SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ketegangan di Arktik makin panas! Denmark resmi mengerahkan pasukan pendahulu dan peralatan militer ke Greenland—pulau raksasa yang jadi rebutan kekuatan besar dunia.
Langkah ini jadi sinyal keras bahwa Denmark tak main-main menjaga “halaman belakangnya”, apalagi setelah Amerika Serikat kembali melontarkan retorika agresif soal Greenland.
Denmark Siapkan Panggung Perang Dingin Jilid Baru
Pasukan awal dikirim untuk membangun logistik, jalur suplai, dan fasilitas militer. Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen bahkan blak-blakan: Denmark akan memperbesar kehadiran militernya secara permanen dan membuka peluang negara-negara NATO ikut latihan pada 2026.
Pemicunya? Donald Trump kembali memunculkan wacana lama: Amerika Serikat harus mengakuisisi Greenland agar tidak jatuh ke tangan Rusia atau China.
Ia menyamakannya dengan “mega real-estate deal”—komentar yang langsung bikin Denmark dan Greenland naik pitam.
Pemerintah Greenland menolak mentah-mentah. Bahkan Menteri Energi Greenland menyebut warganya sampai susah tidur karena takut masa depan wilayahnya bakal dipermainkan seperti barter tanah.
Naaja Nathanielsen, Menteri Urusan Bisnis dan Mineral, menyebut retorika Trump “menghina dan membingungkan”, mengingat Greenland selama ini justru banyak bekerja sama dengan AS.
Greenland Siap dengan NATO, Tapi… Kalau AS Menyerang?
Greenland mengaku tak keberatan meningkatkan kehadiran NATO untuk memantau Rusia dan China.
Namun ketika ditanya soal kemungkinan invasi AS, jawabannya bikin bulu kuduk berdiri: “Kalau itu terjadi, berarti satu negara NATO menyerang anggota NATO lainnya. Dunia akan runtuh.”
Drama Arktik masih berlanjut—dan Greenland kini menjadi panggung geopolitik paling panas di 2026. (Red)