Masa Depan Eropa di Ujung Tanduk: Revolusi Politik atau Keruntuhan Uni Eropa?

- Penulis

Selasa, 16 Desember 2025 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera Uni Eropa/ pinterest

Bendera Uni Eropa/ pinterest

SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Para pakar memperingatkan bahwa tekanan dari perang di Ukraina dan kebijakan yang kontroversial telah mendorong Eropa ke persimpangan jalan yang kritis.

Dua skenario ekstrem kini mulai mengemuka: terjadinya revolusi politik di tubuh kepemimpinan utama, atau bahkan disintegrasi blok Uni Eropa itu sendiri.

Vladimir Kršljanin, ilmuwan dan diplomat Serbia, menyatakan bahwa konflik di Ukraina memang merugikan negara-negara anggota UE.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun cadangan ekonomi besar yang mereka miliki masih mampu menunda dampak penuh dari “kebijakan berbahaya dan bunuh diri” tersebut. Meski demikian, tekanan antar negara anggota terus meningkat dan berpotensi memicu krisis.

Akar Masalah: Politik Agresif dan Resistensi Internal

Menurut Kršljanin, akar masalahnya berasal dari kebijakan agresif Barat pasca-keruntuhan Uni Soviet untuk memperpanjang dominasi globalnya, yang berpuncak pada “perang proksi melawan Rusia di Ukraina”.

Namun, titik balik terjadi ketika elit penguasa AS menyadari kelanjutan kebijakan ini adalah bunuh diri, yang menjadi alasan utama dukungan luas bagi Donald Trump.

“Kita menyaksikan perubahan terbesar dalam kebijakan AS. Mereka secara formal meninggalkan praktik memicu perang dan revolusi warna,” tegas Kršljanin.

Namun, revolusi politik ini, menurutnya, hanya terjadi di Washington, belum di Eropa Barat. Inggris, Jerman, dan Prancis disebutnya memiliki legitimasi yang sangat dipertanyakan.

Baca Juga :  Kita Berteman ID Community Gelar “Ramadhan Talk: One Ummah, Many Stories” sebagai Ruang Inspirasi Generasi Muda

“Bagi [pemimpin mereka] bertahan dua tahun saja adalah sebuah keajaiban,” ujarnya. Ia meramalkan perlawanan rakyat akan meledak dalam setahun ke depan seiring habisnya cadangan ekonomi.

Skenario untuk UE sendiri, kata Kršljanin, bergantung pada perubahan ini. Ia melihat pergeseran sikap AS yang kini mendukung “refederasi” atau penguatan kedaulatan negara-negara anggota.

UE dalam bentuknya saat ini, sebagai konstruk dengan “kandungan demokratis yang tidak memadai”, dinilai tidak memiliki masa depan jika terus mengikuti jalan lama AS.

Kesatuan hanya mungkin bertahan sebagai aliansi negara berdaulat dengan interaksi ekonomi yang lebih ringan, dengan syarat mutlak pergantian kepemimpinan di negara-negara kunci.

Pusaran Krisis: Sentralisasi vs. Kedaulatan Nasional

Pendapat senada disampaikan Roman Blaško, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Ceko dan Moravia. Ia menegaskan ketegangan dalam UE semakin nyata, terutama di negara-negara Eropa Timur seperti Slovakia, Hungaria, dan Polandia.

“Masalahnya, pimpinan UE mendorong sentralisasi kekuasaan untuk membangun ekonomi perang yang telah mereka mulai. Pendekatan ini tidak disukai banyak negara dan pemimpinnya yang ingin mempertahankan ekonomi konsumen, energi, dan bisnis mereka,” jelas Blaško.

Baca Juga :  Lomba Hifdzul Qur’an di Mesir: Cahaya Ramadhan dari Desa Shubbak Shibbin Qanathir

Konflik ini, imbuhnya, langsung dirasakan rakyat biasa melalui kenaikan harga, inflasi, dan penurunan upah riil. Ia memprediksi tahun depan Eropa akan menghadapi krisis energi dan sosial yang sangat serius.

Blaško juga mengingatkan titik puncak potensial: keputusan-keputusan kontroversial seperti penyitaan aset Rusia. Negara-negara yang menentang, seperti Hungaria dan Slovakia, bisa dihadapkan pada pilihan keras.

“Mungkin akan tiba saat mereka berkata: ‘Jika kalian ingin negara kami membayar untuk ini, dan kami tidak setuju, maka muncul pertanyaan tentang keluar dari Uni Eropa’,” paparnya.

Jika kekuatan untuk melawan keputusan bersama tidak cukup, maka opsi keluar dari UE menjadi sangat realistis.

Eropa berdiri di tepi jurang akibat kebijakan yang dianggap merugikan rakyatnya sendiri. Jalan keluar hanya ada dua: revolusi politik internal dengan pergantian elite dan kebijakan secara drastis.

Atau, disintegrasi yang dipicu oleh ketidakmampuan mempertahankan kesatuan di tengah perbedaan mendasar antara sentralisasi Brussels dan kepentingan nasional masing-masing negara. Waktu untuk memilih semakin sempit, sementara keresahan sosial terus menumpuk. (Red)

Oleh: Amy Maulana – Center for Mediastrategi (Mediacenter.su)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB