Dari Batas Tribun: Antara Sesak dan Sorak

- Penulis

Senin, 16 Juni 2025 - 22:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, YOGYAKARTA — Pernahkah kamu menyaksikan pertunjukan tribun yang membuat bulu kuduk merinding, bukan karena takut, tapi karena takjub?

Itulah yang kurasakan saat pertama kali menonton langsung laga PSS Sleman di Maguwoharjo International Stadium.

Di tengah riuh suara drum dan gemuruh chant yang terus bergema sepanjang 90 menit, sorot mataku terpaku pada satu titik: tribun selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sanalah sekelompok suporter fanatik bernama Brigata Curva Sud (BCS) menampilkan aksi yang lebih dari sekadar dukungan, mereka menyulap tribun menjadi panggung pertunjukan penuh semangat, seni, dan penuh ekspresi.

BCS, nama yang tak lagi asing di telinga para pecinta sepak bola tanah air, berdiri secara resmi pada 5 Februari 2011 dan mengadopsi ideologi ultras Italia. Mereka dikenal sebagai kelompok suporter yang loyal, militan, dan mandiri.

Filosofi mereka terangkum dalam semboyan mandiri menghidupi, no leader just together, no ticket no game yang selalu bergema di dalam hati setiap anggota.

Slogan mandiri menghidupi bukan hanya semboyan kosong. Dalam praktiknya, mereka tidak bergantung pada dana klub untuk menampilkan koreografi megah di tribun.

Justru, merekalah yang turut menghidupi klub dengan membangun beberapa sektor usaha seperti Curvasud Store, Curvasudevent, dan Curvasud Culinary.

Sebagian dari keuntunganya digunakan untuk memenuhi kepentingan bersama. Tak hanya itu, BCS juga aktif dalam aksi-aksi sosial kemanusiaan, membuktikan bahwa cinta terhadap klub tidak berhenti di batas tribun stadion.

Fenomena ini sejalan dengan konsep Participatory Culture yang dikemukakan oleh Henry Jenkins.

Dalam era konvergensi media, audiens bukan lagi konsumen pasif, melainkan peserta aktif dalam berpartisipasi menciptakan dan mendistribusikan budaya.

BCS membuktikan hal tersebut dengan kehadirannya di berbagai platform media sosial: Instagram, X/Twitter, hingga YouTube.

Di sana, mereka mengarsipkan aksi-aksi di tribun, menyebarkan nilai, dan memperluas jaringan hingga dikenal di mancanegara.

Tahun 2013, mereka masuk kedalam 5 besar kelompok suporter terbaik dunia versi ultras-tifo.net, dan pada tahun 2017 dinobatkan sebagai suporter terbaik di Asia oleh COPA90, media global yang menyoroti budaya sepak bola dari kacamata fans.

Baca Juga :  Khotmil Qur’an ke-31 Manba’ul Hikmah! Habib Ahmad Syakir Ungkap 2 Ilmu Kunci Ala Rasulullah

Namun, seperti kata pepatah, ”semakin terang cahaya, semakin jelas bayangannya.” Aksi spektakuler BCS kadang mengundang pro dan kontra.

Dalam laga penutup musim, mereka menyuguhkan 3 koreografi raksasa yang megah dan mengakhirinya dengan pesta flare.

Ledakan kembang api dan asap yang menyelimuti tribun memang membangkitkan semangat, tapi juga memunculkan kekhawatiran.

Di media sosial, netizen mulai memperbincangkan, menuai pro dan kontra, sebab saat itu stadion penuh sesak oleh asap hingga menunda berjalannya laga.

Dari situlah alasan yang melatarbekangi penulisan ini dan muncul pertanyaan: Bisakah pesta flare dan kaum rentan seperti anak-anak dan ibu hamil hadir berdampingan?

Untuk menjawabnya, penulis mewawancarai beberapa penonton yang pernah menyaksikan langsung momen pesta flare.

Adya, mahasiswi 20 tahun yang rutin menonton laga PSS, bercerita: “saat pesta flare kemarin terjadi, aku ada di tribun selatan. Pertunjukan itu sangat spektakuler dan membangkitkan semangat.”

