Gongpati Rilis Album Debut Luka Kolektif, Angkat Cerita Luka dan Proses Bertahan

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Band rock alternatif asal Jakarta, Gongpati, resmi merilis album debut berjudul Luka Kolektif pada 12 Desember 2025.

Band yang aktif sejak 2025 ini hadir dengan membawa warna musik rock alternatif yang kuat, berpadu lirik-lirik jujur yang mengangkat cerita kehidupan, luka batin, serta proses bertahan dalam berbagai situasi hidup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelum membentuk Gongpati, masing-masing personel telah lebih dulu aktif di dunia musik melalui berbagai proyek. Pengalaman tersebut akhirnya mempertemukan mereka dalam satu band yang lebih serius dan terarah.

Gongpati tidak dibentuk dengan tujuan mengejar popularitas semata, melainkan sebagai ruang untuk mengekspresikan cerita hidup secara jujur dan apa adanya.

Band ini diperkuat oleh Irawan sebagai vokalis, Aldy di posisi bass, Kenneth sebagai keyboardist, Eki sebagai lead guitarist, Rio di drum, dan Obi sebagai gitaris.

Keenam personel datang dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda, yang kemudian diramu menjadi karakter musik Gongpati.

Mereka banyak terpengaruh rock alternatif era 90–2000-an dengan sentuhan ballad dan nuansa klasik dalam penulisan lagu, namun tetap berpijak pada pengalaman hidup pribadi.

Baca Juga :  Bedah Buku KH Tolchah Mansoer dan Anjangsana PAC IPNU-IPPNU Sukorejo ke-13

Menurut Gongpati, keunikan band ini terletak pada cara mereka menyampaikan cerita. Mereka tidak ingin tampil sebagai band yang menggurui, melainkan sebagai orang-orang dewasa yang masih belajar berdamai dengan hidup.

Lirik-lirik mereka jujur, kadang pahit, kadang lelah, tetapi tetap apa adanya. Gongpati ingin menjadi teman bagi pendengar yang mungkin sedang berada di fase sulit dalam hidupnya.

Nama Gongpati sendiri memiliki filosofi tersendiri. “Gong” melambangkan awal, bunyi pertama yang menandai dimulainya sesuatu, sementara “Pati” dalam bahasa Jawa berarti akhir atau kematian.

Jika digabungkan, Gongpati merepresentasikan perjalanan hidup dari awal hingga akhir.

Album Luka Kolektif mengangkat tema tentang luka yang dimiliki setiap individu, serta bagaimana bertahan tidak selalu berarti harus kuat sendirian.

Luka dianggap nyata, namun bisa dibagi. Dan berbagi tidak selalu berarti menyembuhkan, tetapi setidaknya menemani. Tema ini menjadi benang merah dalam keseluruhan lagu di album tersebut.

Album dibuka dengan lagu New Money (OKB) yang menyoroti ironi ambisi dan dinamika sosial modern. Lagu ini menggambarkan bagaimana dorongan untuk terus “menjadi sesuatu” kerap membuat seseorang terjebak dalam perlombaan tanpa henti dan kehilangan makna hidup.

Baca Juga :  Mengurai Kebiasaan Menyontek di Kalangan Mahasiswa

Lagu-lagu selanjutnya membawa pendengar ke dalam cerita tentang hubungan yang retak, kenangan masa lalu, tekanan sosial, hingga kecemasan sehari-hari.

Sebagai penutup, Gongpati menghadirkan lagu Kita Semesta, Kita Selamanya yang menjadi resolusi dari perjalanan emosional album ini.

Lagu tersebut tidak menawarkan pelarian dari rasa sakit, melainkan keputusan untuk tetap tinggal dan bertahan bersama. Lagu ini berbicara tentang menemukan rumah dalam diri orang lain serta keyakinan bahwa selama dijalani bersama, luka tidak lagi harus dihadapi sendirian.

Dalam proses kreatif, Gongpati biasanya memulai lagu dari cerita atau potongan emosi yang berkembang menjadi musik dan lirik secara bersamaan. Mereka tidak mengejar formula tertentu, melainkan rasa dan kejujuran dalam berkarya.

Ke depan, Gongpati berharap dapat terus berkarya, merilis lagu-lagu baru, tampil di panggung, serta membangun koneksi yang lebih dekat dengan pendengar.

Mereka juga berharap musik Indonesia tetap menjadi ruang yang aman bagi kejujuran dan keberagaman suara. Bagi Gongpati sendiri, kesuksesan berarti bisa terus berkarya tanpa kehilangan alasan awal mengapa band ini dibentuk. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB