Dari Pamer Kemewahan ke Tumbangnya Kekuasaan: Cerita Gen Z Nepal

- Penulis

Senin, 15 September 2025 - 07:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aksi protes dan demonstrasi di luar negeri, baru-baru ini. (Sumber gambar: CNBC Indonesia)

Aksi protes dan demonstrasi di luar negeri, baru-baru ini. (Sumber gambar: CNBC Indonesia)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Siapa sangka, politik Nepal memasuki babak baru hanya gara-gara … flexing pejabat. Di tengah kondisi rakyat yang banyak hidup pas-pasan, pejabat negeri itu malah sibuk pamer gaya hidup mewah. Mobil mahal, pesta glamor, hingga foto liburan ke luar negeri tersebar di media sosial.

Kesenjangan inilah yang akhirnya memicu amarah publik. Rakyat kecil yang struggling menghadapi pengangguran dan harga kebutuhan pokok melambung merasa diabaikan.

Ledakan protes pun tak bisa dihindari. Ribuan orang turun ke jalan, bukan hanya menuntut keadilan ekonomi, tapi juga perubahan sistem yang sudah dianggap bobrok.

Gelombang aksi itu kemudian mengarah ke penggulingan pemerintahan KP Sharma Oli. Para pejabat lama dianggap gagal membawa kesejahteraan, malah tenggelam dalam skandal korupsi.

Generasi Z, yang sejak lama resah dengan kondisi ini, tampil ke depan memimpin perlawanan.

Uniknya, mereka tidak hanya bergerak lewat aksi massa. Anak muda Nepal menggunakan teknologi sebagai senjata politik baru.

Melalui Discord, mereka menggelar polling daring dan secara simbolis memilih Sushila Karki—mantan Ketua Mahkamah Agung berusia 73 tahun—sebagai perdana menteri sementara.

Baca Juga :  Dari Barnaul untuk Indonesia: Kisah 4 Medali Tim SUP Merah-Putih di Tengah Siberia

Karki kini tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin Nepal. Hingga pemilu resmi pada Maret 2026, ia dipercaya untuk mengisi kekosongan kepemimpinan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa politik Nepal lahir dari rasa muak rakyat terhadap kesenjangan sosial.

Dari flexing yang menyulut api, kini lahir harapan baru: demokrasi yang lebih transparan, dipandu oleh anak muda yang berani berkata, “cukup sudah.” (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Greenland Penting bagi AS, Eropa, dan Masa Depan Arktik
Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 12:28 WIB

Mengapa Greenland Penting bagi AS, Eropa, dan Masa Depan Arktik

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Berita Terbaru

Ilustrasi: suaramuda.net

Sino Insight

China Pimpin BRICS 2027, Dedolarisasi Kembali Jadi Sorotan

Rabu, 30 Sep 2026 - 13:42 WIB

KILAS GLOBAL

Mengapa Greenland Penting bagi AS, Eropa, dan Masa Depan Arktik

Rabu, 30 Sep 2026 - 12:28 WIB

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB