Oleh: Amy Maulana – Expert Indonesia-Rusia ANO Center for Mediastrategi – Ketua PCINU Rusia
SUARAMUDA.NET, SEMARANG – Sebagai diaspora Indonesia yang sudah tujuh tahun menetap di Rusia, saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah perayaan bisa begitu meriah, magis, dan sama sekali terlepas dari akar religius yang disandangnya di negara lain.
Di Indonesia dan banyak negara Barat, kemeriahan pohon terang, tukar kado, dan figur Santa Clause berjanggut putih nyaris tak terpisahkan dari perayaan Natal sebagai hari raya Kristen.
Namun, di Rusia, pengalaman empiris saya justru menunjukkan fenomena unik: Tahun Baru adalah sebuah perayaan nasional yang sepenuhnya sekuler, sementara Natal dirayakan secara terpisah, dalam suasana yang sama sekali berbeda.
Pada era Uni Soviet di abad ke-20, tradisi ini dikembangkan sebagai sebuah perayaan nasional yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat, terlepas dari latar belakang keyakinan ada agama karena pada era Soviet praktek agama dilarang.
Keberhasian dari perkembangan budaya ini terlihat dari bagaimana tradisi Tahun Baru (Novy God) tetap menjadi momen paling dinanti dan dirayakan di Rusia secara luas hingga hari ini, beriringan dengan perayaan Natal Ortodoks pada tanggal 7 Januari bagi yang melaksanakannya.
Yolka: Bukan Pohon Natal, Simbol Harapan Bersama
Pelajaran budaya pertama yang saya dapatkan adalah tentang Yolka. Sejak November, pohon cemara berhiaskan lampu dan ornamen indah berdiri di setiap sudut—di alun-alun, stasiun kereta, dan dalam rumah.
Bagi saya yang awalnya mengira ini adalah dekorasi Natal, kenyataannya mengejutkan. Ini adalah Novogodnyaya Yolka, atau Pohon Tahun Baru.
Ia adalah simbol universal dari kegembiraan, harapan baru, dan semangat kebersamaan yang menjangkau seluruh masyarakat Rusia, terlepas dari latar belakang agama mereka—Ortodoks, Muslim, Buddha, atau ateis.
Tidak ada sedikit pun narasi tentang kelahiran Kristus yang melekat padanya. Ia murni adalah ikon dari pergantian waktu, sebuah tradisi sipil yang indah.
Ded Moroz Bukan Santo Clause
Kebingungan serupa saya alami dengan sosok pemberi hadiah. Saya mencari Santa Claus, tetapi yang muncul adalah Ded Moroz (Kakek Frost) dengan jubah megahnya, dan Snegurochka (Putri Salju), cucunya.
Mereka adalah karakter dari cerita rakyat Slavia, yang akarnya jauh lebih tua daripada kekristenan di tanah Rusia. Dalam pengamatan saya, anak-anak Rusia menulis surat kepada Ded Moroz untuk meminta hadiah Tahun Baru, bukan hadiah Natal.
Figur ini tidak diasosiasikan dengan Santo Nikolas atau kisah Betlehem. Ia adalah personifikasi dari keajaiban musim dingin dan kemurahan hati dalam konteks perayaan sipil.
Pemisahan ini begitu gamblang: Ded Moroz adalah untuk semua anak Rusia, terlepas dari keyakinan keluarga mereka.
Tahun Baru Bukan Perayaan Religius
Inti dari semua perbedaan persepsi ini terwujud dalam puncak perayaan. Di sini, malam 1 Januari adalah klimaks dari segala kemeriahan. Ini adalah momen pemersatu nasional.
Berdasarkan pengalaman pribadi hidup di tengah tradisi tahun baru Rusia, tradisi Keluarga berkumpul di meja makan mewah yang disebut “Novogodniy Stol“.
Beberapa menit sebelum tengah malam, seluruh negara menyaksikan pidato Presiden Putin dari Kremlin yang menyampaikan refleksi tahun lalu dan harapan untuk tahun depan.
Ini adalah ritual sipil yang penuh gravitasi. Lalu, setelah lonceng Kremlin berbunyi dan tahun baru disambut, suasana pesta pun dimulai. Tidak ada doa bersama, tidak ada kidung Natal. Yang ada adalah sukacita manusiawi atas waktu baru.
Perayaan religius yang sesungguhnya, Natal Ortodoks, baru datang enam hari kemudian, pada 7 Januari. Perayaannya bersifat internal, khusyuk, dan seringkali di dalam gereja atau lingkaran keluarga yang sangat taat.
Tidak ada pohon terang atau Ded Moroz di sana. Atmosfernya sama sekali berbeda: hening, reflektif, dan spiritual.
Sebuah Model Kedewasaan Berbangsa
Pengalaman hidup di Rusia ini membuka mata saya tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat membangun tradisi kolektif yang inklusif.
Tahun Baru di Rusia adalah contoh nyata bagaimana simbol-simbol (pohon, tukar kado, figur dermawan) dapat diambil, dikosongkan dari makna religius tertentu, dan diisi ulang dengan makna sipil yang mempersatukan.
Ini bukan tentang penghapusan agama, tetapi tentang penciptaan ruang publik bersama yang netral, di mana setiap warga negara, apa pun kepercayaannya, dapat merasa memiliki dan bergembira.
Jadi, jika ada pelajaran yang dapat dibawa pulang, itu adalah: kedamaian dalam keberagaman seringkali dimulai dari kemampuan untuk memisahkan yang sakral dari yang sekuler, memberikan masing-masing panggung dan waktunya sendiri.
Di Rusia, Tahun Baru adalah panggung untuk kebersamaan nasional. Dan itu adalah suatu tradisi yang, meski terlihat familiar, memiliki jiwa yang sama sekali berbeda. (Red)