Raja Kecil di Negeri yang Tak Lagi ‘Sendiko Dawuh’

- Penulis

Selasa, 19 Agustus 2025 - 20:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sudewo/ gambar: istimewa

Bupati Sudewo/ gambar: istimewa

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Tak mudah menjadi raja kecil yang pongah dan arogan. Dunia kini telah modern, berbeda jauh dari 20 atau 30 tahun lalu, ketika masyarakat hanya sendiko dawuh—patuh dan tunduk pada sang raja: Bupati.

Di era teknologi informasi yang berlari kencang, kabar bisa viral hanya dalam hitungan detik. Fakta ini berlaku dari ujung Sabang hingga Merauke, tanpa batas ruang dan waktu. Akses informasi yang terbuka membuat masyarakat semakin cerdas, kritis, dan tak selalu nurut.

Rakyat Lapar, Rakyat Bersatu

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka yang “lapar” akhirnya bersatu, menyatukan persepsi, lalu tancap gas. Demonstrasi pun membara. Semua bermula dari sikap dan arogansi sang raja kecil yang berbicara dengan nada menantang, di tengah iklim ekonomi yang tak jelas. Rakyat yang tertekan akhirnya turun ke jalan.

Pada 13 Agustus, sejarah mencatat: lebih dari 50.000 massa tumpah ruah memenuhi alun-alun Pati. Kantor bupati digeruduk, dan kantor DPRD tak luput menjadi sasaran. Massa bahkan berhasil merangsek masuk ke gedung yang katanya mewakili rakyat itu.

Baca Juga :  NUH Luncurkan Single “Yank”, Tentang Cerita Cinta Sederhana di Tengah Rutinitas dan Siapkan Album Kedua

Di tengah panas terik, ibu-ibu rela membungkus snack dan makanan untuk para pengunjuk rasa. Sementara kaum papa berdiri lantang di barisan depan, meneriakkan satu tuntutan: “Raja kecil, turun!”

Kebijakan pajak naik hingga 250% dan wacana sekolah lima hari memang sudah dibatalkan. Tapi rakyat yang marah tak kenal kompromi. Mereka bukan segelintir orang—ini adalah ribuan manusia yang menuntut keadilan. Mereka susah dikendalikan.

Dari Bumi Pragola ke Ruang Media Sosial

Keberanian rakyat Pati menggema. Mereka bersuara menolak kedzaliman, dan sebagian masyarakat dari daerah lain ikut hadir atau memberi simpati.

Media sosial penuh dengan feed dan video reels aksi di “Bumi Pragola”. Anak-anak hingga orang dewasa bebas menonton drama politik raja kecil dari kota kecil bernama Pati.

Menjelang sore, media online serentak memberitakan: “DPRD Sepakati Proses Pemakzulan Bupati Pati”. Kabar itu menjadi headline yang melesat cepat.

Tak ada lagi alasan mempertahankan Sudewo di kursi bupati. Bahkan fraksi dari partainya sendiri, Gerindra, ikut menyetujui suara mayoritas DPRD. Nasib Sudewo kini benar-benar di ujung tanduk.

Baca Juga :  Real Loker! Pemerintah Buka 30 Ribu Lowongan Manajer Kopdes

Jika benar 13 Agustus menjadi hari lengsernya Sudewo, maka peringatan Hari Jadi Pati beberapa waktu lalu adalah momen pertama sekaligus terakhir ia tampil sebagai raja kecil. Diarak keliling dengan kereta kencana, dengan sorakan rakyat: “huuuuuu“!

Dinamika di Pati adalah peringatan keras. Di tengah kondisi ekonomi sulit dan rakyat yang “lapar”, kebijakan tak bisa diambil semaunya. Jika nekat, maka nasibnya bisa seperti Sudewo—kehilangan wibawa, bahkan dilempar botol dan sandal jepit oleh rakyatnya sendiri, yang dulu mencoblosnya.

Fenomena ini pun bisa saja terjadi dalam skala nasional. Revolusi bisa saja bermula dari Pati—kota kecil di pojok Pantura Jawa yang konon adem-ayem, namun kini tercatat sebagai panggung perlawanan rakyat. Dan satu hal yang pasti: rakyat yang lapar tak pernah bisa dianggap sepele. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 20 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB