Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Tugu Semarang Kyai Mustaghfirin Wafat, Begini Konsistensi dan Keteladanan yang Telah Diajarkan

- Penulis

Rabu, 16 Oktober 2024 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kiai Mustaghfirin bersama istri dan alumni

Kiai Mustaghfirin bersama istri dan alumni

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG – Keteladanan sosok pengasuh pondok pesantren sering kali menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri yang mencari ilmu.

Bukan hanya kurikulum yang dipertimbangkan, tetapi juga karakter dan akhlak para kyai yang menjadi teladan.

Salah satu kyai yang memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan pesantren adalah Drs. KH. Mustaghfirin, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Tugurejo, Tugu, Semarang.

Dikenal dengan sapaan akrab “Yai Rin,” beliau bukan hanya seorang kyai, tetapi juga seorang petambak yang dikenal sangat istiqomah (konsisten) dalam mendidik santrinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama bertahun-tahun, selepas salat Subuh, Yai Rin rutin mengajar kitab Tafsir Jalalain kepada para santri di aula pesantren. Meski aula tersebut sering kali masih sepi saat ia datang, kehadiran Yai Rin tidak pernah terhalang oleh jumlah santri yang hadir.

Kadang hanya ada satu atau dua santri yang menunggu, namun itu tidak mengurangi semangat Yai Rin untuk mengajar.

Yai Rin juga tidak pernah memperlihatkan kekecewaan atau menyindir keterlambatan santri. Dengan kesabaran yang luar biasa, beliau tetap melanjutkan mengaji, menjelaskan kata demi kata dari kitab Tafsir Jalalain, yang menjadi rujukan utama di banyak pesantren salaf.

Sosok yang Tidak Elitis dan Menghargai Santri

Baca Juga :  Ratusan Warga Padati Rumah PoHan: Pertunjukan “Gambang Semarang” Berlangsung Meriah dan Penuh Antusiasme


Sebagai pimpinan pesantren, Yai Rin memiliki sifat yang rendah hati dan tidak pernah menunjukkan sikap elitis. Ia selalu berusaha menghargai para santri dan alumni.

Salah satu alumninya, Arief, mengenang momen tak terlupakan saat Yai Rin datang ke rumahnya menjelang keberangkatan hajinya.

“Beliau yang pertama kali mendoakan saya ketika tahu saya hendak berangkat haji. Saat itu, menjelang Maghrib, beliau dan bu nyai datang ke rumah kami. Saya sangat terharu,” ujar Arief dengan nada sedih.

Bahkan, ketika kabar wafatnya Yai Rin tersebar, banyak orang yang merasa kehilangan, termasuk mereka yang tidak langsung terkait dengannya.

“Saat mendengar berita wafatnya, seorang teman yang tidak punya hubungan langsung dengan beliau sampai menelepon saya, merasa sangat terpukul,” tambah Arief.

Pesan Terakhir Yai Rin untuk Masyarakat

Selain mengasuh santri, Yai Rin juga aktif mengisi kajian rutin di kediamannya, yang terletak di samping Masjid Besar Al Amin Tugurejo, Semarang.

Baca Juga :  Gubernur Luthfi: Tak Ada Lagi Pungutan di SMA Negeri

Meskipun kesehatannya sempat menurun, sepuluh hari sebelum wafat, Yai Rin masih istiqomah memberikan kajian kepada masyarakat.

Dalam kajian terakhirnya, beliau membahas tentang tujuh golongan manusia yang akan dilindungi dari teriknya matahari di Padang Mahsyar.

Tema ini seolah menjadi pesan terakhir yang sangat mendalam, seiring dengan kembalinya Yai Rin menghadap Sang Pencipta.

Ustadz H. Qolyubi Asyikin, salah satu peserta kajian tersebut, mengungkapkan, “pada pengajian terakhir, beliau mengulas tentang tujuh golongan yang akan dinaungi dari terik matahari di Padang Mahsyar, salah satunya adalah seorang pemimpin yang adil dan orang yang hatinya selalu terkait dengan masjid.”

Meski kini Yai Rin telah berpulang ke rahmatullah pada usia 65 tahun, keteladanan, keistiqomahan, dan keikhlasan beliau dalam berdakwah akan terus menjadi inspirasi bagi para santri dan masyarakat luas.

Selamat jalan, Yai Rin. Semoga keistiqomahan dan kebaikan yang telah ditinggalkan dapat melahirkan lebih banyak sosok kyai yang berdedikasi tinggi dalam mendidik dan membina umat. (Red) 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Berita ini 25 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB