Mengubah Limbah Kulit Naga Menjadi Nata de Dragon: Inovasi Pangan Fermentasi UPN “Veteran” Jawa Timur di Desa Karangkuten

- Penulis

Selasa, 3 Juni 2025 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, MOJOKERTO — Siapa sangka limbah kulit buah naga yang selama ini hanya dianggap sampah ternyata menyimpan potensi luar biasa?

Inovasi pangan yang ramah lingkungan dan berbasis potensi lokal kini hadir dari Desa Karangkuten, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat, sekelompok mahasiswa dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) berhasil menciptakan produk unik bernama Nata de Dragon, olahan berbahan dasar limbah kulit buah naga yang biasanya terbuang sia-sia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari Limbah Menjadi Produk Fungsional Bernilai Gizi Tinggi

Kulit buah naga selama ini hanya dianggap limbah organik tanpa nilai, bahkan seringkali mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Namun, siapa sangka bagian luar dari buah eksotis ini justru menyimpan potensi luar biasa. Kulit buah naga mengandung pigmen betalain, serat pangan, serta antioksidan yang berperan penting bagi kesehatan.

Melalui proses fermentasi menggunakan bakteri Acetobacter xylinum, kulit buah naga diolah menjadi nata — produk pangan bertekstur kenyal, menyerupai nata de coco.

Proses fermentasi ini mengubah sari kulit naga menjadi selulosa mikrobial, yaitu serat pangan yang bermanfaat untuk sistem pencernaan.

Produk akhir yang dihasilkan diberi nama Nata de Dragon, memadukan karakteristik lokal dengan sentuhan ilmiah.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah. Limbah bisa bernilai jika dikelola dengan ilmu dan inovasi,” ujar Nashrul Amin, salah satu mahasiswa penggagas program.

Inisiatif Kampus: Ilmu Pengetahuan untuk Pemberdayaan Masyarakat

Program ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur yang tergabung dalam skema pengabdian kepada masyarakat.

Setelah melakukan survei potensi desa, mereka menemukan bahwa kulit buah naga menjadi limbah pascapanen yang melimpah dan belum termanfaatkan dengan optimal.

Baca Juga :  The Comeback: Mohammad Yusron dan Keberanian Melawan Waktu di Piala Bupati Malang 2025

Mahasiswa kemudian melakukan penelitian awal di kampus, menyusun formulasi fermentasi, lalu membawa ilmunya ke masyarakat.

Mereka mengadakan pelatihan teknis pembuatan nata, mulai dari tahap ekstraksi sari kulit naga, sterilisasi, inokulasi bakteri, hingga proses pemanenan dan pengemasan.

Tim pengabdian masyarakat UPN yang melakukan pelatihan ini terdiri dari Raka Selaksa Charisma M., S.T., M.T, Alifatul Zahidah Rohmah, S.T., M.T., Andyas Mukti Pradanarka, S.T., M.T., dan dua mahasiswa, yaitu Nashrul Amin dan Septya Virganita Ayu Ningtyas

Pelatihan ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat: ibu-ibu rumah tangga, dan juga perangkat desa.

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif , warga tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pelaku dan pengembang inovasi.

“Saya senang bisa ikut pelatihan ini. Ternyata dari kulit buah naga bisa jadi makanan enak, bisa dijual juga,” ungkap Bu Wiwik, peserta pelatihan dari kelompok ibu PKK.

Manfaat Ganda: Lingkungan Bersih, Ekonomi Desa Tumbuh

Hadirnya Nata de Dragon membawa manfaat ganda bagi Desa Karangkuten. Di satu sisi, proyek ini membantu mengurangi volume limbah organik yang sebelumnya tidak terkelola.

Di sisi lain, warga kini memiliki sumber pendapatan alternatif dari penjualan produk olahan nata.

Modal yang dibutuhkan relatif kecil, alat produksinya sederhana, dan bahan bakunya tersedia local, membuat produk ini mudah direplikasi dan berkelanjutan.

Ke depan, warga bahkan mulai mengembangkan produk turunan seperti minuman nata dengan sari buah lokal, dan dessert sehat untuk kalangan anak-anak.

