Menelusuri Asal Usul Hari Ibu dan Esensi Kasih Sayang yang Tak Pernah Usai

- Penulis

Senin, 22 Desember 2025 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kebersamaan seorang anak dengan sang ibu di lingkungan pedesaan. (Sumber gambar: pinterest.com)

Ilustrasi kebersamaan seorang anak dengan sang ibu di lingkungan pedesaan. (Sumber gambar: pinterest.com)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Hari Ibu diperingati sebagai momen reflektif untuk menghormati peran, pengorbanan, dan cinta seorang ibu dalam kehidupan manusia.

Meski kini dirayakan dengan bunga, kartu ucapan, dan ungkapan kasih sayang, Hari Ibu memiliki akar sejarah yang panjang dan sarat makna sosial.

Secara global, gagasan Hari Ibu modern bermula di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Tokohnya adalah Anna Jarvis, yang memperjuangkan hari khusus untuk mengenang jasa ibu setelah wafatnya sang ibu pada 1905.

Upaya tersebut membuahkan hasil ketika pada 1914 Presiden Woodrow Wilson menetapkan Hari Ibu sebagai peringatan nasional yang jatuh setiap Minggu kedua bulan Mei.

Seiring waktu, peringatan ini menyebar ke berbagai negara dengan tanggal dan bentuk perayaan yang beragam.

Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Penetapan ini merujuk pada Kongres Perempuan Indonesia pertama yang digelar pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta.

Kongres tersebut menjadi tonggak penting perjuangan perempuan Indonesia dalam isu pendidikan, pernikahan, dan peran perempuan dalam kehidupan berbangsa.

Baca Juga :  Fenomena Kasus Pelecehan Dosen dan Mahasiswa

Karena itulah, Hari Ibu di Indonesia tidak hanya dimaknai secara domestik, tetapi juga sebagai simbol kesadaran sosial dan emansipasi perempuan.

Esensi Hari Ibu sejatinya terletak pada penghargaan yang tulus terhadap peran ibu—bukan semata sebagai pengasuh keluarga, tetapi juga sebagai pendidik pertama, penjaga nilai, dan penggerak perubahan.

Hari Ibu mengingatkan bahwa kasih seorang ibu melampaui batas waktu, dan penghormatan terbaik bukan hanya lewat seremonial, melainkan melalui sikap hormat, empati, dan keadilan sepanjang hayat. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 26 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB