SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Hari Ibu diperingati sebagai momen reflektif untuk menghormati peran, pengorbanan, dan cinta seorang ibu dalam kehidupan manusia.
Meski kini dirayakan dengan bunga, kartu ucapan, dan ungkapan kasih sayang, Hari Ibu memiliki akar sejarah yang panjang dan sarat makna sosial.
Secara global, gagasan Hari Ibu modern bermula di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Tokohnya adalah Anna Jarvis, yang memperjuangkan hari khusus untuk mengenang jasa ibu setelah wafatnya sang ibu pada 1905.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Upaya tersebut membuahkan hasil ketika pada 1914 Presiden Woodrow Wilson menetapkan Hari Ibu sebagai peringatan nasional yang jatuh setiap Minggu kedua bulan Mei.
Seiring waktu, peringatan ini menyebar ke berbagai negara dengan tanggal dan bentuk perayaan yang beragam.
Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Penetapan ini merujuk pada Kongres Perempuan Indonesia pertama yang digelar pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta.
Kongres tersebut menjadi tonggak penting perjuangan perempuan Indonesia dalam isu pendidikan, pernikahan, dan peran perempuan dalam kehidupan berbangsa.
Karena itulah, Hari Ibu di Indonesia tidak hanya dimaknai secara domestik, tetapi juga sebagai simbol kesadaran sosial dan emansipasi perempuan.
Esensi Hari Ibu sejatinya terletak pada penghargaan yang tulus terhadap peran ibu—bukan semata sebagai pengasuh keluarga, tetapi juga sebagai pendidik pertama, penjaga nilai, dan penggerak perubahan.
Hari Ibu mengingatkan bahwa kasih seorang ibu melampaui batas waktu, dan penghormatan terbaik bukan hanya lewat seremonial, melainkan melalui sikap hormat, empati, dan keadilan sepanjang hayat. (Red)













Komentar