Kolaborasi dengan Pemerintah Desa dan Harapan Jangka Panjang

Proyek ini mendapat dukungan positif dari pemerintah desa. Kepala Desa Karangkuten menyampaikan bahwa inisiatif mahasiswa ini sejalan dengan visi desa untuk membangun ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Baca Juga :  Ayu Hendranata Rilis Single Perdana "Milo (Me In Love)", Sebuah Lagu Cinta untuk Anjing Kesayangan

Selain bantuan logistik, desa juga menyiapkan fasilitas seperti balai desa dan dapur bersama untuk kegiatan produksi dan pelatihan.

Di tingkat kampus, proyek ini menjadi contoh konkrit implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat berbasis ilmu pengetahuan terapan.

“Kami berharap program ini bisa terus dikembangkan oleh warga setelah kami selesai program. Semoga ini menjadi awal dari ekosistem inovasi pangan desa yang mandiri,” ungkap Raka Selaksa Charisma M., S.T., M.T MT, dosen UPNVJT

Dari Desa untuk Indonesia: Inovasi yang Mengakar

Melalui semangat “Bela Negara melalui Pengabdian”, mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur menunjukkan bahwa kontribusi nyata tidak harus melalui hal besar, cukup dimulai dari desa, dari limbah sederhana, dan dari niat untuk berbagi ilmu.

Inisiatif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 2: Zero Hunger dengan meningkatkan ketahanan pangan melalui pengolahan hasil pertanian lokal, serta SDGs nomor 8: Decent Work and Economic Growth dengan menciptakan peluang usaha baru dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Nata de Dragon kini bukan hanya produk pangan. Ia menjadi simbol kolaborasi antara pengetahuan dan masyarakat, antara kampus dan desa, antara generasi muda dan pelestarian lingkungan. Sebuah langkah kecil dari Karangkuten yang memberi inspirasi besar bagi Indonesia.

*) Artikel ditulis oleh Raka Selaksa Charisma M., S.T., M.T dan Aisyah Alifatul Zahidah Rohmah, S.T., M.T
**) Artikel ini tidak dilakukan proses editing, atas permintaan penulis

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PDPM Ogan Ilir selenggarakan Madrasah Anti Korupsi
REBORN Bangkit Lagi Lewat “FATHER”, Lagu Rock Emosional yang Lahir dari Kisah Kehilangan Sang Vokalis
Selamat! Akhirnya Spanyol Juara!
Messi Ukir Sejarah! Jadi Raja Gol Piala Dunia, Golden Boot 2026 Masih Diperebutkan
MESSI BELUM HABIS! Comeback Gila Argentina Bikin Inggris Gigit Jari, Tiket Final Piala Dunia 2026 di Tangan
Bediding Mulai Menggigit! Dini Hari di Wilayah Sugio Bisa Bikin Menggigil, Warga Diminta Siaga Hadapi Puncak Kemarau
Dinasti Sepak Bola Runtuh! Jerman dan Brasil Tersingkir, Spanyol Melaju ke Final Piala Dunia 2026
Presiden, Kata “Bajingan”, dan Marwah Kepemimpinan
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:58 WIB

PDPM Ogan Ilir selenggarakan Madrasah Anti Korupsi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:16 WIB

REBORN Bangkit Lagi Lewat “FATHER”, Lagu Rock Emosional yang Lahir dari Kisah Kehilangan Sang Vokalis

Senin, 20 Juli 2026 - 09:38 WIB

Selamat! Akhirnya Spanyol Juara!

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:16 WIB

Messi Ukir Sejarah! Jadi Raja Gol Piala Dunia, Golden Boot 2026 Masih Diperebutkan

Jumat, 17 Juli 2026 - 08:39 WIB

MESSI BELUM HABIS! Comeback Gila Argentina Bikin Inggris Gigit Jari, Tiket Final Piala Dunia 2026 di Tangan

Berita Terbaru

RAGAM

PDPM Ogan Ilir selenggarakan Madrasah Anti Korupsi

Jumat, 31 Jul 2026 - 10:58 WIB

Logo Telegram. Gambar: Freepik

KILAS GLOBAL

Rusia Buru Bos Telegram!

Rabu, 29 Jul 2026 - 17:43 WIB