Oleh: Gebrile Mikael Mareska Udu, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
SUARAMUDA.NET, SEMARANG – “Ibu” adalah kata yang menggambarkan harapan, cinta, kehangatan serta sayang yang mengalir dalam relung-relung hati siapa saja tatkala menyebutnya.
Ibu adalah segala-galanya. Dialah penghibur di kala duka, harapan di saat derita, serta sumber kekuatan di dalam kelemahan. Siapakah yang tak mengenalnya.
Sekurang-kurangnya ingatan setiap orang tentang ibu adalah kesadaran bahwa ia pernah berlindung di dalam perutnya dan melihat dunia melalui rahimnya selama sembilan bulan. Waktu yang tak sedikit untuk mudah melupakannya.
Setiap tanggal 22 Desember, seluruh warga bangsa ini memperingati Hari Ibu. Kenyataan ini hendak menegaskan betapa sosok Ibu berharga dalam kehidupan setiap orang.
Menariknya, perayaan hari Ibu berdekatan dengan perayaan penuh makna dan bersejarah bagi umat Kristiani seluruh dunia termasuk Indonesia. Perayaaan tersebut ialah perayaan Natal yang dirayakan pada 25 Desember, tiga hari setelah hari Ibu.
Kita tak dapat menyangkal bahwa dua perayaan ini cenderung dilihat secara terpisah. Hari Ibu kerap dirayakan hanya sebatas seremoni rutin tahunan belaka yang dinilai biasa saja sehingga kian luntur maknanya.
Penetapan Hari Ibu sekadar supaya diketahui oleh setiap warga bangsa ini bahwa kaum ibu perlu dihargai dengan sebuah hari khusus dan istimewa. Tidak lebih dari itu.
Hal yang sama ketika momen Natal hanya dilihat sebagai hari khusus untuk mengenang kelahiran Sang Emanuel, peristiwa iman yakni Sang Sabda (baca: Allah) menjadi manusia.
Tanpa adanya usaha untuk merenungkan peristiwa yang terjadi sebelum dan ketika kelahiran. Bagi saya kedua hari berharga ini dapat dipertautkan dengan benang merah melihat peran ibu dalam nuansa hari Natal.
Barangkali kita semua yang beribu dan menjadi anak dari seorang ibu penting untuk menyadarinya.
Ibu adalah jembatan bagi seseorang sebelum masuk ke dalam kehidupan. Ibu berperan untuk mengandung, melahirkan sekaligus membesarkan seseorang sehingga pantaslah ia dihormati dan dihargai di mana saja dan kapan saja.
Dalam sejarah, kita bisa menemukan bagaimana penghargaan yang tinggi diberikan kepada ibu oleh karena peran kebundaannya itu.
Dalam budaya Yunani, yang dikenal sebagai budaya dengan peradaban tinggi, memberi julukan sosok ibu sebagai sang dewi agung.
Julukan tersebut hendak menegaskan sosok ibu dalam mitologi Yunani yang melambangkan keibuan universal (mengandung-melahirkan-membesarkan), kesuburan, dan sumber kekuatan penciptaan alam semesta (sumber segala yang ada).
Kebudayaan ini hendak mengartikulasikan pandangan bahwa kaum pria adalah mereka yang terlahir sebagai anak terkasih dari sang ibu agung. Selain itu, tokoh ibu sebagai sumber dari segalanya yang ada (alam semesta) dan berperan menguasai serta melindunginya.
Lalu bagaimana bangsa kita menilai peran ibu? Kita tinggal membuka kembali lembaran-lembaran legenda yang berkembang di bumi Indonesia ini terkait sosok ibu.
Kita tentunya mengenal legenda Maling Kundang dan Sampuraga dari Sumatera Barat, kisah Delana dari tanah Toraja, legenda Sangkuriang dari tanah Sunda, dan berbagai legenda lainnya yang dimiliki oleh berbagai daerah di Indonesia.
Cerita-cerita di atas dibangun oleh satu tema yakni peran ibu. Ibu digambarkan sebagai pribadi yang rela berkorban, serentak bertanggung jawab atas kehidupan anaknya.
Tidaklah mengherankan jikalau penghargaan terhadap sosok ibu digambarkan dalam satu adagium “surga ada di bawah telapak kaki Ibu”. Ketika ibu diabaikan berarti seseorang sedang menjauhkan dirinya dari surga.
Kedudukan istimewa yang diberikan kepada sosok ibu berdasarkan sejarah masing-masing bangsa, tentunya bukan tanpa alasan. Bahwasanya di tengah keluarga sosok ibu sejatinya berada pada posisi yang sentral.
Bahkan ibu diyakini menjadi penentu setiap proses atau keberhasilan di tengah keluarga. Ibu memiliki peran ganda yang berbakti kepada sang suami dan anak-anak.
Sementara sosok ayah lebih banyak terbatas pada tugas pencaharian nafkah dan kemasyarakatan. Ibu memegang peranan yang dominan yakni mendidik dan mengembangkan pribadi penerus keluarga.
Ibu juga mengisi peran ayah sebagai kepala keluarga ketika ia pergi meninggalkan rumah seperti menjaga rumah, mengurus pekerjaan rumah dan lain sebagainya. Tidak berlebihan kalau boleh dikatakan bahwa peran ibu lebih dominan dibandingkan ayah.
Cinta kasih seorang ibu tak bisa ditakar dan dibayar dengan apapun. Pandangan tersebut berangkat dari tuntutan zaman saat ini.
Yang dibutuhkan dan diutamakan adalah pribadi yang kreatif, inovatif, adaptif, reflektif, beretika, berwawasan luas serta memiliki orientasi untuk masa depan (future oriented).
Kemampuan tersebut hanya bisa dimiliki oleh seseorang ketika peran ibu dalam pendidikan anak dihidupi. Ibu mengawasi pertumbuhan serta perkembangan seorang anak sambil mengintegrasikan nilai-nilai yang dibutuhkan dalam relasinya dengan orang lain.
Peran ibu dalam mendidik anak akan berpengaruh menentukan masa depan keluarga hingga suatu bangsa. Seorang penulis wanita terkenal, Marry Corraly berpandangan, “ibu-ibu yang dapat memberikan inspirasi atau petunjuk kepada anak-anaknya demi mencapai cita-cita yang murni adalah benteng pertahanan yang akan melindungi bangsa”.
Kasih sayang ibu membuat seorang anak akan merasa diperhatikan sehingga dengan bebas mengekspresikan dirinya.
Namun ketika kasih sayang seorang ibu berkurang maka akan sangat rentan seorang anak mencari pelarian di luar rumah yang sifatnya negatif seperti pergaulan bebas, narkoba dan lain sebagainya. Persoalan ini kerap dihadapi oleh anak dengan status keluarga broken home.
Menarik untuk melihat peranan dan kedudukan ibu di tengah keluarga dalam suasana perhatian natal. Istilah natal itu sendiri berasal dari kata Latin ‘natus’ yang berarti ‘diciptakan’, ‘dilahirkan’.
Dalam perkembangannya perayaan natal dimaknai sebagai momen kelahiran Tuhan Yesus Kristus Sang Penyelamat. Namun pembicaraan seputar kelahiran tak bisa dilepaspisahkan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi seputar kelahiran itu.
Tidak bermaksud mengesampingkan kuasa Allah yang bisa berbuat apa saja atas peristiwa kelahiran tetapi kita mengetahui bahwa peristiwa kelahiran itu terjadi dalam konteks manusiawi.
Adakah kelahiran Yesus Kristus tidak seperti kelahiran kebanyakan orang? Dalam Kitab Suci, kita menemukan narasi kelahiran Yesus Kristus dari rahim perawan Maria. karena cinta dan kasihnya, Maria ibunda Yesus rela mengandung bayi Yesus selama sembilan bulan.
Berbagai tantangan ia lalui meskipun terasa berat. Bukti ketulusan cintanya sekaligus bagaimana ia mencintai sang anak tampak di dalam tutur katanya “aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).
Sang ibu sungguh menyerahkan dirinya secara total demi sang anak. Hingga akhirnya ibu Maria menunjukkan kepenuhan dan ketulusan cintanya serta kesahajaan dan kesederhanaan dengan merelakan sang anak lahir di kandang domba (bdk Luk 2:27).
Tak dapat dipungkiri sosok ibu sangat berperan dalam kelahiran kita. Ibu yang mengandung dan melahirkan kita. Peran ibu tak hanya berakhir ketika kelahiran sang anak tetapi berjuang untuk mengasuh, mendidik, hingga mempersembahkan kita kepada dunia.
Melalui tangan kasihnya kita memperoleh arahan untuk hidup di dalam jalan yang benar sehingga bisa berbakti kepada bangsa terutama kepada Allah dan kerajaan-Nya.
Peran andil ibu mencakup seluruh dimensi hidup kita dan terus berlanjut sampai akhir hidup kita. Ibu Maria telah menjadi prototipe peran ibu dalam kehidupan anak. Ibu Maria selalu setia menemani tumbuhkembang bayi Yesus.
Sebagaimana Natal mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus sang penyelamat dunia, kita juga diingatkan akan peran ibu yang telah melahirkan kita.
Semoga peringatan hari Ibu dan perayaan Natal mengingatkan kita akan peran andil ibu yang tak pernah tergantikan oleh siapa pun. Ibu adalah segala-galanya dalam kehidupan setiap orang yang pernah merasakan sentuhan kasihnya. (Red)