Demam Korean Style pada Kebaya: Akankah Menjadi Pedang Bermata Dua bagi Budaya Asli Indonesia?

- Penulis

Kamis, 14 November 2024 - 06:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, JAKARTA – Annyeongha-Solo? Baru-baru ini, tren Kebaya Korea kerap diperbincangkan masyarakat muda. Kebaya berbahan dasar beludru dengan corak khas tradisional Jawa ini dimodifikasi dengan gaya crop-top dan bagian atasan yang memiliki potongan pendek serta mengekspos bagian perut atau pinggang.

“Sebenarnya, kebaya itu sangat boleh dimodifikasi, tetapi tetap harus memperhatikan pakemnya,”ujar Ernarini Indraswati, pemimpin LKP Ayu Busono, Tulungagung, Jawa Timur.

“Hanya saja, saat ini ada kebaya modern kebaya crop top ala Korea, tentu saja hal tersebut sangat menyalahi pakem,” tegasnya melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada dalam vokasi.kemdikbud.go.id, 24 Mei 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebaya Korea banyak dikritik oleh massa karena dianggap mencoreng budaya asli Indonesia. Melihat masa depan bangsa kedepan, hal tersebut dapat memicu perubahan sosial dalam cara mereka menghargai dan melestarikan pakaian adat asli.

Permasalahan sosial timbul ketika Kebaya Korea ini cenderung lebih digemari masyarakat dibandingkan kebaya tradisional.

Banyaknya desainer dan pengusaha menggunakan tren ini sebagai kesempatan pemasaran untuk kepentingan pribadi.

Hal ini terlihat dalam pergeseran perhatian dan peminatan pasar, dimana produk-produk asal Korea Selatan seperti Kebaya Korea seringkali mendapatkan tempat di hati konsumen, sementara kebaya tradisional mulai terpinggirkan.

Baca Juga :  Amanda Isti; Penyanyi Muda Boyolali, Luncurkan Single Akustik "Matursuwun Semarang"

“Tapi kalau kita bicara pakem tentu kita merujuk pada kebaya yang sudah diakui oleh warisan budaya tak benda Indonesia, dan itu adalah yang harus diikuti, “kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno, dilansir Tempo.co, 20 Juli 2024.

“Tapi kalau mereka mau memberi inovasi, dan menganggap ini adalah kebaya yang diadaptasi dengan beberapa tren kekinian, tentunya ini merupakan hak dari masing-masing desainer untuk melakukan kreasi,”ujarnya.

Pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama memanfaatkan keterampilan penjahit pakaian tradisional Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM.

Ilustrasi baju kebaya bergaya Korea/ pinterest

Alih-alih mengadaptasikan pakaian tradisional dengan budaya asing, kebaya Indonesia dapat dikembangkan guna menarik minat kancah internasional.

Hal ini dapat dilakukan dengan penambahan payet, permainan warna dan tekstur, atau variasi desain yang mengkontekstualkan kebaya sesuai dengan perkembangan zaman dan gaya hidup masa kini, dengan tetap mempertahankan esensi, pakem dan pola kebaya, sebagaimana mestinya.

Memanfaatkan peran besar media sosial dalam menghadapi globalisasi, pembuatan konten-konten kreatif mengenai berkebaya nusantara dan gerakan inovatif seperti tren “berkain”, yaitu gerakan oleh kalangan muda untuk membiasakan penggunaan kain-kain tradisional termasuk kebaya khas nusantara dapat turut dilakukan.

Baca Juga :  Lagi-Lagi, Pebalap Muda Indonesia Juara! Kiandra Ramadhipa Bikin Indonesia Raya Bergema di Jerman

“Kebaya yang sesuai pakem adalah kebaya yang pas di badan. Contohnya untuk kebaya kutu baru bagian bawahnya bisa lebih dilebarkan ataupun dikerut, asalkan tetap sesuai dengan ukuran badan.” lanjut Ernarini dalam pernyataannya, selaku pemimpin LKP Ayu Busono, Tulungagung, Jawa Timur, dalam vokasi.kemdikbud.go.id, 24 Mei 2024.

Pada dasarnya, budaya akan selalu berkembang mengikuti perubahan sosial yang terjadi. Budaya asli bangsa sangat boleh untuk diubah atau dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi harus tetap mempertahankan ‘pakem’ nya.

Kebaya korea yang telah diinternalisasikan dalam masyarakat harus dapat diimbangi dengan skala pembagian yang menunjukkan bahwa budaya asli bangsa lebih besar dibandingkan dengan budaya yang akan dikolaborasikan.

Mengikuti perkembangan zaman dengan memodifikasi kebaya tradisional menjadi modern adalah hal yang sah.

Akan tetapi, penting bagi masyarakat untuk mengenal dan mempertahankan kebaya tradisional sebagai warisan budaya bangsa, dan memperkenalkan keaslian budaya kebaya ini ke seluruh dunia. (Red)

Penulis: Laurel Eden Bungauli Hutagaol, Maria Stella Olivia, dan Jonathan Geraldo (SMA Kolese Gonzaga Jakarta)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 48 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB