Lurr! Kata Menteri Bappenas, MBG Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja: Piye Jal?

Foto: Paviliun Indonesia resmi menutup partisipasinya di ajang World Expo 2025 Osaka pada Minggu (12/10/2025), setelah enam bulan menjadi etalase Indonesia di panggung dunia. (Dok. Kementerian PPN/Bappenas)

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan. Kali ini, pernyataan datang langsung dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, yang blak-blakan menyebut MBG lebih mendesak ketimbang penciptaan lapangan kerja.

Yes, kamu nggak salah baca.

Dalam forum Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026), Rachmat menyampaikan pandangannya dengan nada serius tapi nyeletuk.

“Apakah MBG penting? Penting sekali. Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja,” tegasnya.

Menurut Rachmat, persoalan gizi—terutama di kalangan anak-anak Indonesia—sudah masuk fase darurat. Di satu sisi, sebagian anak mungkin bisa menikmati makanan layak.

Tapi di sisi lain, masih banyak anak di pelosok negeri yang lapar dan kekurangan gizi, bahkan ketika pembangunan infrastruktur sudah masif dilakukan.

“Kalau kita lihat anak-anak stunting, coba tanya mereka makan apa,” ujarnya. Ia menegaskan, pembangunan hari ini tak bisa lagi hanya fokus pada beton dan jalan mulus, tapi juga pada perut yang terisi.

Ia pun menanggapi argumen klasik soal “beri kail, bukan ikan”. Menurutnya, logika itu tidak sepenuhnya relevan dalam kondisi darurat pangan.

“Kalau dikasih kail, sudah keburu mati. Coba lihat saudara-saudara kita di ujung pelosok desa. Mereka lapar,” katanya lugas.

Lebih jauh, Rachmat menyoroti dampak serius kelaparan terhadap masa depan generasi muda. Anak-anak yang kelaparan, kata dia, bukan cuma sulit belajar—bahkan tak sedikit siswa SMP dan SMA yang belum bisa baca-tulis.

“Ketika saya mendampingi Pak Presiden meresmikan sekolah rakyat, banyak anak SMP-SMA yang tidak bisa baca tulis. Dan itu banyak sekali,” ucapnya, dengan nada prihatin.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program sosial, tapi juga mesin penggerak ekonomi.

Hal itu ia sampaikan dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) malam WIB.

Prabowo menyebut, lebih dari 61 ribu UMKM dan koperasi kini terlibat dalam rantai pasok MBG. Dampaknya? Ratusan ribu lapangan kerja tercipta.

“Kami menciptakan lebih dari 600 ribu lapangan kerja hanya di dapur-dapur tersebut. Pada puncaknya, kami optimistis mencapai 1,5 juta lapangan kerja langsung,” ujar Prabowo.

Angka itu, kata Prabowo, masih akan terus bertambah seiring keterlibatan vendor dan pemasok. Ia optimistis, kebijakan sosial seperti MBG bakal mendorong produktivitas sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kebijakan sosial kita harus meningkatkan produktivitas dan menghasilkan pertumbuhan,” pungkasnya. (Red)

Sumber: CNBC Indonesia

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like