SUARAMUDA, SEMARANG — Apa yang kalian ketahui tentang pendidikan non formal? Atau, mungkin sebagian besar dari kita masih merasa asing dengan istilah “pendidikan non formal”?
Nah, alasan inilah yang menjadi penyebab para siswa beranggapan bahwa pendidikan hanya bisa didapat bagi mereka yang memiliki privilege.
Dikatakan demikian, karena melihat temen-temenku dulu yang beranggapan bahwa yang bisa melanjutkan pendidikan hanyalah siswa yang pintar atau berasal dari keluarga berkecukupan.
Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu harus dituntut untuk bekerja apalagi jika orang tua mereka punya ‘penyakit kronis’.
Mereka yang kondisinya tidak memungkinkan akhirnya memilih bekerja sebagai sarana bertahan hidup—kita menganggap mereka egois karena tidak melanjutkan pendidikan.
Pendidikan Non Formal sebagai Alternatif
Pendidikan non formal ini hadir untuk menjadi alternatif bagi mereka yang bekerja dan mau memperbaiki masa depan.
Bukan hanya mereka yang bekerja saja yang dapat mengenyam pendidikan di sini, melainkan korban bullying di sekolah juga cocok sekolah di sini.
Korban bullying yang bersekolah di sekolah non formal, menjadikan ini sebagai sarana penyembuhan mental.
Sekolah non formal yang akan saya bahas adalah kejar paket, yakni sekolah kesetaraan yang diakui oleh kementerian pendidikan. Lantas, sistem pembelajarannya gimana sih?
Dari pengalaman saya, sistem belajarnya itu mengkombinasikan antara tatap muka dan secara online lewat zoom meeting. Namun, setiap penyelenggara berbeda-beda, lho!
Apakah ada ujian tiap semester? Tentunya ada, karena ini adalah sekolah kesetaraan dimana ijazahnya itu setara dengan sekolah formal.
Lalu, apa bedanya kejar paket dan homeschooling? Menurut saya, perbedaannya itu ada pada hubungan pertemanannya saja.
Jika di kejar paket itu masih bisa berinteraksi dengan teman, nah kalau homeschooling itu cuma bisa berinteraksi dengan guru saja.
Inilah alasan mengapa dari awal saya menyarankan kepada korban bullying untuk sekolah di sini. Sedikit teman mentalpun jadi aman. Terus, apakah sekolah ini cocok untuk anak broken home?
Tak dipungkiri, setiap keluarga pasti punya masalah entah itu perceraian, KDRT, atau apapun itu, biasanya yang jadi korban itu si anak.
Sebenarnya ini adalah masalah yang cukup rumit, karena kalo kita melihat dari faktor keluarga yang menjadi penyebab terbesarnya, Lantas, apakah jika si anak sekolah di kejar paket masalahnya akan selesai?
Jawabnya, ngga juga bro! Tapi balik lagi ke si anaknya apakah dia merasa nyaman, tentram, dan aman ketika mengikuti pembelajarannya atau mungkin sebaliknya.
Jika si anak merasa nyaman, tentram, serta aman dalam mengikuti pembelajarannya, boleh saja kok. Tetapi kalo merasa tidak nyaman, silahkan sekolah di sekolah formal.
Pendekatan Long Life Education
Untuk diketahui, pendidikan pada kejar paket telah menerapkan prinsip “long life education“. Artinya, semua kalangan bisa bersekolah di sini.
Adapun, pendidikan kejar paket bisa ditempuh dalam waktu satu tahun. Tetapi, karena sekarang kebijakan pemerintah sudah berubah maka untuk Paket C dapat ditempuh selama 3 tahun.
Beberapa dari kita mungkin masih memandang sebelah mata sekolah non formal ini, tetapi saya percaya bahwa putus sekolah itu bukanlah keputusan yang tepat dan teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang guru. (Red)
Penulis : Hilda Putri Ramizah