Oleh: Kamilah, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia pada SMA IT Auliya Tangerang Selatan
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Scroll sebentar media sosial, lalu perhatikan cara kita berbahasa hari ini. Ada singkatan yang terasa akrab, campur kode yang mengalir tanpa sadar, plesetan yang lahir dari meme, dan kalimat pendek yang sarat makna. Bahasa bergerak cepat, mengikuti ritme layar dan jempol.
Namun, di saat yang sama, ada suara yang makin jarang terdengar. Bukan karena kalah nyaring, tetapi karena perlahan ditinggalkan. Banyak bahasa daerah tidak lagi menjadi bahasa pertama di rumah, apalagi di ruang publik.
Di sinilah pertanyaan besarnya muncul:
“Apakah perubahan bahasa generasi muda adalah ancaman bagi bahasa yang lebih tua, atau justru bagian tak terpisahkan dari evolusi alami bahasa itu sendiri?”
Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan bahasa yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, bahasa daerah tumbuh dari sejarah panjang komunitas, alam, dan cara hidup. Bahasa-bahasa ini menyimpan pengetahuan lokal, nilai budaya, serta cara pandang khas terhadap dunia.
Sayangnya, keberagaman itu kini menghadapi tantangan. Pergeseran antargenerasi membuat banyak anak muda tidak lagi fasih—bahkan tidak mengenal—bahasa ibunya.
Urbanisasi mempertemukan berbagai latar bahasa dalam satu ruang, sementara bahasa nasional dan global menjadi pilihan paling praktis untuk mobilitas sosial dan ekonomi.
Perlu digarisbawahi: kondisi ini bukan kesalahan generasi muda. Ia lahir dari perubahan sistemik—cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi hari ini. Bahasa daerah pun akhirnya terpinggirkan, bukan karena kehilangan nilai, melainkan karena kehilangan ruang pakai.
Di sisi lain, muncul apa yang kerap disebut sebagai bahasa Z-ilenial. Bentuknya beragam: singkatan, plesetan bunyi, campuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing, hingga ekspresi visual yang berpadu dengan teks. Sekilas, gaya bahasa ini sering dicap merusak atau tidak beraturan.
Padahal, bahasa Z-ilenial bukan tanda kemiskinan bahasa. Ia justru menunjukkan kecakapan beradaptasi. Di ruang digital yang serba cepat, bahasa menjadi alat komunikasi yang efisien, kontekstual, dan ekspresif. Satu kata bisa mewakili emosi kompleks. Satu meme bisa menyampaikan kritik sosial.
Bahasa ini lahir dari ekosistem media digital: singkat, cair, mudah menyebar. Ia tidak menggantikan bahasa baku, melainkan hidup berdampingan sebagai ragam yang digunakan sesuai situasi dan tujuan.
Diskursus itu terasa. Di satu sisi, bahasa lokal menghadapi risiko kepunahan. Di sisi lain, bahasa Z-ilenial tumbuh pesat dan terus berevolusi. Keduanya sering diposisikan seolah saling meniadakan.
Namun, persoalan utamanya bukan pada hadirnya bahasa baru. Masalahnya terletak pada terputusnya transmisi bahasa lama. Bahasa daerah tidak kalah karena bahasa gaul menang, tetapi karena tidak lagi diwariskan secara berkelanjutan.
Sejarah menunjukkan bahwa bahasa selalu berubah. Ia menyerap, menyesuaikan, dan membentuk ulang dirinya. Yang perlu dijaga bukanlah membekukan bahasa dalam bentuk “asli”, melainkan memastikan ia tetap hidup, digunakan, dan bermakna bagi penuturnya.
Di sinilah peran pendidikan penting. Guru bahasa tidak hanya mengajarkan kaidah, tetapi juga membuka ruang dialog antarragam bahasa. Bahasa daerah dapat dihadirkan secara kontekstual—bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai bagian dari kehidupan kini.
Pendekatan kreatif membuka banyak kemungkinan. Konten digital berbahasa daerah, proyek literasi berbasis media sosial, hingga narasi lokal yang dikemas dalam format modern dapat menjadi jembatan yang efektif.
Bahasa lokal tidak harus bersaing dengan bahasa Z-ilenial; keduanya bisa saling menguatkan. Ketika bahasa daerah diberi ruang di dunia digital, ia tidak kehilangan martabatnya. Justru sebaliknya, ia menemukan audiens baru dan cara hidup yang baru.
Akhirnya, bahasa bukan medan perang antara lama dan baru. Ia adalah ruang dialog yang terus berkembang. Menghakimi cara berbahasa generasi muda tidak akan menyelamatkan bahasa lokal. Sebaliknya, merawat bahasa berarti memberi ruang tumbuh—baik bagi tradisi maupun inovasi.
Bagi pendidik, mahasiswa, dan generasi muda, tantangannya adalah yang sama: bagaimana menjadi penutur yang sadar. Sadar bahwa setiap pilihan bahasa membawa nilai, sejarah, dan masa depan.
Dengan sikap itu, bahasa lokal dan bahasa Z-ilenial tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan bersama, menjembatani kekayaan budaya dan evolusi bahasa Indonesia di zaman yang terus bergerak. (Red)