar laki-laki dengan kekerasan yang ditujukan pada kelompok pelajar dari sekolah lain.
Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa dalam kasus tawuran pelajar pelakunya adalah pelajar laki-laki yang berkelompok. Atau, jika peserta tawur adalah para remaja maka disebut pula sebagai tawuran remaja, dan seterusnya.
Tawuran di Semarang
Aksi tawuran baik yang dilakukan remaja atau pelajar tak selalu hanya terjadi di kota-kota besar, atau metropolitan selayaknya Jakarta. Di Semarang, misalnya, aksi tawuran antar remaja belakangan ini sangat meresahkan.
Jawa Pos Radar Semarang (16/6/2024) bahkan melaporkan bahwa hampir setiap hari, aksi tawuran antar remaja terjadi di Kota Semarang. Seperti ditulis media itu, “setelah di Semarang Barat, aksi tawuran juga terjadi di wilayah Kecamatan Candisari, Minggu (16/6/2024) sekitar pukul 04.15 wib”.
Dalam keterangan pihak kepolisian, disebutkan ada sembilan orang diamankan Polsek Candisari Kota Semarang.
“Ada sembilan orang yang diamankan, sudah dewasa semua. Barang bukti yang diamankan sejumlah sajam (celurit),” ungkap Kapolsek Candisari, Iptu Handry Kristanto, seperti dikutip dari Jawa Pos Radar Semarang.
Pihak kepolisian langsung menuju lokasi, usai mendapat laporan masyarakat. Walhasil, ada sembilan orang yang berhasil diamankan bersama warga sekitar. Sedangkan berdasarkan hasil pengecekan dan penyisiran, ditemukan sebanyak empat celurit dengan ukuran kurang lebih satu meter.
Jawa Pos Radar Semarang juga merilis bahwa sehari sebelumnya, aksi tawuran juga terjadi di wilayah Semarang Barat, Sabtu (15/6/2024). Medan tawuran atau TKP, berada di sekitaran dekat STIKES Tlogorejo. Kabarnya, aksi kejadian tersebut merenggut satu nyawa dan korbannya adalah warga Semarang Barat. Miris!
Aksi tawuran sebenarnya sudah menjadi trend sejak lama dan bahkan menjadi suatu kebiasaan yang dianggap normal karena termasuk bagian dari kenakalan remaja.
Tetapi tawuran tak bisa dianggap normal atau atau tindakan yang wajar. Sebab kegiatan ini sangat merugikan banyak orang, mulai dari sulitnya aksesibilitas jalan, ekonomi terhambat, hingga korban jiwa.
Penyebab Tawuran
Dalam artikel dalam laman inilah.com (5/6/2023) ditulis, “apapun alasannya, aksi baku hantam seperti sudah seharusnya tidak dilakukan lagi karena tidak bermanfaat untuk diri mereka maupun lingkungan sosial”. Selain menjadi ajang pamer ketangguhan, kegiatan tawuran juga bisa terjadi akibat dari penyebab-penyebab berikut ini:
1. Krisis Identitas
Usia remaja 10-20 tahun biasanya sedang mengalami masa identity versus identity diffusion atau yang biasa disebut dengan krisis identitas.
Banyak orang tua yang berharap anak-anak dapat mencontoh karakternya. Namun tak sedikit orang tua yang melupakan bahwa pendidikan dan sosial juga memiliki pengaruh dalam masa pembangunan identitas diri mereka.
Terlebih lagi sekarang anak-anak sudah mulai aktif mengakses media sosial dan menemukan role model yang mereka sukai. Bahkan mereka bisa memodifikasi dan menyatukan nilai-nilai dan prinsip yang dipegang penuh oleh role model dan membentuk identitas yang baru yang mereka nilai baik.
Masalahnya, dalam tahapan ini biasanya remaja sulit untuk membedakan mana perilaku yang baik dan mana yang buruk. Jika dibiarkan, hal ini akan berakibat buruk dalam proses keputusan masalah yang mereka buat dan menimbulkan penyimpangan sosial.
2. Kurang Pengawasan
Kurangnya pengawasan dari orang tua atau wali bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya tawuran. Mereka baru saja memasuki fase krisis identitas dan tidak bisa memilah mana hal yang baik dan benar.
Minimnya pantauan orang tua juga membuat mereka bebas keluar rumah dan berteman dengan orang yang salah. Perpaduan ini semakin diperkeruh dengan tenaga dan emosi anak remaja yang masih sangat banyak.
Alih-alih digunakan untuk melakukan kegiatan positif, mereka cenderung mengeluarkan tenaganya untuk baku hantam supaya terlihat keren untuk mereka sendiri.
3. Pengaruh Gengsi
Gengsi menjadi salah satu penyebab utama tawuran yang terjadi antar pelajar. Belum ada penelitian resmi yang mengungkapkan hal ini.
Namun berdasarkan fakta lapangan menyebut bahwa gengsi menjadi alasan utama terjadinya tawuran supaya tidak disebut pecundang atau cupu.
4. Rivalitas Antar Sekolah
Rivalitas antar pelajar atau hubungan buruk antar sekolah menjadi pemicu utama terjadinya tawuran. Biasanya hal ini terjadi saat satu kelompok mengejek rendah kelompok lainnya.
Mereka dikucilkan dan terhina, akhirnya korban ejekan mulai melakukan perlawanan hingga sampai terjadilah pertengkaran.
5. Kontrol Diri Lemah
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, usia remaja masih dalam tahap ketidakstabilan emosi yang membuat mereka cepat marah dan frustasi.
Memiliki kontrol diri yang lemah membuat mereka memilih jalan termudah untuk menyelesaikan masalah, salah satunya adalah by one hingga tawuran.
Upaya Pencegahannya
Ada banyak cara mencegah tawuran yang bisa dilakukan, namun cara-cara dibawah ini bisa terjadi jika kelompok, organisasi masyarakat, tokoh ulama, masyarakat, dan pihak-pihak lainnya bisa berkontribusi dan bersatu membangun karakter penerus bangsa dengan baik.
Berikut adalah 5 cara mencegah tawuran yang dikutip dari laman polri.go.id:
1. Perbanyak Silaturahmi
Cara mencegah tawuran yang pertama adalah silaturahmi yang baik antara suatu kelompok atau individu. Tawuran biasanya terjadi saat adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak atau adanya provokasi dari pihak lain yang memicu terjadinya pertengkaran atau tawuran.
Dengan bersilaturahmi atau berkunjung satu sama lain dan membahas hal-hal yang positif dapat mengurangi atau bahkan mencegah terjadinya tawuran.
Hal ini juga berlaku di lembaga pendidikan seperti sekolah yang harus memperbanyak ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh semua siswa-siswinya sehingga dapat menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih positif.
2. Adanya Delegasi-Delegasi Kuat
Tawuran bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, bahkan pelaku tawuran sendiri tidak hanya berlaku pada pelajar saja. Orang dewasa juga bisa terlibat dalam kegiatan tawuran. Untuk mensiasati hal-hal tersebut diperlukan lembaga kuat yang dapat memberikan hukuman untuk mencegah terjadinya tawuran.
Untuk masyarakat sosial, RT atau RW setempat bisa mendiskusikan jenis hukuman tegas yang akan berlaku bagi warganya yang ikut tawuran. Cara ini cukup efektif dan membuat jera para pelaku tawuran sehingga mereka jera dan berpikir ulang untuk mengulangi perbuatan itu di kemudian hari.
3. Mediasi
Apabila sudah terjadi kesalahpahaman antara kedua belah pihak, maka mediasi menjadi langkah yang tepat untuk menenangkan emosi kedua belah pihak.
Dengan adanya pihak-pihak ketiga, kedua kelompok yang salah paham bisa meminta pendapat, pemahaman, perspektif baru, dan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah itu dengan baik-baik.
4. Memperluas Pengetahuan dalam Konteks Agama, Hukum dan Sosial
Baik di agama, hukum maupun norma sosial, tindakan kriminal tawuran atau menyakiti orang lain tidak dibenarkan apapun alasannya.
Maka dari itu, orang tua, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial harus bisa memberi edukasi yang baik dalam konteks agama dan hukum.
Hal ini sangat penting dilakukan supaya mereka bisa berpikir secara rasional saat menyikapi masalah. Dengan begitu, mereka akan tumbuh menjadi kepribadian yang lebih baik, dapat mengontrol emosi, dan berpikir lebih kritis untuk menyelesaikan masalah tanpa baku hantam.
5. Menumbuhkan Karakter yang Kuat
Cara mencegah tawuran yang terakhir adalah mengedukasi anak-anak menjadi karakter yang bijaksana dan cerdas. Hal ini bisa didapatkan melalui lembaga pendidikan seperti sekolah.
Meskipun begitu, orang tua juga memiliki kontribusi besar terhadap tumbuh kembang karakter anak-anak mereka. Anak-anak mungkin tidak senang jika selalu dinasihati oleh orang tua karena mereka biasanya menganggap nasihat itu adalah ocehan orang tua.
Alih-alih menasihati, cobalah untuk mendekati anak dan bertukar cerita keseharian kalian. Biasanya cara ini cukup efektif untuk anak lebih terbuka kepada orang tua.
Dari obrolan ringan ini orang tua bisa menilai pola pikir sang anak, situasi sekolah, dan kehidupan mereka.
Jika terdengar adanya kebingungan yang bisa menyebabkan anak salah jalan, cobalah untuk mengoreksinya secara perlahan.
Misalnya, ajak mereka untuk mencari hobi yang lebih positif seperti bermain musik, menggambar, atau lainnya supaya waktu luang mereka bisa dilakukan untuk mengembangkan bakat. (***)