SUARAMUDA.NET, LAMONGAN — Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 menyisakan duka mendalam bagi saudara-saudara kita di Flores, Nagekeo, dan sekitarnya.
Merespons bencana ini, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukodadi bersama Lazismu KLL Sukodadi dan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) tidak hanya menggerakkan roda penggalangan dana kemanusiaan, tetapi juga mengubah momen ini menjadi kelas edukasi nyata bagi generasi muda.
Melalui surat edaran dan kampanye khusus yang ditujukan kepada Kepala Sekolah dan Guru di lembaga pendidikan (PAUD, MI, SMP/MTs, dan SMAM) se-Cabang Sukodadi, mereka mengajak siswa untuk belajar berempati, peduli, dan mengamalkan semangat Al-Ma’un—bahwa kepedulian tidak diukur dari besar-kecilnya nominal, melainkan dari ketulusan hati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penggalangan Dana Kemanusiaan dan Edukasi Karakter Berbasis Al-Ma’un
Inti dari gerakan ini adalah penggalangan dana kemanusiaan untuk korban gempa NTT yang dikombinasikan dengan edukasi karakter bagi pelajar.
PCM Sukodadi menginstruksikan pengumpulan donasi dari anggota, simpatisan, dan warga di lingkungan ranting serta lembaga pendidikan.
Namun, yang membedakan gerakan ini adalah penekanannya pada aspek pendidikan. Lazismu secara khusus mengedukasi anak-anak sekolah tentang pentingnya empati dan kepedulian sosial.
Pesan yang disampaikan sangat lugas dan menyentuh: “Bukan tentang seberapa besar atau kecil yang kita beri, tetapi seberapa tulus kita peduli.”
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak korban, seperti hunian darurat, makanan siap saji, family kit, obat-obatan, dan air bersih.
Perlu dicatat, penggalangan ini khusus menerima bantuan dana (finansial) dan tidak menerima barang bekas atau pakaian layak pakai, untuk memastikan distribusi yang efektif dan tepat guna.
Sinergi PCM, Lazismu, Sekolah, dan Siswa sebagai Agen Kebaikan
Protagonis dalam gerakan ini adalah seluruh elemen Persyarikatan Muhammadiyah di Sukodadi, yang dipimpin oleh Ketua PCM Sukodadi, Agustain, S.Pd., serta dioperasionalkan oleh Kantor Layanan Lazismu (KLL) Sukodadi.
Target utama ajakan edukasi dan penggalangan ini adalah Kepala Sekolah, Guru, dan Siswa di seluruh lembaga pendidikan Muhammadiyah (PAUD, MI, SMP/MTs, dan SMAM) se-Cabang Sukodadi.
Di sisi penerima manfaat adalah ribuan warga NTT yang terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, Sikka, dan Nagekeo.
Kolaborasi ini menempatkan siswa bukan hanya sebagai objek didik, tetapi sebagai subjek kebaikan yang langsung terlibat dalam aksi kemanusiaan.
Momentum Cepat Tanggap Pasca Gempa 15 Agustus 2026
Gerakan ini diluncurkan secara resmi melalui surat edaran tertanggal 12 Rabi’ul Awwal 1448 H / 25 Agustus 2026, tepat sepuluh hari setelah gempa dahsyat melanda NTT pada 15 Agustus 2026.
Penggalangan dana di lingkungan ranting dan sekolah ditetapkan berlangsung hingga Jumat, 28 Agustus 2026. Selanjutnya, untuk memudahkan koordinasi, penyetoran akhir dari masing-masing lembaga pendidikan ke Lazismu Lamongan (melalui KLL Sukodadi) ditetapkan paling lambat pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Kecepatan respons ini krusial mengingat korban di NTT sangat membutuhkan bantuan mendesak untuk bertahan hidup di masa-masa awal pasca-bencana.
Dari Sukodadi Lamongan untuk Bumi Flores NTT
Secara geografis, gerakan ini berpusat di Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dengan melibatkan seluruh ranting dan sekolah Muhammadiyah di wilayah tersebut.
Dana dan kepedulian yang terkumpul di Lamongan ini akan disalurkan ribuan kilometer ke timur Indonesia, tepatnya ke provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pusat gempa berada 30 km Timur Laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 km, yang dampaknya terasa luas hingga ke berbagai kabupaten di Pulau Flores.
Jarak yang jauh ini tidak menjadi penghalang bagi warga Sukodadi untuk menyalurkan uluran tangan.
Membangun Empati Generasi Muda dan Meringankan Beban Saudara Sebangsa
Mengapa PCM dan Lazismu Sukodadi melibatkan sekolah-sekolah secara masif? Ada dua alasan fundamental. Pertama, alasan kemanusiaan: saudara-saudara kita di NTT sedang kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan dukungan logistik segera sebagai wujud nyata ukhuwah islamiyah dan persaudaraan sesama anak bangsa.
Kedua, alasan pendidikan: ini adalah momentum emas untuk menanamkan nilai Al-Ma’un (suka menolong/ berbagi) dalam kurikulum kehidupan siswa.
Di tengah arus individualisme, anak-anak perlu diajarkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab sosial. Dengan terlibat langsung, siswa belajar bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kepedulian terhadap penderitaan orang lain, sekaligus melatih kepekaan hati dan keikhlasan.
Mekanisme Donasi Mudah dengan Layanan Jemput dan Edukasi
Bagaimana sekolah dan siswa dapat berpartisipasi dengan mudah? Lazismu KLL Sukodadi merancang mekanisme yang sangat praktis dan edukatif:
1. Edukasi di Kelas: Guru dapat menggunakan waktu yang tersedia untuk mendiskusikan empati dan kondisi saudara kita di NTT.
2. Pengumpulan di Sekolah: Lazismu menyediakan file tempelan kardus/box donasi yang bisa dicetak dan ditempel di kelas atau ruang guru untuk mengumpulkan donasi sukarela.
3. Layanan Jemput Donasi + Edukasi: Bagi sekolah yang membutuhkan, Tim Lazismu siap datang langsung ke sekolah untuk memberikan materi edukasi singkat kepada siswa sekaligus menjemput donasi yang telah terkumpul. Sekolah cukup mengonfirmasi kehadiran tim ke petugas.
4. Transfer Langsung: Donasi juga dapat disalurkan langsung ke rekening resmi Bank BSI: 7355128835 (a.n. KL Lazismu Sukodadi) atau Bank BRI: 004101150432507 (a.n. Kartika Ayuningtyas).
5. Konfirmasi: Setiap transfer atau penjemputan donasi wajib dikonfirmasi melalui WhatsApp ke 0813-5990-6848 (KL Lazismu Sukodadi).
Dari Sukodadi untuk NTT, Sedikit tapi Tulus
Gerakan penggalangan dana dan edukasi kepedulian oleh PCM dan Lazismu Sukodadi ini adalah bukti bahwa Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai organisasi massa, tetapi juga sebagai pendidik karakter bangsa yang peka terhadap penderitaan umat.
Kepada para Kepala Sekolah dan Guru di Sukodadi, mari manfaatkan momentum ini. Ajak siswa-siswi kita untuk menyisihkan uang jajan mereka, sekecil apapun itu.
Karena pada akhirnya, yang sampai ke NTT bukan hanya nominal rupiah, tetapi juga doa, empati, dan cinta dari anak-anak Lamongan. Mari bersama Lazismu, wujudkan generasi yang berempati dan berjiwa Al-Ma’un. Untuk NTT, untuk Indonesia. (SAMI’AN)













Komentar