Elit Modern dan Abu Lahab 2.0: Ketika Keserakahan Menghancurkan Bangsa

- Penulis

Sabtu, 5 Juli 2025 - 17:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: pinterest

Ilustrasi: pinterest

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di tahun 2025, kita menyaksikan ironi yang mengerikan: para elite politik dan pengusaha terus bermain api di tengah krisis multidimensi, mirip seperti Abu Lahab yang dengan congkak menentang kebenaran demi mempertahankan kekuasaan.

Surah Al-Lahab bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cermin nyata dari mentalitas para penguasa hari ini—yang lebih memilih membakar rakyat sendiri daripada kehilangan kursi empuk mereka.

Lihatlah bagaimana elit-elit ini bersikap. Di tengah inflasi yang melambung, pengangguran merajalela, dan ketimpangan sosial yang kian melebar, mereka sibuk berebut proyek mercusuar, korupsi anggaran kesehatan, dan memainkan narasi politik untuk mengalihkan perhatian publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka adalah Abu Lahab modern: sombong, rakus, dan tidak peduli jika rakyat kecil terjerembap dalam penderitaan.

Sementara rakyat berteriak meminta keadilan, para elite justru sibuk membangun citra lewat kampanye pencitraan di media sosial, seolah-olah mereka adalah “penyelamat bangsa”.

Padahal, di balik layar, mereka menggenggam kebijakan yang justru memiskinkan rakyat lebih dalam.

Mereka menciptakan sistem yang hanya menguntungkan oligarki, persis seperti Abu Lahab yang merasa aman dengan kekayaannya, tanpa sadar bahwa api kehancuran sedang menyala di depan mata.

Baca Juga :  Kritik Elite Mabuk Kekuasaan, Surya Paloh Tekankan Pentingnya Ilmu Politik bagi Generasi Muda

Media sosial menjadi panggung sandiwara mereka—di satu sisi memamerkan kunjungan kerja penuh senyum, di sisi lain diam-diam mengamandemen UU untuk melanggengkan kekuasaan.

Rakyat dibius dengan jargon-jargon “reformasi” dan “pembangunan”, sementara utang negara menggunung dan sumber daya alam dikeruk untuk kepentingan segelintir orang. Mereka pikir rakyat tidak tahu?

Rakyat sudah muak dengan drama politik yang hanya berputar di antara kartel kekuasaan yang sama. Elite-elite ini bukan hanya pengkhianat demokrasi, tapi juga algojo kesejahteraan yang membunuh masa depan generasi muda dengan kebijakan serampangan.

Lihatlah bagaimana mereka mempermainkan demokrasi—pemilu dijadikan ajang transaksional, partai politik dikelola seperti perusahaan keluarga, dan hukum dibengkokkan untuk melindungi kroni.

Mereka adalah Abu Lahab masa kini: congkak di atas penderitaan orang banyak, namun lupa bahwa sejarah selalu berulang.

Revolusi tidak selalu datang dengan darah, tapi bisa melalui gelombang perlawanan diam-diam—pemilih yang sadar, gerakan sipil yang tak lagi percaya pada elite busuk, dan generasi muda yang menolak warisan sistem rusak.

Baca Juga :  "Telat": Lagu Duet Penuh Emosi dari Happy Hanyu dan Tiyo LDR

Jika mereka terus bermain api, suatu hari nanti, api itu akan membakar habis istana-istana palsu yang mereka bangun.

Di tengah kegaduhan politik 2025, kita sedang menyaksikan tragedi yang sama berulang: para elite yang seharusnya memikul amanah justru berubah menjadi Abu Lahab-Abu Lahab modern—haus kekuasaan, buta terhadap penderitaan rakyat, dan yakin bahwa kekayaan serta jabatan akan menyelamatkan mereka dari kehancuran.

Namun, sejarah membuktikan bahwa setiap kesombongan yang dibangun di atas penderitaan orang banyak akan berakhir dengan reruntuhan.

Rakyat tidak selamanya akan diam. Api perlawanan mungkin masih terpendam, tetapi sekali menyala, ia akan melahap setiap ketidakadilan yang dipelihara selama ini.

Elite yang lupa diri adalah pengukir kuburannya sendiri. Mereka mungkin mengira kekuasaan abadi, tetapi sejarah selalu berpihak pada mereka yang tertindas. (Red)

Oleh: Nashrul Mu’minin, penulis, tinggal di Jogja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tumpukan Sampah Menggunung di Bawah Jembatan Pasar Sugio, Warga Keluhkan Bau hingga Rawan Kebakaran
Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 12:23 WIB

Tumpukan Sampah Menggunung di Bawah Jembatan Pasar Sugio, Warga Keluhkan Bau hingga Rawan Kebakaran

Minggu, 27 September 2026 - 09:20 WIB

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB