Beda Konsep, Bos! Gibran Dorong AI di Sekolah, Wali Kota New York Malah Rem Penggunaan AI

Gibran melihat AI sebagai bekal generasi masa depan, sementara Zohran Mamdani memilih membatasi penggunaannya di sekolah dasar dan SMP demi menjaga kemampuan berpikir kritis serta interaksi langsung siswa

- Penulis

Jumat, 4 September 2026 - 12:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara dunia memandang pendidikan. Teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang hanya dekat dengan dunia industri dan orang dewasa, kini mulai masuk ke ruang kelas.

Namun, cara setiap pemerintah menyikapi kehadiran AI di sekolah ternyata tidak sama. Di Indonesia, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka justru mendorong generasi muda agar terbuka dan mampu menguasai teknologi AI.

Sementara itu, Wali Kota New York Zohran Mamdani mengambil pendekatan yang jauh lebih hati-hati dengan memberlakukan moratorium penggunaan AI generatif bagi siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perbedaan pendekatan tersebut menarik untuk diperhatikan. Sebab, baik Gibran maupun Mamdani sama-sama berbicara tentang masa depan pendidikan dan generasi muda di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Bedanya, Gibran melihat AI sebagai teknologi yang harus segera dikenalkan dan dikuasai oleh generasi muda agar mereka tidak tertinggal.

Sementara Mamdani melihat adanya kebutuhan untuk melindungi proses tumbuh kembang anak agar kemampuan berpikir, berinteraksi, berkomunikasi, dan memecahkan masalah secara mandiri tidak tergantikan oleh teknologi.

Gibran: AI Harus Dipelajari Sejak Dini

Gibran dalam berbagai kesempatan menunjukkan pandangan yang cukup terbuka terhadap penggunaan teknologi dalam pendidikan. Ia mendorong generasi muda agar tidak takut terhadap perkembangan AI, melainkan belajar memahami dan memanfaatkannya secara tepat.

Bagi Gibran, perkembangan teknologi merupakan bagian dari perubahan zaman yang tidak mungkin dihindari. Karena itu, pendidikan harus mampu mempersiapkan anak-anak Indonesia agar memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Pandangan tersebut salah satunya terlihat ketika Gibran meninjau penerapan pembelajaran berbasis AI dan literasi digital di SMP Santo Yusup Bandung pada Maret 2026. Dalam kunjungan tersebut, Wapres mengapresiasi pembelajaran coding dan pemanfaatan teknologi yang dilakukan para siswa.

Bagi pemerintah, pengenalan teknologi sejak usia sekolah dipandang penting untuk membangun kemampuan digital generasi muda sehingga mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dan mengembangkannya.

Pada 3 September 2026, Gibran juga kembali mendorong kalangan pelajar dan pemuda agar terbuka terhadap perkembangan teknologi, termasuk AI dan coding, saat menerima Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU).

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah ingin mendorong generasi muda untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. AI tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dijauhi, melainkan sebagai instrumen yang harus dipahami agar dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas.

Pendekatan Gibran juga tidak berarti bahwa AI dimaksudkan untuk menggantikan guru. Justru, AI dipandang sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Teknologi dapat membantu siswa mencari informasi, mengembangkan ide, belajar coding, hingga meningkatkan kreativitas.

Baca Juga :  Debut Mengguncang! Lysa Belmar Siap Bawa Musik Indonesia Mendunia

Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan pendampingan dan literasi agar siswa tidak menjadikan teknologi tersebut sebagai jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

Mamdani Justru Memberi Rem

Pendekatan berbeda terlihat di New York. Wali Kota Zohran Mamdani memilih untuk memberlakukan moratorium penggunaan AI generatif oleh siswa pada jenjang pendidikan tertentu, mulai dari 2-K hingga kelas 8.

Kebijakan tersebut diberlakukan bukan karena pemerintah New York menganggap AI sebagai teknologi yang tidak berguna, tetapi karena adanya kekhawatiran bahwa penggunaan AI secara terlalu dini dan tanpa pengawasan dapat mengganggu proses pembentukan kemampuan dasar anak.

Pemerintah New York menilai bahwa anak-anak pada usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama masih membutuhkan pengalaman belajar yang sangat bergantung pada interaksi manusia.

Mereka perlu belajar berdiskusi, berargumentasi, menulis, membaca, memecahkan masalah, bekerja sama, berkreasi, dan berkomunikasi secara langsung dengan guru maupun teman sebaya.

Kemampuan-kemampuan tersebut dianggap sebagai fondasi penting yang tidak boleh tergeser hanya karena keberadaan teknologi yang mampu memberikan jawaban secara instan.

Karena itu, kebijakan Mamdani lebih tepat dibaca sebagai bentuk kehati-hatian daripada sikap anti-AI. Pemerintah New York tetap mengakui bahwa AI akan menjadi bagian penting dari kehidupan generasi mendatang.

