Cegah Putus Sekolah Lewat Kejar Paket, No Way!?

- Penulis

Sabtu, 24 Mei 2025 - 19:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, SEMARANG — Apa yang kalian ketahui tentang pendidikan non formal? Atau, mungkin sebagian besar dari kita masih merasa asing dengan istilah “pendidikan non formal”?

Nah, alasan inilah yang menjadi penyebab para siswa beranggapan bahwa pendidikan hanya bisa didapat bagi mereka yang memiliki privilege.

Dikatakan demikian, karena melihat temen-temenku dulu yang beranggapan bahwa yang bisa melanjutkan pendidikan hanyalah siswa yang pintar atau berasal dari keluarga berkecukupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu harus dituntut untuk bekerja apalagi jika orang tua mereka punya ‘penyakit kronis’.

Mereka yang kondisinya tidak memungkinkan akhirnya memilih bekerja sebagai sarana bertahan hidup—kita menganggap mereka egois karena tidak melanjutkan pendidikan.

Pendidikan Non Formal sebagai Alternatif

Pendidikan non formal ini hadir untuk menjadi alternatif bagi mereka yang bekerja dan mau memperbaiki masa depan.

Bukan hanya mereka yang bekerja saja yang dapat mengenyam pendidikan di sini, melainkan korban bullying di sekolah juga cocok sekolah di sini.

Korban bullying yang bersekolah di sekolah non formal, menjadikan ini sebagai sarana penyembuhan mental.

Baca Juga :  Chelsya Reta Perkuat Julukan “Ratu Pargoy” Lewat Lagu Terbaru Muntir

Sekolah non formal yang akan saya bahas adalah kejar paket, yakni sekolah kesetaraan yang diakui oleh kementerian pendidikan. Lantas, sistem pembelajarannya gimana sih?

Dari pengalaman saya, sistem belajarnya itu mengkombinasikan antara tatap muka dan secara online lewat zoom meeting. Namun, setiap penyelenggara berbeda-beda, lho!

Apakah ada ujian tiap semester? Tentunya ada, karena ini adalah sekolah kesetaraan dimana ijazahnya itu setara dengan sekolah formal.

Lalu, apa bedanya kejar paket dan homeschooling? Menurut saya, perbedaannya itu ada pada hubungan pertemanannya saja.

Jika di kejar paket itu masih bisa berinteraksi dengan teman, nah kalau homeschooling itu cuma bisa berinteraksi dengan guru saja.

Inilah alasan mengapa dari awal saya menyarankan kepada korban bullying untuk sekolah di sini. Sedikit teman mentalpun jadi aman. Terus, apakah sekolah ini cocok untuk anak broken home?

Tak dipungkiri, setiap keluarga pasti punya masalah entah itu perceraian, KDRT, atau apapun itu, biasanya yang jadi korban itu si anak.

Sebenarnya ini adalah masalah yang cukup rumit, karena kalo kita melihat dari faktor keluarga yang menjadi penyebab terbesarnya, Lantas, apakah jika si anak sekolah di kejar paket masalahnya akan selesai?

Baca Juga :  Cek 5 Kampus dengan Jurusan HI Terbaik 2024, Ada Kampusmu?

Jawabnya, ngga juga bro! Tapi balik lagi ke si anaknya apakah dia merasa nyaman, tentram, dan aman ketika mengikuti pembelajarannya atau mungkin sebaliknya.

Jika si anak merasa nyaman, tentram, serta aman dalam mengikuti pembelajarannya, boleh saja kok. Tetapi kalo merasa tidak nyaman, silahkan sekolah di sekolah formal.

Pendekatan Long Life Education

Untuk diketahui, pendidikan pada kejar paket telah menerapkan prinsip “long life education“. Artinya, semua kalangan bisa bersekolah di sini.

Adapun, pendidikan kejar paket bisa ditempuh dalam waktu satu tahun. Tetapi, karena sekarang kebijakan pemerintah sudah berubah maka untuk Paket C dapat ditempuh selama 3 tahun.

Beberapa dari kita mungkin masih memandang sebelah mata sekolah non formal ini, tetapi saya percaya bahwa putus sekolah itu bukanlah keputusan yang tepat dan teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang guru. (Red)

Penulis : Hilda Putri Ramizah

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 25 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB