SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setahun sudah duet Luthfi–Yasin memimpin Jawa Tengah dengan jargon khas: “ngopeni-ngelakoni” — merawat dan menjalankan.
Terdengar hangat, membumi, dan penuh semangat. Tapi sayangnya, kehangatan itu tampaknya tak sampai ke kolom komentar.
Alih-alih panen tepuk tangan, yang muncul justru badai tombol “tidak puas”.
Akun Instagram @teropongjateng.id bikin polling online pada Senin (23/2/2026). Bukan polling receh — hampir 47,9 ribu netizen ikut nimbrung. Pilihannya sederhana: puas, belum puas, atau tidak puas.
Akun Instagram @teropongjateng.id bikin polling online pada Senin (23/2/2026). Bukan polling receh — hampir 47,9 ribu netizen ikut nimbrung. Pilihannya sederhana: puas, belum puas, atau tidak puas.
Hasilnya? Plot twist yang nggak perlu spoiler alert.
Sembilan puluh tiga persen. Itu bukan angka typo. Itu bukan juga salah pencet. Itu mayoritas mutlak yang kalau ini pilkada, bisa bikin tim sukses langsung minta time out.
Netizen tampaknya tak sepenuhnya terinspirasi oleh narasi “ngopeni-ngelakoni”. Di dunia maya, yang terasa justru “ngelus dada, ngelihat janji”.
Postingan setahun kepemimpinan itu pun meledak interaksi. Tercatat 6.440 likes, 7.278 komentar, direpost 277 kali, dan dibagikan 855 kali.
Angka yang membuktikan satu hal: publik peduli. Tapi peduli saja tak cukup kalau mayoritas merasa belum—atau bahkan tidak—terlayani.
Satirnya begini: jargon sudah ngopeni, tapi netizen merasa belum benar-benar diopeni. Pemerintahan sudah ngelakoni, tapi warga bertanya, “yang dilakoni itu apa saja?”
Tentu, survei Instagram bukan lembaga riset ilmiah dengan margin of error terukur. Tapi di era digital, suara warganet adalah alarm yang tak bisa dianggap notifikasi biasa. Ketika 93% kompak klik “tidak puas”, itu bukan sekadar opini— itu sinyal.
Setahun pertama mestinya jadi fondasi. Namun kalau fondasinya retak di persepsi publik, tahun kedua tak bisa lagi cuma jualan slogan.
Karena di zaman sekarang, rakyat bukan cuma mau dirawat. Mereka juga mau bukti dirasa. (Red)