Namun, penggunaannya ingin dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat kesiapan siswa. Untuk siswa sekolah menengah atas, misalnya, pemerintah New York justru menyiapkan literasi AI agar mereka memahami manfaat sekaligus risiko teknologi tersebut.

Dengan pendekatan seperti itu, Mamdani seolah ingin mengatakan bahwa anak-anak tidak perlu buru-buru menyerahkan proses berpikirnya kepada mesin. Mereka harus memiliki kemampuan dasar untuk berpikir secara mandiri terlebih dahulu sebelum menggunakan AI sebagai alat bantu.

Bukan AI versus Guru

Jika diperhatikan lebih jauh, perbedaan Gibran dan Mamdani sebenarnya bukan pertarungan antara pihak yang pro-AI dengan pihak yang anti-AI. Keduanya sama-sama mengakui bahwa AI akan menjadi bagian dari masa depan. Perbedaannya terletak pada bagaimana dan kapan teknologi tersebut seharusnya digunakan oleh anak-anak.

Gibran lebih menekankan pentingnya akselerasi. Jika AI akan menjadi bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, dan dunia kerja masa depan, maka generasi muda harus mulai mengenalnya sejak dini.

Anak-anak perlu memiliki literasi teknologi agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara produktif.

Sementara itu, Mamdani lebih menekankan aspek perlindungan terhadap proses pendidikan dasar. Anak-anak tidak boleh kehilangan kesempatan untuk mengalami proses belajar secara langsung hanya karena teknologi mampu memberikan jawaban dengan cepat.

Baca Juga :  Horok-Horok: Warisan Lezat dari Masa Penjajahan yang Tetap Jadi Primadona Kuliner Jepara

Menurut pendekatan ini, kemampuan berpikir kritis dan mandiri justru harus dibangun terlebih dahulu sebelum AI digunakan secara lebih intensif.

Di sinilah posisi guru menjadi sangat penting. Kehadiran AI seharusnya tidak membuat guru kehilangan peran. Sebaliknya, guru justru menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan secara sehat dalam pembelajaran.

Guru dapat mengarahkan siswa agar memanfaatkan AI untuk mengembangkan gagasan, bukan sekadar menyalin jawaban. Guru juga dapat membantu siswa membedakan informasi yang benar dan keliru serta memahami bahwa jawaban dari AI tidak selalu berarti jawaban yang benar.

Indonesia Pilih Akselerasi, New York Pilih Kehati-hatian

Perbedaan pendekatan Gibran dan Mamdani pada akhirnya memperlihatkan dua cara berbeda dalam menghadapi revolusi AI. Indonesia cenderung memilih akselerasi dengan mendorong pengenalan AI dan coding sejak usia sekolah.

Logikanya sederhana: jika teknologi berkembang dengan sangat cepat, maka pendidikan juga harus bergerak cepat agar generasi muda tidak tertinggal.

New York memilih pendekatan yang lebih hati-hati dengan membatasi penggunaan AI generatif pada anak-anak usia sekolah dasar dan SMP. Pemerintah kota tersebut ingin memastikan bahwa kemampuan dasar seperti berpikir kritis, kreativitas, interaksi sosial, dan pemecahan masalah tetap berkembang secara optimal sebelum anak terlalu bergantung pada teknologi.

Kedua pendekatan tersebut tentu memiliki kelebihan dan risikonya masing-masing. Terlalu cepat memasukkan AI ke ruang kelas tanpa literasi yang memadai dapat membuat siswa menjadi terlalu bergantung pada mesin.

Sebaliknya, terlalu lama menjauhkan anak dari AI juga berisiko membuat mereka kurang siap menghadapi dunia yang semakin terdigitalisasi.

Karena itu, perdebatan mengenai AI dalam pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah AI boleh atau tidak boleh digunakan di sekolah.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan, pada usia berapa mulai diperkenalkan, seberapa besar pengawasan guru diperlukan, dan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa sebelum menggunakan AI.

Pada akhirnya, baik pendekatan Gibran maupun Mamdani memiliki satu titik temu penting: AI tidak semestinya menggantikan manusia dalam pendidikan.

Teknologi boleh berkembang semakin pintar, tetapi sekolah tetap harus menjadi ruang bagi anak untuk belajar menjadi manusia yang mampu berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, berkreasi, dan mengambil keputusan.

AI boleh masuk kelas. Tetapi jangan sampai kelas kehilangan gurunya. Jangan sampai siswa mendapatkan jawaban lebih cepat, tetapi kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana menemukan jawaban tersebut.

Sebab, masa depan pendidikan bukan tentang siapa yang lebih pintar antara manusia dan mesin. Persoalannya adalah bagaimana manusia menggunakan mesin yang semakin pintar tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan kepalanya sendiri. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB