Mahasiswa dan Tanggung Jawab Moral: Masihkah Layak Disebut Agent of Change?

- Penulis

Sabtu, 13 September 2025 - 07:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ferdi Fernando Putra, mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi/ dok istimewa

Ferdi Fernando Putra, mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi/ dok istimewa

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Mahasiswa sejak dulu selalu dijuluki agent of change, motor penggerak perubahan bangsa. Tapi di era digital yang serba instan, masih layak gak sih predikat itu nempel pada diri mahasiswa?

Banyak yang bilang, sekarang mahasiswa makin apatis. Diskusi kampus sepi, organisasi kehilangan daya tarik, isu kebangsaan juga kalah sama personal branding.

Kata Chomsky, kampus malah jadi pabrik pekerja, bukan lagi lahirkan intelektual kritis.

Padahal, Antonio Gramsci udah wanti-wanti: intelektual, termasuk mahasiswa, gak boleh netral. Mereka harus nyatu sama rakyat, berani bersuara, dan jaga nurani publik. Kalau enggak, ya cuma jadi elit kampus yang terasing.

Menyoroti hal itu, Ferdi Fernando Putra, mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi, masih yakin mahasiswa pantas disebut agent of change.

“Kuncinya jangan terjebak pada budaya instan. Medsos harus jadi senjata gerakan, bukan bikin kita males,” tegasnya.

Baca Juga :  Anti Ribet! Mahasiswa KKN Kelompok 96 UMBY Bantu UMKM Sareyan lewat Banner Kece

Ferdi juga ingetin, mahasiswa daerah jangan minder. Perubahan sosial gak harus lahir dari ibu kota. Dari kampus kecil pun bisa jadi api besar.

Singkatnya, agent of change itu bukan slogan. Kalau mahasiswa berani turun tangan, maka gelar itu masih relevan. Kalau cuma diam, ya tinggal sejarah aja yang bicara. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Minggu, 13 September 2026 - 05:53 WIB

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB