Evan Raditya Rilis “o my KARMIC THREAD, my second skin”, Angkat Sains dan Reinkarnasi dalam Balutan Symphonic Rock

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Musisi Evan Raditya kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk “o my KARMIC THREAD, my second skin” (KARMIC THREAD).

Lagu ini menjadi eksplorasi musikal yang memadukan sains sebagai bahasa emosi dengan mitologi reinkarnasi dalam kemasan symphonic rock bernuansa pop.

Dikenal gemar mengangkat gagasan yang mengundang diskusi panjang, mulai dari sains, mitos, teori konspirasi hingga makna eksistensi, Evan membangun lagu ini dari sesuatu yang tak selalu terlihat, tetapi dapat dirasakan.

Ia mengibaratkannya seperti cahaya yang sejatinya sudah ada, namun baru tampak ketika tersebar. Begitu pula dengan perasaan, yang kadang baru terasa ketika jarak tercipta.

KARMIC THREAD lahir dari pertanyaan sederhana namun mengusik: bagaimana jika sebuah hubungan bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah lingkaran yang terus berulang?

Secara musikal, lagu ini dibingkai dalam warna symphonic rock dengan sentuhan pop. Repetisi lirik yang dihadirkan bukan hanya pemanis, tetapi menjadi bagian dari struktur utama. Lagu ini tidak berjalan lurus, melainkan berputar mengikuti konsep yang diusung.

Istilah ilmiah seperti Tyndall effect pun disematkan sebagai metafora. Dalam fisika, cahaya terlihat ketika tersebar oleh partikel kecil di udara.

Tanpa proses tersebut, cahaya tetap ada meski tak kasatmata. Bagi Evan, cinta dan kehilangan bekerja dengan cara serupa—baru terasa jelas ketika ada luka, jarak, dan ketidakhadiran.

Dalam proses produksi, tantangan terbesar adalah menyatukan visi konseptual bersama produsernya, Dyljon. Evan ingin kekuatan ide tetap terasa tanpa menghilangkan sisi emosional lagu.

Ia juga membagikan seluruh proses pengerjaan dan pengembangan konsep lagu ini melalui akun Instagram pribadinya, @evanraditya, sehingga pendengar dapat mengikuti perjalanan kreatifnya dari awal hingga selesai.

Secara lirik, “Karmic Thread” berbicara tentang benang takdir yang mengikat dua jiwa melampaui ruang dan waktu. Ikatan itu digambarkan terus kembali, bahkan di kehidupan berikutnya. Namun lagu ini tak sekadar meromantisasi takdir.

Pada chorus kedua, muncul keinginan untuk memutus lingkaran tersebut. Lalu di chorus ketiga, hadir keraguan dan dorongan untuk mengulanginya kembali. Kontradiksi itu menjadi refleksi manusia yang berada di antara menerima takdir dan mencoba mematahkannya.

Huruf “O” menjadi simbol penting dalam album keempat Evan bertajuk ONEIROMANCER. Repetisi bunyi “O” tersebar dalam lirik, membentuk gambaran lingkaran yang tak pernah benar-benar terputus.

Struktur lagunya pun dirancang melingkar—dari deklarasi, penyangkalan, hingga kembali lagi ke titik awal.

Detail paling personal hadir dari sebuah mimpi. Baris “But should I watch you play my new game?” di verse pertama muncul sesaat setelah Evan terbangun di pagi hari.

Ia segera mencatatnya sebelum menghilang, seolah lagu tersebut telah lebih dulu hidup di alam bawah sadarnya.

Lewat “o my KARMIC THREAD, my second skin”, Evan Raditya menyuguhkan refleksi tentang kehilangan, takdir, dan hasrat manusia untuk terus berjuang meski sadar lingkaran itu mungkin akan terulang kembali. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like