Namun, ketika ditanya soal keamanan, ia menambahkan: “yaa, tapi rada membahayakan sih, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil, karena asap flare itu kan mengandung zat kimia.”

Adya mengungkapkan kekagumanya sekaligus kekhawatiranya terhadap kelompok rentan, karena baginya flare dapat mengganggu kesehatan.

Selanjutnya, jawaban senada disampaikan oleh Fathi Muhammad dan Kemal Faruq, dua mahasiswa berumur 19 tahun yang juga pernah terlibat dalam pesta flare di Maguwo, mereka mengaku kagum dengan suguhan aksi koreo dan flare dari BCS.

”Kalau soal suasana, BCS juara, tapi jujur, asapnya agak menganggu, bisa bahaya buat yang sensitif atau anak kecil. Kalau pria dewasa mahh ’losss’.” ungkap Fathi.

Melihat beberapa hasil jawaban dari narasumber, mayoritas memberikan pernyataan bahwa mereka merasa aksi yang ditunjukkan oleh BCS memberikan euforia tersendiri dan memicu semangat bagi para pemain maupun pendukungnya.

Tapi terlepas dari itu semua, ada sisi yang mengkhawatirkan dan harus diperhatikan, yakni keselamatan bagi kaum rentan.

Dari segi fisik mereka tak sekuat kaum pria dewasa pada umumnya, sehingga memerlukan penanganan lebih.

Baca Juga :  Cara Bank BRI Dekatkan Diri dengan Masyarakat

Adya menanggapi persoalan tersebut, ”Mungkin bisa dibikin zona aman buat lansia, ibu hamil dan anak anak.

Misalnya tribun tertentu dikhususkan buat mereka, jauh dari sumber flare seperti di tribun selatan.

Trus juga harus ada yang ngawasin supaya zona itu ga dimasukin sembarangan” Fathi Muhammad juga menambahkan, ”penggunaan flare, kembang api, smoke bisa dibatasi di zona tertentu, jika perlu evakuasi penonton wanita dan anak-anak jika terjadi pesta flare yang dapat mengganggu kenyamanan mereka.”

Penulis sendiri juga memberikan tanggapan, bahwa dari pihak manajemen stadion turut menyiapkan beberapa opsi yang layak dipertimbangkan.

Misalnya, soal sirkulasi udara, stadion Maguwo memang relative terbuka, namun saat pesta flare terjadi, asap tebal seringkali tidak keluar dengan cepat.

Penggunaan blower besar atau sistem sirkulasi aktif dirasa dapat membantu mengontrol asap keluar stadion agar tidak memenuhi stadion hingga menyebabkan pertandingan ditunda.

Selain itu, pembagian dan pembatasan zona yang tegas, bukan hanya membedakan antara tribun aktif dan pasif, namun juga memberikan ruang aman bagi kelompok rentan. Penyediaan ruang kaca tertutup, misalnya jika memungkinkan agar tidak terpapar langsung.

Perlu juga dicatat, bahwa BCS sendiri sebenarnya tidak abai. Dalam beberapa pertandingan, mereka telah memberikan imbauan sebelum laga agar penonton yang membawa anak atau kondisi khusus untuk menjauhi tribun selatan.

Mereka juga telah berkoordinasi dengan pihak penyelenggara. Hanya saja, penegakan aturan di lapangan tetap menjadi kunci.

Karena harus diakui, tanpa BCS, tribun Maguwo tak akan sehidup ini. Koreografi mereka tak hanya menyemangati para pemain, tapi juga memberikan warna baru bagi budaya sepak bola Indonesia.

Apa yang mereka lakukan adalah bentuk ekspresi, kreativitas dan cinta. Selayaknya semua cinta, ia akan tumbuh lebih indah ketika bisa dirasakan bersama, oleh siapa saja.

Karena sejatinya sepak bola adalah milik kita semua, dan kita layak mendapatkan kenyamanan saat menikmatinya. (Red)

Oleh : Muflih Zuhdi Thufail – mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB