SUARAMUDA.NET, LAMONGAN — Merayakan kemerdekaan ternyata tak selalu harus dengan pesta meriah dan panggung besar. Di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Lamongan, warga memilih cara yang sederhana, tapi sarat makna: duduk bersama, berdoa, dan berbagi berkah lewat tradisi Sedekah Bumi.
Tradisi yang sempat dirindukan warga itu kembali digelar pada Jumat malam, 28 Agustus 2026, di halaman Masjid Al-Hidayah. Sejak pukul 18.00 WIB, ratusan warga dari berbagai kalangan mulai berdatangan sambil membawa hasil bumi yang dikemas dalam wadah anyaman bambu khas yang disebut Ancak.
Isinya pun khas. Ada nasi, apem, pisang, hingga beragam lauk-pauk. Semua dibawa bukan sekadar untuk makan bersama, tetapi sebagai ungkapan syukur atas rezeki dan karunia Tuhan, sekaligus menjadi bagian dari rasa syukur warga di momentum Bulan Kemerdekaan RI ke-81.
Acara dipimpin Modin Dusun Babatan, Moh. Sarbu. Suasananya semakin hangat dengan rangkaian tausiyah, sholawat, istighosah, tahlil untuk mengenang para leluhur dan pahlawan, serta doa bersama untuk keselamatan warga, kemajuan desa, dan masa depan bangsa.
Yang menarik, semangat gotong royong terasa sejak persiapan. Kepala Dusun Babatan Agus Hadi Susanto bersama para pemuda Karang Taruna ikut turun tangan menyiapkan lokasi sejak siang hari.
Bagi warga, Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi tahunan. Di dalamnya ada pesan sederhana tentang bagaimana menjaga kebersamaan, memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus ukhuwah wathaniyah, dan merawat hubungan antarsesama.
Puncaknya tiba ketika makanan yang dibawa warga dibagikan kembali sebagai “berkah”. Para jamaah duduk bersila di atas tikar tanpa membedakan usia maupun status. Semua mendapat bagian yang sama.
Pemandangan sederhana itu justru menjadi pesan paling kuat malam tersebut: rezeki boleh datang dari berbagai arah, tetapi ketika dibagikan bersama, rasanya menjadi jauh lebih bermakna.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 21.00 WIB. Tidak ada kemewahan berlebihan. Tidak pula pesta yang menghabiskan banyak biaya. Hanya ada warga, tikar, doa, hasil bumi, dan semangat untuk tetap guyup rukun.
Dari halaman Masjid Al-Hidayah, warga Babatan seolah ingin mengingatkan bahwa kemerdekaan juga bisa dirayakan dengan cara yang sederhana: bersyukur atas bumi yang memberi kehidupan, menjaga tradisi, dan memastikan kerukunan tetap tumbuh di tengah masyarakat. (Red)














Komentar