Oleh: Krisna Wahyu Yanuar, Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di ujung desa Karangsepi, dekat kuburan lama yang ditumbuhi ilalang dan pohon asem, tinggal seorang lelaki tua bernama Pak Wira.
Rumahnya kecil, berdinding gedeg, beratap genteng yang beberapa sudah retak. Setiap sore, setelah adzan Ashar berkumandang dari surau bambu, Pak Wira duduk di bangku kayu menghadap makam-makam sunyi itu.
Orang-orang desa bilang Pak Wira sedang menunggu mati.
Ia tak membantah. Tak juga mengiyakan. Ia hanya tersenyum, senyum yang tak lagi lengkap giginya, tapi penuh kesabaran.
Pak Wira dulunya petani biasa. Tak pernah jadi lurah, tak pula naik haji. Hidupnya datar, seperti ‘galengan’ sawah yang ia rawat bertahun-tahun.
Istrinya meninggal lima tahun lalu, anak-anaknya merantau dan jarang pulang. Sejak itu, waktunya seolah melambat.
Hari-hari berlalu dengan suara cangkul, ayam berkokok, dan doa-doa pendek yang ia hafal sejak kecil.
Suatu sore, aku—yang kebetulan pulang ke desa—menyapanya.
“Pak, kok tiap hari di sini?” tanyaku.
Pak Wira menatap makam istrinya, lalu berkata pelan, “Saya sedang belajar mati.”
Aku terdiam.
“Orang mengira mati itu urusan nanti,” lanjutnya. “Padahal tiap hari kita sedang menuju ke sana. Kalau tak belajar dari sekarang, nanti cuma kaget.”
Sejak hari itu aku sering menemaninya. Kami bicara tentang sawah yang kian sempit, anak muda yang enggan bertani, dan tentang Tuhan yang makin sering disebut tapi jarang dirasa hadir. Pak Wira tak pernah menggurui. Ia hanya bercerita, seperti air mengalir di parit.
Suatu pagi, ia tak keluar rumah. Bangku kayu di depan makam kosong. Ayam-ayam berisik tak diberi makan.
Aku masuk ke rumahnya dan menemukan Pak Wira terbujur kaku di atas tikar pandan. Wajahnya tenang. Seperti orang yang akhirnya sampai ke tempat yang sudah lama ia kenal.
Warga berdatangan. Ada yang menangis, ada yang membaca Yasin. Di antara bisik-bisik itu, aku teringat kalimatnya: belajar mati.
Di pemakaman, saat tanah menutup tubuhnya, aku tiba-tiba sadar: Pak Wira bukan menunggu kematian. Ia sedang memastikan bahwa ketika mati, ia benar-benar pernah hidup—dengan sabar, jujur, dan tanpa banyak tuntutan pada dunia.
Dan mungkin, di desa kecil itu, ia adalah satu-satunya orang yang benar-benar ada. (Red)