Rumah Sakit Jiwa Luncurkan Single “Ranjau Darat”

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Band Crazy Metal asal Bandung, Rumah Sakit Jiwa, resmi merilis single terbaru bertajuk “Ranjau Darat”. Lagu ini menjadi penegasan karakter musikal mereka yang agresif, teatrikal, sekaligus sarat kritik sosial, dibalut dengan energi liar yang sudah menjadi ciri khas band sejak awal terbentuk.

Rumah Sakit Jiwa digawangi oleh Agus Nyno (vokal), Van (lead guitar), Shaldy (melody/rhythm guitar), Bo’oy (bass), Rudeath (drum), serta Imez Bombay (additional bass & backing vocal).

 

Band ini terbentuk di Bandung dan aktif bermusik sejak 2015, berawal dari kebiasaan nongkrong dan membawakan lagu-lagu cover sebelum akhirnya serius menggarap karya orisinal.

Nama Rumah Sakit Jiwa sendiri awalnya terdengar seperti nama sebuah perusahaan, namun kemudian diusulkan oleh Anas, personel pertama band ini, sebagai identitas yang merepresentasikan karakter liar dan bebas dalam bermusik.

Sejak saat itu, nama tersebut menjadi simbol dari eksplorasi musikal mereka yang tak terikat pakem.

Mengusung perpaduan Rock Metal dan Alternative Metal, Rumah Sakit Jiwa menyebut gaya bermusik mereka sebagai Crazy Metal. Keunikan band ini tak hanya terletak pada musik, tetapi juga pada konsep visual dan aksi panggung.

Setiap tampil, para personel mengenakan topeng serta menghadirkan aksi teatrikal acak. Bahkan, di lagu terakhir, sang vokalis kerap menampilkan adegan seolah kehilangan kendali karena “kehabisan obat”, mulai dari melompat, tiduran di panggung, hingga muntah sungguhan, yang menjadi ciri khas paling ikonik dari penampilan mereka.

Dalam perjalanan bermusik, Rumah Sakit Jiwa mengaku sangat terpengaruh oleh Burgerkill, terutama almarhum Eben Burgerkill, yang semasa hidup kerap memberikan dukungan dan semangat agar mereka terus mengembangkan karya hingga bisa dikenal lebih luas.

Single terbaru “Ranjau Darat” menghadirkan lirik dalam dua bahasa, Indonesia dan Sunda. Lagu ini mengangkat pesan tentang kehati-hatian dalam melangkah, karena kesalahan kecil bisa membawa dampak besar.

Namun di balik itu, tersimpan kritik sosial yang tajam terhadap realitas politik dan perilaku para pejabat.

Lagu ini terinspirasi dari kisah seorang calon pejabat yang dengan penuh percaya diri menyuap masyarakat demi mendapatkan jabatan. Alih-alih menang, ia justru bangkrut, gagal total, hingga akhirnya kehilangan akal dan masuk Rumah Sakit Jiwa.

Istilah “ranjau darat” dalam lagu ini dimaknai sebagai tai, simbol kesialan. Ketika manusia yang tamak menginjaknya tanpa bisa membersihkan diri, maka bau itu akan terus melekat, menjadi metafora bagi kesalahan moral yang sulit dihapus.

Proses kreatif “Ranjau Darat” pun terbilang unik dan panjang. Lagu ini berawal dari kejadian nyata ketika Anas tak sengaja menginjak tai, yang kemudian memicu ide spontan untuk menciptakan lagu.

Seiring pergantian generasi personel, komposisi ini terus dikembangkan, disempurnakan, hingga akhirnya dipatenkan dan siap dirilis ke publik.

Lewat single ini, Rumah Sakit Jiwa ingin menyampaikan pesan agar masyarakat lebih kritis dalam memilih pemimpin dan tidak mudah tergoda janji manis.

Meski mengaku tidak menyukai politik, mereka menilai pemahaman tentang dunia politik adalah hal wajib agar masyarakat tidak mudah dibodohi oleh kekuasaan.

Dibandingkan karya sebelumnya yang masih identik dengan teknik scream ekstrem, “Ranjau Darat” hadir dengan karakter vokal yang lebih jelas, intonasi yang lebih mudah diterima, serta aransemen musik yang semakin menegaskan identitas Rumah Sakit Jiwa.

Hal ini membuat lagu tersebut mendapatkan respons positif dari pendengar, meski mereka mengakui masih minimnya ruang panggung bagi musisi kecil menjadi tantangan tersendiri.

Ke depan, Rumah Sakit Jiwa tengah mempersiapkan peluncuran video klip “Ranjau Darat”, dengan harapan dapat menemukan momentum yang tepat dan berkesan.

Mereka juga berharap industri musik Indonesia semakin ramah terhadap musisi independen, memberikan ruang, wadah, dan panggung bagi band-band kecil untuk terus berkembang dan berkarya.

Sebagai penutup, Rumah Sakit Jiwa menyampaikan pesan kepada para pendengar dan pendukungnya agar tidak takut bersuara di tengah situasi sosial dan politik yang carut-marut.

“Lewat lagu, kita bisa menyuarakan kritik dan aspirasi. Kalian tidak sendiri, ada kami yang siap bersuara bersama,” ujar mereka. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like