Kenapa Banyak Tokoh Nasional Mendadak “Nongkrong” di Rumah JK? Ada Apa dengan Kepemimpinan Indonesia?

- Penulis

Senin, 9 Maret 2026 - 00:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah tokoh menggelar pertemuan dengan Wakil Presiden (Wapres) RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) di Kediaman JK, Jakarta, pada Sabtu (7/3/2026). (Foto: Sindonews.com)

Sejumlah tokoh menggelar pertemuan dengan Wakil Presiden (Wapres) RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) di Kediaman JK, Jakarta, pada Sabtu (7/3/2026). (Foto: Sindonews.com)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Rumah mantan Wakil Presiden RI dua periode, Jusuf Kalla (JK), mendadak jadi titik kumpul para tokoh nasional pada Sabtu (7/3/2026).

Bukan arisan elite, bukan pula reuni politik. Yang berkumpul justru para aktivis, akademisi, birokrat, sampai pengusaha—dengan satu tema besar: kegelisahan soal arah kepemimpinan Indonesia.

Pertemuan itu diinisiasi oleh Sudirman Said, yang terang-terangan mengaku prihatin melihat standar moral pemimpin yang dinilainya makin merosot.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Rektor Universitas Harkat Negeri itu, masalah terbesar bangsa saat ini bukan sekadar kebijakan, melainkan hilangnya sesuatu yang lebih mendasar: kepemimpinan intrinsik.

“Yang hilang adalah kepemimpinan yang lahir dari nilai—integritas, visi, kompetensi, kebijaksanaan, dan kemampuan menggerakkan perubahan,” kata Sudirman, Minggu (8/3/2026).

Ia bahkan menyebut, meski kini tidak memegang jabatan, JK tetap dianggap punya modal kepemimpinan moral.

“Pak JK sekarang bukan siapa-siapa secara posisi, tapi kepemimpinan intrinsiknya masih terasa karena integritasnya,” ujarnya.

Belajar dari “Sekolah Kepemimpinan” JK

Pakar hukum Universitas Andalas, Feri Amsari, mengungkapkan ada dua alasan utama mengapa para tokoh ini memilih berdiskusi dengan JK.

Baca Juga :  Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok

Pertama, pengalaman panjang JK—dari ketua partai, wakil presiden, hingga mediator konflik—dinilai penting untuk memahami krisis kepemimpinan yang kini juga melanda dunia.

“Pak JK selalu mengingatkan, pemimpin tidak boleh hanya mengandalkan insting apalagi yang serba instan,” kata Feri.

Kedua, mereka ingin membedah cara berpikir ekonomi dalam pengelolaan negara. Tujuannya sederhana: mencari resep agar Indonesia tidak salah arah di masa depan.

Analogi “Bus NKRI”: Sopirnya Prabowo, Penumpangnya Rakyat

Suasana diskusi makin “pedas” ketika perwakilan mahasiswa ikut bicara. Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, melontarkan analogi yang langsung mencuri perhatian.

Menurutnya, Indonesia saat ini ibarat bus besar bernama NKRI. “Sopirnya Prabowo, kernetnya Gibran, awaknya para menteri. Tapi jangan lupa, rakyat itu penumpangnya. Penumpang tentu berhak menegur kalau busnya mulai oleng,” ujarnya.

Ia bahkan menyindir kondisi “bus Indonesia” yang dinilainya sudah cukup reot dan perlu segera diperbaiki sebelum benar-benar kehilangan arah.

Dari CEO Media sampai ASN Muda

Baca Juga :  Indonesia Sekarang Ijinkan Pasir Laut Boleh Diekspor, Siapa 'Menang Banyak'?

Pertemuan di rumah JK itu juga mempertemukan banyak tokoh lintas sektor dan generasi.

Dari kalangan korporasi hadir Anton J. Supit, William Sabandar (IBC), hingga Arief Zulkifli (CEO Tempo).

Sementara dari masyarakat sipil dan akademisi tampak nama-nama seperti Diah Saminarsih (CISDI), Yanuar Nugroho (Nalar Institute), Titi Anggraeni (Perludem), dan Mandira Bienna Elmir (FIM). Beberapa ASN muda dari berbagai daerah juga ikut meramaikan diskusi.

JK: Ini Bukan Gerakan Menjatuhkan Siapa Pun

Menanggapi ramainya tafsir publik, Jusuf Kalla menegaskan bahwa pertemuan itu bukan manuver politik.

“Tidak ada pembicaraan yang bertujuan mengganggu, apalagi menjatuhkan,” tegas JK.

Menurutnya, diskusi seperti ini justru penting agar negara terus melakukan evaluasi kebijakan. Tanpa itu, Indonesia berpotensi menghadapi masalah serius ke depan—mulai dari dunia usaha, pendidikan, hingga sektor kesehatan.

Singkatnya, pertemuan di rumah JK ini mungkin bukan rapat resmi negara. Tapi dari obrolan santai itu, satu pesan terasa jelas: banyak orang mulai gelisah melihat arah kemudi “bus besar” bernama Indonesia. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 20 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB